“Gudeg: Food for Soul”

Rabu, 14 Juli 2010

“Gudeg: Food for Soul”


Gudeg: Food for Soul

Posted: 14 Jul 2010 12:34 PM PDT

Gudeg adalah makanan kesukaan saya sedari kecil. Hidangan yang terbuat dari nangka muda, santan kelapa tua, gula jawa dan bumbu rempah-rempah, tidak pernah gagal menggoda saya untuk menambahkan nasi ke dalam piring. Setiap kali keluaga saya, lebih sering karena saya lagi mogok makan atau kepingin makan gudeg, kita sekeluarga pergi membeli gudeg di sebuah rumah makan. Ibu saya tidak pernah memasak gudeg sendiri, karena menurut beliau memasak gudeg itu merepotkan. Dan saya percaya saja kalau memasak gudeg itu merepotkan walaupun belum pernah mencobanya. Karena begitu mudahnya untuk mendapatkan gudeg kesukaan saya, ibu saya dan saya sendiri tidak pernah mencoba untuk memasak gudeg sendiri di rumah. Saya pun tidak punya kerabat atau teman dekat yang pernah membuat Gudeg sendiri. Mungkin karena kalau kita kepingin makan gudeg, kita tinggal beli saja. Jadi buat apa repot-repot belajar membuat gudeg sendiri.

Suatu ketika, saat saya masih muda belia, saya bertemu dengan mbok Wati (bukan nama asli, warung gudegnya sekarang cukup populer). Saya bertemu dengan mbok Wat di jalan Wijilan, Yogya. Pada waktu itu jalan Wijilan belum sepopuler sekarang. Walaupun sudah ada beberapa warung gudeg, dan rata-rata pembelinya masih penduduk lokal sekitar Yogya. Karena saya datang terlalu pagi, Mbok Wat sedang bersiap membuka warung gudeg dan mengundang saya masuk mengintip dapur gudegnya. Mbok Wat cerita bahwa resep yang digunakan adalah resep gudeg dari ibunya. Dan ibu mbok Wat yang selalu memasak dan mempersiapkan gudeg untuk dijual. Mbok Wat menunjukan 4 buah kendil tanah liat besar yang terletak diatas tungku api, gudeg itu dimasak secara perlahan menggunakan kayu bakar selama 3 hari 3 malam untuk mendapatkan rasa dan tekstur yang khas. Saya hanya bisa tertegun mendengar penjelasan mengenai proses memasak gudeg dari Mbok Wat. Lalu saya bertanya mengapa tidak memakai kompor gas agar bisa memasak lebih cepat. Tiba-tiba ibu mbok Wat muncul dari dalam rumah dan menjawab pertanyaan saya bahwa hasil yang didapat tidak akan sama. Beliau dengan sambil sedikit menggerutu mengatakan kadang-kadang yang lebih cepat tidak berarti lebih baik. Sambil melanjutkan, beliau mengatakan bahwa bisa masak lebih cepat memang berarti bisa menghasil keuntungan lebih banyak, tapi tidak sama hasilnya. Mbok Wat membisikan ke telingaku kalau ibunya tidak pernah menyetujui mengganti tungku kayu dengan kompor gas ataupun kompor minyak tanah. Saya tidak mengerti apa maksud Ibu Mbok Wat waktu itu, mungkin karena saya masih terlalu muda untuk memahami. Saya hanya merasa senang karena saya membawa pulang gudeg Yogya kesukaanku dan berkesempatan mengintip dapur gudeg, berasa seperti study tour jaman sekolah dulu.

Tujuh belas tahun kemudian, di negeri empat musim, tempat saya berimigrasi 4 tahun yang lalu. Rasa kangen tanah air kadang-kadang muncul terutama kangen akan masakan Indonesia. Walaupun ingin memasak makanan Indonesia tidaklah mudah karena cukup sulit menemukan bahan-bahan untuk memasak masakan Indonesia. Kita harus pandai-pandai menemukan pengganti bahan masakan, walaupun hasilnya tidak akan sama, tapi cukup mendekati. Kadang-kadang kita belanja kebutuhan sehari-hari di toko Asia (Asian Grocery store), kadang-kadang ke pasar lokal, dan kadang-kadang kalau kita butuh beberapa bumbu, kita belanja di toko India. Hal ini kita lakukan supaya kita mendapatkan bumbu masak yang kita butuhkan setiap kali kita memasak makanan Indonesia. Repot? pastinya. Tapi kita tetap lakukan agar rasa kangen kita sedikit terobati.

Dari sekian banyaknya makanan Indonesia yang telah saya masak. Tantangan terbesar buat saya adalah masak gudeg. Suami saya yang tergila-gila dengan masakan gudeg sejak kita terakhir berlibur ke Yogya mencoba membujuk saya untuk membuat gudeg. Pada awalnya saya sama sekali tidak bergeming, karena ragu akan kemampuan saya sendiri dan kesedian bahan-bahan gudeg. Namun semakin lama, saya merasa tertantang. Mulailah saya mencari tahu resep membuat gudeg lewat internet . Saya tidak menggunakan resep online yang di coba di Indonesia. Mengapa? Karena bahan dasar dan bumbu rempah untuk membuat gudeg tersedia dengan mudah di Indonesia. Di tempat saya tinggal, saya harus mencari bahan dasar pengganti apabila saya tidak bisa menemukan bahan yang sama. Maka saya menggunakan resep yang di gunakan seseorang yang tinggal di Swedia.

Mulailah saya berburu bumbu masak gudeg dan bahan-bahannya. Karena tidak ada nangka muda segar, maka saya membeli nangka muda dalam kaleng dan santan kalengan. Untuk bumbunya, sebagian saya temukan di Chinese Grocery store dan Indian Grocery Store. Bahkan saya temukan sebagian bumbu di supermarket yang biasa saya kunjungi. Berhubung di tempat tinggal saya tidak memungkinkan untuk memasak menggunakan kendil tanah liat dan kayu bakar selama 3 hari tiga malam. Selain melanggar hukum, saya juga harus bekerja. Maka saya menggunakan kompor gas dan panci stainless steel. Saya masukan semua bahan, dan masak dengan api kecil, sangat kecil. Perlahan masak, selama dua jam.

Setelah dua jam, gudeg pun siap di santap. Pertama kali tutup panci di buka, aroma khas gudeg tercium. Tidak begitu mirip, tapi mendekati. Tampilannya berbeda dengan Gudeg Yogya yang kering. Saya ambil sedikit dengan menggunakan sendok makan, untuk mencicipi rasanya. Manis, sedap, tapi ada sesuatu yang membuat saya merasakan sesuatu yang hilang. Bukan rasanya dan bukan penampilannya. Saya ambil lagi mencoba menebak apa yang hilang. Saya tidak bisa menemukannya. Awalnya saya pikir karena saya hanya mencicipi sedikit. Kalau cicipi dengan nasi hangat mungkin akan berbeda, walaupun sebenarnya tidak ada pengaruh secara langsung. Saya masukan nasi hangat ke atas piring, dan mulai menikmati nasi gudeg buatan saya. Saya tanya suami saya bagaimana rasanya, dia hanya bilang enak hanya saja memakan waktu yang lama untuk masaknya.

Ucapan suami saya membuat saya teringat ucapan ibu Mbok Wat dan mulai memahami maksud ucapannya. Terkadang saat saya masak, saya hanya ingin memasak yang simple dan cepat. Enggan rasanya kalau saya harus berburu bahan dan mempersiapkan bahan-bahannya, karena sudah cukup memakan waktu yang lama. Belum lagi waktu memasaknya. Saya lupa kalau memasak juga melatih kesabaran dan seni. Demikian juga setelah masakan siap di santap, sebaiknya kita menyantapnya perlahan karena kita ingin menghargai usaha dan menikmati saat kita menyantapnya. Seperti kata ibu Mbok Wat, hasilnya tidak akan sama kalau kita selalu ingin serba cepat. Ada saatnya kita harus berjalan perlahan, untuk menikmati moment penting dalam hidup. Saya pun menambah nasi dan gudeg ke dalam piring saya, dan menikmatinya. Perlahan.


Tags: Add new tag

Five Filters featured article: Headshot - Propaganda, State Religion and the Attack On the Gaza Peace Flotilla. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Diposkan oleh iwan di 13.10  

0 komentar:

Poskan Komentar