“Ikut Bazar, Manisnya Omzet Madu Bisa Capai Rp100 Juta - economy ...

Senin, 13 September 2010

“Ikut Bazar, Manisnya Omzet Madu Bisa Capai Rp100 Juta - economy <b>...</b>”


Ikut Bazar, Manisnya Omzet Madu Bisa Capai Rp100 Juta - economy <b>...</b>

Posted: 13 Sep 2010 02:23 AM PDT

Madu, siapa yang tidak mengetahui khasiat minuman alami dari perut lebah ini? Beragam khasiat dan manfaat bisa diperoleh dengan meminum cairan manis nan kental ini.

Produk yang kaya antioksidan ini tentunya berguna untuk meningkatkan kesehatan fisik dan daya tahan tubuh, membantu memperlambat proses penuaan, memperbaiki tatanan jaringan kulit, meningkatkan daya konsentrasi dan daya ingat, bahkan disebutkan berkhasiat untuk meredakan stress atau depresi akibat kelelahan.

Selama ini mungkin Anda hanya terpaku menikmati rasa manisnya dan mengagumi khasiat madu. Tapi pernahkan terpikir oleh Anda betapa berpotensinya madu untuk dijadikan sebagai peluang bisnis?

Seorang perempuan bernama Sherly mampu melihat peluang bisnis madu ini. Sejak lima tahun lalu, sekira 2005, dia mampu menjalankan bisnis madu, hasil inisiatif sang suami. Sang suami yang juga seorang wiraswasta mengajaknya untuk mengelola usaha madu hutan asli Sialang, Riau.

"Usaha madu ini sudah sejak lima tahun yang lalu. Awalnya suami saya yang menawarkan. Melihat saya sering lelah akibat kerja kantoran, dia merasa tidak tega dan menganjurkan agar saya mencoba berbisnis sendiri saja. Ya, saya coba saya jalani saja. Ternyata, menyenangkan juga," tutur perempuan mantan karyawan kontraktor ini, kepada okezone, belum lama ini.

Untuk mengelola usaha madu ini ternyata tidak melulu harus dengan membangun atau mempunyai toko sendiri. Seperti halnya yang dilakukan Sherly, dia lebih memilih memasarkan produk jualannya itu melalui berbagai acara bazar, ketimbang harus memiliki toko sendiri.

Selain hemat biaya,menurutnya, melalui bazar dia bisa lebih banyak memperoleh pelanggan baru.

"Justru dari bazar ini lebih enak (memasarkan dan menjual), karena kalau toko itu kan hanya berupa barang diam, sementara bazar itu kan sifatnya bergerak, berpindah-pindah lokasi. Jadi, sudah pasti (ada penghasilan dan keuntungannya)," ujarnya.

Mulanya dia mengikuti acara-acara bazar karena diinformasikan dan diajak temannya. Lalu dia pun banyak berkenalan dengan pengisi stand bazar tersebut.
 
Dari perkenalan dengan para pengisi stand itulah selanjutnya dia sering memperoleh informasi akan adanya sejumlah acara bazar. 

"Ikut bazar sudah hampir tiga tahun ini. Awalnya tahu dari teman, lalu saya banyak berkenalan dengan pengisi-pengisi stand bazar tersebut, sehingga jadi banyak informasi dari mereka, ya selanjutnya mengalir saja. Dalam satu bulan, saya bisa mengikuti tiga kali bazar, biasanya di awal dan akhir bulan dari kantor ke kantor," bebernya.

Dia mengatakan, dengan menjual seharga Rp50 ribu per botol, dalam tiga hari omzetnya bisa berjumlah sekira Rp2,5 juta pada bazar-bazar hari biasa.

Namun, pada Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang berlangsung tiap tahun selama sebulan ini ternyata dia bisa menerima omzet lebih dari Rp100 juta.

"Di PRJ, omset saya bisa mencapai Rp100 juta. Per harinya bisa mendapat Rp7-8 juta, lebih dari 100 botol laris terjual," ungkapnya.

Dengan semakin meningkatnya omzet usahanya itu, dia pun mengaku makin menikmati menjadi pebisnis. Tidak seperti menjadi karyawan yang harus bergantung pada gaji yang diberikan orang lain, dengan membuka bisnis sendiri dia malah bisa menggaji karyawannya yang kini telah berjumlah 10 orang.

"Lebih enak usaha atau dagang sendiri daripada jadi karyawan, karena saya bisa mengaturnya sendiri. Apalagi yang biasanya saya menerima gaji, sekarang saya malah bisa  memberi gaji ke orang lain. Beda aja rasanya," imbuhnya.

Meski dia mempunyai karyawan penunggu stand bazarnya (sales promotion girl/SPG), menurutnya bukan berarti dia hanya melenggang dan menerima hasil penjualannya.

Dia menuturkan, setiap kali bazar dia pasti akan tetap datang memantau stand usahanya itu. Bukan berarti tidak pecaya kepada karyawannya, tapi menurutnya pembeli akan lebih tertarik bila dijamu oleh pemiliknya langsung.

"Setiap bazar saya selalu datang. Karena tidak bisa hanya mengandalkan SPG. Apalagi pembeli lebih tertarik bila langsung berhadapandengan pemiliknya langsung ketimbang karyawan," tukasnya.

Meski usaha madunya ini sudah mengalami banyak kemajuan, tapi menurutnya bukan berarti dia tidak mengalami kendala satu pun.

Hambatan, katanya, pasti selalu ada, terutama bila pasar lagi sepi dan lesu. Dia mengatakan, bila dalam kondisi pasar sepi tersebut, omzetnya bahkan bisa menurun hingga 50 persen.

Tapi kendala tersebut menurutnya tidak terlalu dipikirkan. Dalam berdagang, menurutnya pasti ada kondisi pasang-surut. Jadi, dia pun pantang menyerah.

"Ya, pantang menyerah saja, jangan putus asa, harus semangat. Naik-turun dalam berdagang itu hal yang biasa," ungkapnya.

Usaha Sandal Gabus

Selain mengelola usaha madu, sejak 2007 pun dia juga mulai menjalankan usaha sandal gabus. Tak hanya menjual ukuran anak-anak, sandal gabusnya pun bisa dipakai untuk orang dewasa.

Tak ayal dalam tiap bazar yang diikutinya dia tidak hanya menawarkan produk madunya, tapi juga sandal gabus.

"Usaha sandal gabus ini sejak sekitar 2007. Ini sebenarnya usaha keluarga, saya hanya bantu turut memasarkannya," ujarnya.

Dengan mematok harga Rp25 ribu sampai Rp35 ribu per sandal, menurutnya sekitar 10 pasang per hari bisa laris terjual.
 Dia pun mengaku tidak tertarik untuk menjualnya secara grosiran. Alasannya, untuk menghindari penipuan dan tetap ingin fokus pada usaha madunya.

"Kalau penjualan sandal gabus ini tidak terlalu kami targetkan. Sehari bisa terjual kurang lebih 10 pasang," imbuhnya.

Meski terbilang bisnis sandal gabusnya ini tidak selaris usaha madunya, tapi upaya dan inisiatifnya untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan bisnisnya itu patut kita acungkan jempol.

Bila Sherly tidak menyesal berganti profesi menjadi wiraswasta serta memilih usaha madu dan sandal gabus, bagaimana dengan Anda?(ade)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Diposkan oleh iwan di 13.37  

0 komentar:

Poskan Komentar