“Brooklyn Bridge dan Sebuah Tekad”

Sabtu, 18 September 2010

“Brooklyn Bridge dan Sebuah Tekad”


Brooklyn Bridge dan Sebuah Tekad

Posted: 18 Sep 2010 02:11 AM PDT

Brooklyn Bridge

Brooklyn Bridge

Tentu saja secara langsung tidak akan ada hubungan antara sebuah jembatan dengan tekad. Tapi untuk cerita ini ada. Kita akan bahas Jembatan Brooklyn terlebih duhulu. Brooklyn Bridge ini adalah salah satu jembatan gantung tertua di Amerika yang selesai dikerjakan pada tahun 1883. Jembatan ini berada di New York City yang menghubungkan antara Brooklyn dan Manhattan.

Hebatnya, jembatan dengan total panjang 1825 meter, lebar 26 meter ini pernah memegang rekor sebagai jembatan gantung terpanjang di dunia sampai tahun 1903 dan merupakan jembatan pertama yang menggunakan baja sebagai kawat gantung jembatannya. Dan sampai sekarang, jembatan ini menjadi salah satu ikon nasional Amarika. Saking indahnya, tak heran kalau sutradara-sutradara tenar Hollywood sering menggunakan view jembatan ini sebagai lokasi shooting, salah satunya adalah film Spiderman 1, ketika Spiderman tertarung melawan Green goblin di jembatan ini.

Insinyur gila yang mendisain jembatan ini adalah John A. Roebling. Kenapa disebut gila?? Karena tidak ada yang percaya bahwa sebuah jembatan bisa didirikan di atas sungai East River ini. Itu adalah ide yang sangat gila pada waktu itu.

John Augustus Roebling (1806–1869)

John Augustus Roebling (1806–1869)

John A. Roebling dengan nama lengkap Johann August Röbling yang lahir di Műhlhausen, Jerman pada 12 Juni 1806 dan meninggal pada 22 Juli. Dia adalah seorang insinyur teknik sipil yang telah membangun banyak jembatan gantung di Amerika. Tapi tidak pernah dibayangkan oleh para ahli pada saat itu untuk membangun sebuah jembatan mimpi yang didesain oleh John A. Roebling di NYC.

Untuk pekerjaan berat ini, dia bekerja sama dengan anak sulungnya, Washington Augustus Roebling. Dengan semangat pantang menyerah yang tidak kenal lelah, ayah anak ini mendesain dan mengembangkan teknik jembatan spektakuler dibayang-bayangi oleh cibiran oleh para insinyur lain waktu itu, yang menganggap pekerjaan mereka sia-sia belaka. Akhirnya dengan usaha keras, mereka mempekerjakan crew mereka sendiri dan mulai membangun jembatan impian mereka.

Tapi nasib berkata lain. Katika sedang bekerja, sang ayah mengalami kecelakaan di kakinya, terkena ferry yang lewat di sungai ketika sedang berdiri di ujung dock, sehingga harus diamputasi. Tetapi John A. Roebling menolak pengobatan lebih lanjut secara medis dan akhirnya meninggal tak lama kemudian.

Tak lama dari kejadian itu, Washington juga mengalami Decompression sickness, yaitu berkembangnya gelembung-gelembung di dalam tubuh, disebabkan terlalu lama tertekan di bawah air (pembangunan fondasi jembatan di bawah air) ditambah kerja yang berlebihan, menyebabkan sakit yang sangat fatal bagi Washington.

Setelah akhirnya dia tidak bisa lagi bekerja di lokasi pembangunan dan harus terbaring lemah di rumah sakit karena kelumpuhan yang dideritanya, pembangunan sempat terbengkalai karena para pekerjanya tidak percaya bahwa proyek mustahil ini bisa dilanjutkan, ditambah dengan kelumpuhan yang dideritanya, bahkan berbicara saja tidak bisa.

Di balik bayang-bayang pandangan negatif orang terhadap dirinya, ia tetap punya keinginan kuat untuk tetap melanjutkan proyek itu. Walaupun tubuhnya lemah tak berdaya, tetapi daya pikirnya msih secemerlang dulu.

Ketika terbaring lemah di rumah sakit, angin sepoi basa dengan lembut menyapanya ditambah sambutan sinar matahari yang hangat, menjadi tanda baginya untuk tetap melanjutkan misinya. Ia bertekad untuk menyelesiakan proyek itu apapun yang terjadi.

Gambar rencana untuk satu menara Brooklyn Bridge, 1867

Gambar rencana untuk satu menara Brooklyn Bridge, 1867

Hal yang hanya bisa dia lakukan adalah menggerakkan jari tangannya, dan ia berencana akan menggunakannya semaksimal mungkin. Ia mengetukkan jari tangannya ke tangan istrinya dan menyuruhnya untuk memanggil para teknisinya lagi. Kamudian ia memberi instruksi tentang apa saja yang akan dilakukan oleh para teknisinya dengan mengetuk-ketukkan jarinya ke tangan istrinya dan istrinya menerjemahkannya kepada para taknisinya. Kelihatannya memang mustahil, tapi proyek akhirnya tetap berjalan.

Di bawah bimbingan suaminya, istrinya Emily Warren Roebling mempelajari matematika tingkat atas, pengukuran kurva, teori-taori kekuatan bahan-bahan, spesifikasi sebuah jembatan, dan kontruksi kabel penyangga, dll. Jadi, selama 11 tahun, istrinya membantu Washington sebagai asistennya dan menjadi supervisor pembangunan jembatan itu. Sehinnga pada akhirnya setelah 13 tahun sejak kejadian itu, jembatan spektakuler itu di buka secara resmi pada tahun 1883. Jika tanpa bantuan istrinya yang tetap setia mendampingi dan bahkan mau belajar teknik demi mimpi sang suami, mungkin jembatan kebanggaan Amerika ini juga tidak akan berdiri semegah ini sekarang.

Tidak ada yang mustahil ketika kita berkerja keras dengan tekad dan semangat yang luar biasa dengan mongorbankan dan memaksimalkan segala hal yang kita miliki untuk meraih apa yang kita impikan, biar apapun pandangan orang lain terhadap kita. Sekarang, Jembatan Brooklyn berdiri dengan megahnya, sebagai monument dan bukti bahwa tekad dapat mengalahkan kemustahilan hidup.

* semua foto dan artikel diambil dari wikipedia.com dan www.cbsforum.com

Foto Brooklyn Bridge ketika malam

Foto Brooklyn Bridge ketika malam

Tags: semangat, mustahil, mimpi, tekad, jembatan brooklyn

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Diposkan oleh iwan di 13.05  

0 komentar:

Poskan Komentar