“Sakitnya Nggak Seberapa, tapi Malunya Itu Lhoo”

Rabu, 18 Agustus 2010

“Sakitnya Nggak Seberapa, tapi Malunya Itu Lhoo”


Sakitnya Nggak Seberapa, tapi Malunya Itu Lhoo

Posted: 18 Aug 2010 09:21 AM PDT

kesandung di www.indowebster.web.id/showthread.php?t=101953&page=139

kesandung di www.indowebster.web.id/showthread.php?t=101953&page=139

Mari kita mulai dengan 'Kenapa'. 'Kenapa' untuk malam ini adalah : 'Kenapa setiap kali terjatuh karena tersandung atau kesrimpet, sakitnya nggak pernah terasa tapi malunya bisa bertahan sampai berhari-hari?'. Jadi ingat ucapan seorang teman bertahun-tahun yang lalu, "Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya itu lho!". Begitu yang digambarkannya ketika dia baru mengalami musibah jatuh di hadapan orang banyak saat sedang berjalan.

Baru saja itu terjadi pada saya. Saya terjatuh karena tidak melihat ada undakan tangga di hadapan saya. Dan memang untungnya tidak ada cidera berarti, walaupun pada saat itu saya sedang menggendong anak saya yang kecil. Tapi jangan tanya bagaimana malunya. Huaaa….

Rasanya besok-besok mungkin tidak akan ke sana dulu sampai orang-orang lupa akan kejadian itu. Hihihihi….lebay! Belum lagi, si Fadhil, anak sulungku, bukannya menolong, malah ikut sumbangan ketawa gratis. Owalaaah….

Jadi mikir, apa memang begitu ya kelakuan kita kalau melihat ada orang lain yang 'tersandung dan terjatuh'. Cenderung menikmati untuk menonton saja tanpa ada keinginan untuk menolong sedikitpun? Padahal kadang kejadiannya tepat di depan mata kita.

Sampai di mobil saya tanya Fadhil, kenapa malah tertawa bukannya menolong. Katanya, "Abis, lucu..orang gede bisa jatuh." Asseemm…

Jadi menurut dia orang yang 'layak' jatuh karena tersandung' itu cuma anak-anak. Hehehe…Menarik juga buat bahan pemikiran. Seorang anak kecil adalah manusia yang pengetahuannya masih terbatas. Adalah wajar jika dia masih 'asal' saja dalam melangkah dan sewaktu-waktu jatuh tersandung sesuatu yang luput dari penglihatannya. Berbeda dengan orang dewasa yang harusnya bisa lebih awas dan berhati-hati. Dengan pengetahuan yang sudah lebih banyak dan pengalaman hidup yang sudah lebih bertumpuk, memang seharusnya sebagai manusia dewasa kita bisa lebih aman dalam 'berjalan' untuk menghindari 'jatuh karena tersandung' dalam kehidupan kita.

Seandainya masih terjadi juga, apa namanya kalau bukan takdir? Lihat para koruptor yang tertangkap. Mereka layaknya tengah 'tersandung karena tidak berhati-hati dalam berjalan'. Lah, salah sendiri milih jalan yang salah, wajar saja 'jatuh'. Heran juga kan, dengan begitu banyaknya jalan aman dan halal dalam mencari segepok uang, kenapa masih memilih jalan 'aneh' dengan resiko 'terjatuh'. Kalau untuk yang satu itu, mau tidak mau saya akan ikut cara Fadhil, menertawakan mereka. Hahaha…

Lain cerita kalau sudah benar-benar berjalan dengan hati-hati, lalu masih 'jatuh' juga. Seorang anak yang pandai akan menangis tidak terima kenyataan kalau dia tetap saja jatuh walaupun sudah berhati-hati. Bagaimana kita sebagai manusia dewasa menyikapinya? Silahkan nangis juga kalau mau, tapi apa nggak malu? Pengetahuan kita yang katanya lebih luas dari anak-anak kenapa tidak dipakai? Segala hal yang terjadi atas diri kita adalah buah dari kerja keras, usaha dan doa. Rangkaian itu harusnya kita segel dengan pasrah menanti hasilnya dari yang Maha Kuasa. Artinya, apapun hasil usaha kita, terima lah dengan lapang dada. Masih merasakan 'jatuh' juga walaupun sudah berhati-hati dan memilih jalan yang paling aman sekalipun, mungkin itu pertanda Tuhan belum berkenan memberikan kesuksesan untuk kita di sana. Kenapa? Kan sudah usaha dan berdoa? Ah, rahasia Tuhan jangan dipertanyakan. Tapi mencari hikmah/nilai kebaikan atas apa yang terjadi adalah jembatan untuk menjadi manusia bijak.

Contoh kecil saja. Saya pernah buka toko pakaian muslim di rumah. Berharap dengan modal pas-pasan namun usaha yang giat, saya akan mendapatkan balik modal dalam waktu cepat ternyata gatot alias gagal total. Padahal semua usaha saya kerahkan, promosi lewat brosur dan selebaran, menempel spanduk di depan rumah termasuk memberikan diskon-diskon menarik menjelang hari Raya seperti saat ini. Hanya bertahan tiga bulan, usaha saya mandeg. Kenapa? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala saya. Bisa jadi usaha promosi saya kurang, bisa jadi tempat usaha yang ada di rumah juga kurang strategis, bisa jadi pakaian yang saya jual tidak sesuai dengan target pasar yang ada di lingkungan saya. Banyak analisa pemasaran yang berkembang pada akhirnya. Namun pada akhirnya kesimpulan saya cuma satu, rejeki saya belum ada di sana.

Berbekal kesimpulan yang sepertinya bunyinya nrimo banget itu, saya mulai berbenah. Mencari-cari celah untuk bertahan atau banting stir. Akhirnya saya banting stir dengan berjualan tiket pesawat dari rumah. Ini tampaknya lebih masuk akal untuk saya yang bisa 24 jam online di depan komputer sambil mengawasi anak-anak di rumah. Alhamdulillah, ternyata ada rejekinya di sini, walaupun  belum banyak juga. Mungkin kemarin Tuhan tidak memberi saya rejeki dari membuka toko, takut saya lupa waktu dan anak-anak malah keteteran tak terurus. Bisa jadi.

Apapun itu, menyikapi 'kejatuhan' dalam hidup memang harus bijaksana. Tidak perlu malu atau sedih berlebihan, apalagi kalau itu terjadi karena memang ada andil kesalahan atau kekeliruan kita di dalamnya. Yang penting kita bisa bangkit kembali untuk berdiri setelah jatuh dan jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Duh, mau curhat abis jatuh aja, ngalor ngidulnya ke mana-mana. Nutupin malu sih ini, masih ingat diketawain anak sendiri tadi. Hiks!


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: "Peace Envoy" Blair Gets an Easy Ride in the Independent.

Diposkan oleh iwan di 13.29  

0 komentar:

Poskan Komentar