“Gara-Gara Tuginem”

Sabtu, 21 Agustus 2010

“Gara-Gara Tuginem”


Gara-Gara Tuginem

Posted: 21 Aug 2010 07:21 AM PDT

Hari ini Tuginem melenggang jalan sendirian. Celana jeans ketat yang dikenakannya kelihatan terlalu besar untuknya. Ikat pinggang digunakan untuk menyangga agar jeans itu tidak kedodoran hingga berpotensi menciptakan kerusuhan lingkungan sekitar. Ikat pinggang itu melingkari perut Tuginem, kira-kira setelapak tangan di atas pusar. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu memperhatikannya. Dan Tuginem tersenyum ramah, karena menganggap semua orang pasti menyukai penampilannya dengan celana baru yang dibelinya saat masih bekerja di Malaysia.

"Mau kemana, Nem?" Tanya salah seorang tetangga yang kebetulan bertemu dengannya di terminal.  Tuginem menjelaskan kepada tetangganya kalau ia akan menyusul anak-anaknya yang kini sedang diajak bermain di kantor ayahnya. Tuginem bangga kalau kini suaminya sudah punya perusahaan sendiri. Bahkan suaminya kini jadi Bos, dengan sepuluh orang anak buah. Tuginem juga kepingin sekali melihat kantor milik suaminya itu. Beberapa meter sebelum sampai menuju kantor suaminya, Tuginem mengenakan kacamata hitam model mata kucing.

Tugino memang tidak lagi bekerja ikut borongan renovasi rumah bersama mandornya. Kebetulan bang Mandor memang sedang tidak punya order. Bujang, teman Tugino yang lain, punya sebuah toko kelontong yang cukup bagus dan ramai dikunjungi pembeli. Ia mengajak Tugino bekerja padanya, menunggu toko. Dari pada mengganggur, Tugino menerima ajakan Bujang. Sudah dua minggu Tugino bekerja di sini.

Tapi hari ini mungkin hari sial buat Bujang. Di hari minggu yang sibuk ini, banyak pembeli yang merasa terganggu dengan lalu-lalangnya anak-anak Tugino yang sedang main kejar-kejaran. Si sulung dan si tengah berteriak-teriak sambil berlari dari gang ke gang dengan wajah yang ceria. Sedangkan si bungsu asyik mengaduk-aduk tumpukan bungkus permen yang ada di rak makanan ringan. Tugino sendiri sedang menjalankan tugasnya sebagai pencatat barang-barang masuk dan keluar di pojok ruangan. Sudah lebih dari 21 kali Bujang melarang anak-anak Tugino agar tidak rusuh. Tapi sia-sia, mereka justru lebih liar setiap kali diperingatkan. Jika sekali diperingatkan mereka tambah liar sekali, maka jika sudah 21 kali diperingatkan, berarti mereka tambah liar 21 kali. Bujang stress!! Tugino saking sibuknya mencatat stock barang masuk dan keluar, sama sekali tak memperhatikan ekspresi Bujang yang cemberut saja sedari pagi.

Tuginem masuk melalui pintu otomatis yang bisa terbuka sendiri apabila akan dilewati. Ia berkali-kali menepuk-nepuk dadanya karena terkejut dengan pintu yang terbuka sendiri itu. tapi sebentar saja, ia sudah normal kembali. Dulu, waktu masih bekerja sebagai tenaga kerja di Malaysia, ia sering menemui pintu seperti itu. Ia melihat si kecil sedang menciptakan gunungan permen dari beberapa bungkus permen yang dibongkarnya. Beberapa biji permen berantakan di lantai dekat kaki si bungsu. Tuginem melewati si kecil yang sedang asyik dengan mainan barunya. Di ujung gang ia bertemu salah seorang pegawai toko dan langsung menyuruhnya memungut permen-permen yang berantakan itu. Pegawai toko yang disuruh Tuginem itu langsung menuju lokasi dan menjalankan perintah Tuginem. Tapi ia kembali menoleh ke arah Tuginem yang mendekati Tugino.

Bujang melihat Tuginem berbicara dengan Tugino sambil menunjuk ke beberapa arah. Tugino mengangguk-angguk seperti setuju dengan apa yang dibicarakan istrinya. Sedangkan Bujang bingung, sedang apa perempuan berkacamata hitam dengan karyawannya, Tugino. Iapun menghampiri mereka berdua dan dengan sopan bertanya kepada Tuginem, "Ada apa, bu? Apa yang bisa kami bantu?" Tuginem menoleh kepada Bujang dan menjawab dengan bibir bawah dimajukan ke depan, "Lho, kamu di sana saja, jaga anak saya jangan sampai ia bikin berantakan lagi! Aku ini istrinya Tuan Tugino, dan aku ke sini menanyakan tentang perkembangan usaha ini dan memberikan beberapa saran agar penataan ruangan toko ini bisa lebih bagus seperti di Malaysia!" Mendengar ocehan Tuginem, Bujang terkejut. Dahinya menciptakan goretan panjang seperti buku tulis tipis tebal. Bujang langsung menatap Tugino. Raut wajah Tugino jadi pucat seperti Tape Bandung yang kematangan.

Karena tidak mau terjadi keributan dan diperhatikan oleh pengunjung toko lainnya, Bujang menyingkir. Ia menuju ruang belakang, ruang kantornya sendiri. Belum sampai Bujang ke pintu ruangannya, Tuginem kembali berteriak, "Eh, Kamu macam mana? Kalo disuruh pake otak dong! Saya nyuruh kamu jaga anak saya, bukan ke situ!" Tapi Bujang tak menghiraukan cecaran Tuginem. Ia langsung masuk ke ruangannya dan mengetik surat.

Tugino minta Tuginem agak sopan sedikit dengan lelaki yang tadi dibentak-bentaknya. Tugino menyatakan kalau Bujang itu adalah bossnya. Tuginem terbelalak, dan memprotes Tugino, "Lha, kamu bilang kamu sekarang buka usaha sendiri dengan modal hasil togel 4 angka 20 lembar. Minggu yang lalu kamu nggak pulang empat hari karena kamu bilang rapat, rapat apa rapet? Sama siapa? Hayo ngaku!" Percekcokan suami istri itu makin menjadi-jadi. Segala hal yang ada pada perasaan Tuginem dihamburkan ke muka Tugino, segala yang ada pada pikiran Tugino dihempaskan ke muka Tuginem. Mulai dari urusan pekerjaan, gaji, menganggur, pernah kerja di luar negeri, ingin kembali ke luar negeri, hingga urusan privasi mereka berdua, diungkapkan dengan suara lantang tanpa menyadari kalau perilaku mereka membuat pengunjung seisi toko buyar. Tapi ada juga sih beberapa ibu-ibu yang ikut menyaksikan siaran langsung tersebut. Sedangkan anak-anak Tugino dan Tuginem masih asyik bermain pada dunianya masing-masing.

Tugino rupanya berbohong kepada Tuginem. Ia memang menang togel, tapi hanya dua angka dan dua lembar saja. Ia terlibat janji dengan Inah pelayan warteg untuk mengantarkannya pulang kampung ke Tegal. Untuk kesibukan barunya itu, Tugino yang juga baru mendapat tawaran kerja dari Bujang beralasan kalau kepergiannya dengan Inah dalam rangka rapat membangun toko kelontong dengan modal uang hasil pasang togel 4 nomor 20 lembar. Hebat sekali, mana pernah ada orang yang menang togel sebesar itu. Dari zaman pertama kali Togel dan sejenisnya dilaunching, belum pernah ada orang yang jadi kaya raya, kecuali bandarnya saja.

Tuginem yang merasa suaminya selalu jujur, ya percaya saja dengan "cerpen" Tugino tentang orang miskin yang menang togel lalu punya toko kelontong. Sikapnya yang seperti nyonya besar tadi karena yakin kalau suaminya memang benar telah membuka toko yang memang sudah kelihatan sendiri oleh matanya. Saking bangganya dengan kesuksesan suaminya, ia merasa bahwa derajatnya meningkat dan bisa seenaknya menyuruh anak-buah suaminya. Tuginem rupanya kepingin sekali-kali jadi majikan, seperti yang pernah ia rasakan ketika menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia dulu, dia sering diomelin sama majikannya. Dan ia berpikir saat ini, setelah suaminya jadi boss toko kelontong, iapun bisa bersikap seenaknya seperti majikannya dulu di Malaysia.

Bujang kembali keluar dari ruangannya dengan selembar surat yang telah ditandatanganinya. Tuginem memandang Bujang yang makin mendekat. Senyum Tuginem menanti kedatangan Bujang. Tapi buat Bujang, senyum itu malah membuat dunia ini semakin gelap. Beda dengan Tugino, ia menganggap senyum istrinya itu adalah sebagai salah satu "tanda-tanda akan datangnya hari kiamat". Ia yakin kalau surat yang dibawa Bujang adalah surat pemecatan untuk dirinya. Tugino sempat meminta maaf kepada Bujang, beberapa detik sebelum Bujang menyerahkan surat itu kepadanya. Tapi Bujang hanya meminta Tugino membaca suratnya tersebut. Tuginem masih melayangkan senyumnya kepada Bujang.

Tugino membaca surat itu dari awal hingga akhir, bertandatangan Bujang. Ia kembali meminta maaf dan memohon agar Bujang tidak mengeluarkannya. Tapi Bujang sudah terlanjur kecewa dengan sikap Tuginem. Bujang menyatakan kalau surat keputusan pemecatan itu didasarkan hanya pada satu sebab, yaitu karena : Tuginem! Sedangkan Tuginem masih saja melayangkan senyumnya kepada Bujang. Kacamata hitamnya disangkutkan di kepalanya.

Tanpa bersalaman dengan Bujang, Tugino melesat keluar meninggalkan toko, istrinya, dan anak-anaknya. Tuginem panik dan menyusul suaminya. sedangkan anak-anaknya masih asyik bermain pada dunianya masing-masing. Bujang makin menggeleng-gelengkan kepala. Ia kembali masuk ke ruang kerjanya dan menyalakan komputernya lagi. Tapi ia bukannya mau bikin surat buat anak-anak Tugino. Dia stress berat dan langsung saja online untuk menikmati situs "pemandangan alam".

Tags: Malaysia, TKI, Tuginem, Tugino, serial TnT

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Diposkan oleh iwan di 13.34  

0 komentar:

Poskan Komentar