“Prostitusi Berkedok Warung Kopi - Sriwijaya Post”

Selasa, 09 November 2010

“Prostitusi Berkedok Warung Kopi - Sriwijaya Post”


Prostitusi Berkedok Warung Kopi - Sriwijaya Post

Posted: 09 Nov 2010 05:50 AM PST

KAYUAGUNG - Sebuah gubuk di pinggir Jalintim kawasan Teluk Gelam, Kabupaten OKI, tidak pernah sepi dari aktivitas pengunjung.

Gubuk yang buka siang dan malam itu diduga melayani praktik prostitusi dan dari luar berkedok warung kopi. Ironisnya, gubuk ini terletak hanya sekitar 200 meter dari Kantor Camat Teluk Gelam.

Pemilik gubuk, Sri alias Mami (50) yang dibincangi wartawan, Selasa (9/11) mengaku, tamu yang minum kopi di warungnya umumnya sopir mobil maupun pengendara kendaraan roda dua yang kebetulan mampir karena dekat dengan Jalintim.

Ketika dipancing apakah menyediakan pelayan, Mami mengakui, ada beberapa wanita relatif muda siap bila tamu minta dilayani.

"Saya hanya membuka warung kopi. Kalau mereka (wanita pelayan) mau melayani tamu silakan saja," kata Mami seraya menyebutkan, dia sudah 25 tahun membuka usaha warung kopi plus itu.

Gubuk yang berkedok warung kopi tersebut di belakangnya dilengkapi beberapa kamar ukuran 1,5 x 2 meter, dan ada empat wanita yang mengaku bekerja sebagai pemuas nafsu.

"Mau minum apa mas, atau mau ke kamar ada di belakang," tanya seorang pelayan yang mengaku meskipun ada razia kepolisian dan Pol PP tidak jadi soal, karena itu urusan maminya, karena sudah ada uang keamanan bulanan.

Setelah diinformasikan, jajaran Polres OKI bersama Satpol PP Pemkab OKI dan instansi terkait, Senin (8/11) malam menggelar razia di beberapa kawasan yang dicurigai menggelar praktik prostitusi di sepanjang Jalintim wilayah OKI.

"Kami setiap bulan diminta uang keamanan, tapi masih saja dirazia," celetuk seorang wanita pelayan gubuk plus yang diamankan di Kantor Satpol PP OKI. (std)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Beyond Hiroshima - The Non-Reporting of Falluja's Cancer Catastrophe.

Diposkan oleh iwan di 13.27  

0 komentar:

Poskan Komentar