“Buat Apa Kita Puasa”

Minggu, 15 Agustus 2010

“Buat Apa Kita Puasa”


Buat Apa Kita Puasa

Posted: 15 Aug 2010 09:46 AM PDT

Hah! Buat apa puasa… kalau ujung-ujungnya kita umat Islam jadi manja. Karena kita puasa, yang lain wajib hormat sama kita. Non muslim dilarang makan di depan kita, yang punya usaha makanan dilarang jualan di siang hari bolong, lantas kalau mau maksiat tak boleh di bulan puasa, bulan-bulan lainnya? Boleh!

Harusnya kita umat muslim tak bisa manja seperti ini. Kalau niat ingsun puasa Karena Allah semata biar kata orang makan di depan hidung kita, disodorin makanan dan disuruh makan nanti dikasih imbalan sejuta, karena iman kita kuat, ya, prek, tetep kita tak bisa digoda!

Buat apa kita puasa… Bukankah intinya tujuan kita Puasa bisa merasakan bagaimana rasanya orang kelaparan, tapi dengan telengasnya kita membiarkan orang lain kelaparan! Karena apa? Karena orang yang tak puasa tak bisa menemui Rumah Makan, semua pada tutup atas nama Perda agar Rumah Makan menghormati Bulan Puasa. Non Muslim atau Musafir akan kelaparan apabila dalam perjalanan jauh tak menemui Rumah Makan buka. Kalau kita punya toleransi tinggi, tak bisa main larang orang jualan di bulan puasa! Silakan buka saja Rumah Makan kalian! Asal jangan mencolok mata, asal nanti THR Karyawan beres!

Buat apa kita puasa… kalau jadi konsumtif jadinya! Padahal makna puasa bukankah agar kita merasakan bagaimana rasanya jadi orang papa? Miskin tak punya apa-apa? Tapi kadang kita lupa… sahur harus dengan makanan enak. Alasannya, bangun tidur jam dua masa makan makanan basi sisa semalam? Masa makan hanya dengan lauk pauk sayur dihangatkan. Maka, biar Suami tak rewel, anak-anak mau sahur, Ibu Rumah Tangga memaksakan diri dengan memasak masakan enak! Begitu juga dengan saat buka, makan juga harus enak! Masa menahan lapar dari pagi subuh hingga Maghrib hanya makan nasi sama sayur kangkung. Masa minumnya hanya air putih. Maka dipaksakan makan dengan menu istimewa! Ada menu pembuka kayak kolak, ada minuman segar es campur atau sirop!

Padahal si miskin papa yang sebulanan nasibnya coba kita rasakan itu dengan kita berpuasa, bisa jadi sudah biasa kalau puasa atau hari biasa makan dengan apa adanya. Karena memang yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya saja. Masih syukur bisa buka puasa. Soal lapar atau sengaja menahan lapar sudah biasa pula. Jadi tak harus balas dendam begitu buka harus minum serba manis dingin, makan serba daging, dan dengan hidangan penutup pula!

Tak heran, karena kelakuan kita jugalah yang sok-sokan puasa, harga semua sembako jadi mahal! Dan kita harus mengamini saja ketika Sang Pemimpin Negeri ini lantas bilang, SUDAH WAJAR BULAN PUASA HARGA SERBA MAHAL!

Buat apa puasa… kalau menjadi alasan kita bekerja malas-malasan. Karena dini hari harus sahur, bangun dan jam 05 tidur lagi untuk bangun lagi berangkat kerja jam 07-an. Akibatnya badan lemas, loyo, mata mengantuk lalu produktifitas kerja menurun. Ah, pada Tukang Becak yang mangkal di perempatan jalan itu bisa jadi belum makan seharian, tapi jika ada penumpang dengan semangatnya mengayuh padahal perut kosong! Maka tak heran jika sering dijumpai Tukang Becak Tua mati dijok becaknya karena kelaparan dan kelelahan!

Jadi buat apa puasa kalau ujung-ujungnya begini-begini saja tiap tahunnya! Lama-lama puasa bukan kewajiban sebagai Umat Islam tapi tradisi!

Tags: hikmah

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Diposkan oleh iwan di 13.21  

0 komentar:

Poskan Komentar