“Cita Rasa China dengan Label Muslim”

Rabu, 17 November 2010

“Cita Rasa China dengan Label Muslim”


Cita Rasa China dengan Label Muslim

Posted: 17 Nov 2010 12:05 PM PST


TAK ada yang mencolok dari penampilan warung berukuran sekitar 6 x 6 meter persegi itu. Bentuknya sederhana,tampak depan sejajar dengan toko lainnya yang menjual pakaian di sebelahnya.Hanya, di papan nama yang bertuliskan Lanzhou (China Utara),daging dan mi (yang ditulis dengan aksara China), terdapat kata ''halal'' dalam huruf Arab,yang menandakan rumah makan tersebut bebas dari olahan daging yang diharamkan dalam hukum islam,seperti babi.

Pemilik warung tersebut adalah suami-istri dengan dua anak. Sopia, 30, sang istri,dan suaminya, Sulimane, 40. Keduanya berasal dari daerah yang sama, yakni Provinsi Xing Hai, China, dan sudah tujuh tahun menjalankan usaha rumah makan muslim itu. Sopia dan Sulimane beragama Islam. Terinspirasi membuka rumah makan yang kini menjadi mesin uang keluarga itu karena belum terdapat rumah makan di wilayah Yang Ji yang benar-benar menjual makanan bebas dari daging babi.

Apalagi,Yang Ji merupakan kawasan niaga yang banyak berdiri hotel. ''Kami buka mulai pukul 10.00 (waktu Guangzhou atau pukul 09.00 WIB), dan ditutup pukul 22.00,"ujar Sopia. Untuk menjalankan usahanya, Sopia mempekerjakan sanak saudaranya sebagai juru masak dan pelayan.Mereka juga mengaku sebagai pemeluk Islam. Sopia sengaja merekrut mereka untuk menjaga kepercayaan.

Jenis menu yang dijual sangat beragam, mulai masakan mi dengan aneka olahan, seperti mi ayam goreng,mi kuah ayam,mi bebek goreng,hingga mi ayam bakar. Ada pula nasi dengan berbagai olahannya, seperti nasi goreng ayam,nasi putih dengan olahan menu terpampang di dinding dengan harga seporsi besar plus minuman ringan 15 yuan (sekitar Rp20.000). Rasanya? Jangan dibandingkan dengan chinese foodyang ada di Indonesia.

Sebab, di rumah makan ini racikan dan bumbunya menggunakan bahan khas China. Sambal yang tersedia pun bukan sambal cabai seperti di Indonesia,tapi merica yang dicampur dengan minyak dan biji wijen.Aroma cukup menyengat dengan rasa yang kuat di lidah. Kendati ditujukan untuk kaum muslim, rumah makan ini justru kerap didatangi pengunjung nonmuslim.

John Zhau yang ditemui seusai menyantap hidangannya menyatakan rasa makanannya enak dan cocok dengan lidahnya. ''Saya bukan muslim, tapi makanan ini cocok dengan selera saya," kata pekerja di sebuah showroommobil di seputaran Yang Ji ini. Yang pasti, keberadaan rumah makan itu sangat membantu wartawan asal Indonesia yang mayoritas pemeluk Islam.(*)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Diposkan oleh iwan di 13.27  

0 komentar:

Poskan Komentar