“Satu Jam, 19.500 Tiket LPI Ludes”

Sabtu, 08 Januari 2011

“Satu Jam, 19.500 Tiket LPI Ludes”


Satu Jam, 19.500 Tiket LPI Ludes

Posted: 08 Jan 2011 01:13 PM PST

LPI PERDANA - Pesepak bola Persema Malang, Irfan Bachdim (atas) diantara tiga pemain Solo FC pada laga perdana Liga Primer Indonesia (LPI) yang berlangsung di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (8/1). Foto bawah, antusiasme penggemar bola tertib mengikuti antrian sebelum laga pembuka dimulai. Foto: tribun jogja

SOLO | SURYA - Ternyata luar biasa antusiasme penonton Liga Primer Indonesia (LPI) yang oleh PSSI dianggap ilegal tersebut. Sebanyak 19.500 tiket yang disediakan panitia untuk menyaksikan pembukaan dan laga perdana LPI di Stadion Manahan Solo, Sabtu (8/1), habis satu jam setelah loket dibuka.

Masih ada ribuan penonton yang telanjur antre akhirnya tidak bisa masuk stadion untuk menyaksikan laga Solo FC melawan Persema Malang. Ribuan penonton tersebut berjubel di pintu-pintu pagar stadion. Sebagian telah antre sejak pagi, padahal loket baru buka sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka tetap berharap bisa masuk ke dalam stadion namun akhirnya terpaksa membubarkan diri.

"Tiket telah habis satu jam setelah loket dibuka. Bahkan untuk tiket VIP seharga Rp 50.000, begitu loket buka sudah dinyatakan habis," ujar Bagus, salah seorang penonton yang gagal masuk.

Ribuan penonton dari berbagai usia dan kalangan itu pun merasa kecewa. "Kami bersama teman-teman mahasiswi Universitas Muhamadiyah Surakarta ingin melihat pertandingan tim Solo FC melawan Persema Malang, tetapi tiket habis terpaksa hanya di luar stadion," kata Evi Safitri.

Menurut Evi, dirinya bersama empat temannya sudah datang di Stadion Manahan sekitar pukul 14.00 WIB, tetapi petugas loket karcis mengatakan, tiket habis. "Saya kecewa tidak dapat masuk stadion. Padahal, saya ingin melihat pemain nasional Irfan Bachdim secara langsung di lapangan," kata Evi.

Senada dikatakan, Agus Wibowo (30) asal Sragen yang mengaku kecewa tidak mendapatkan tiket masuk, karena keburu habis terjual sejak siang hari. Padahal, rombongannya dari Sragen sudah datang ke stadion sekitar pukul 13.30 WIB.
Menurut dia, dirinya melihat jumlah penonton yang datang di stadion sangat penuh, mereka ingin melihat permainan kesebelasan Solo FC yang baru dibentuk itu. Selain itu, kata dia, ingin sekali melihat permainan Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan, dua pemain naturalisasi Persema.

Menurut Yuni yang mengaku siswa SMAN di Sukoharjo, datang ke stadion ingin melihat pemain kesayangannya Irfan Bachdim namun gagal karena kehabisan tiket. "Saya hanya melihat Irfan di televisi saat membela Timnas. Namun, impian ingin melihat langsung Irfan di stadion tidak kesampaian," katanya.

Humas LPI Abi Hasantoso mengatakan, pihaknya minta maaf kepada masyarakat di Solo yang tidak dapat tiket masuk. LPI ini, baru saja digelar pertama kali, sehingga ke depan panitia akan lebih baik.

Menurut dia, LPI dalam pertandingan perdana ini sudah menyediakan sekitar 19.500 tiket masuk, dan ternyata animo masyarakat sangat besar untuk menyaksikan era baru sepak bola Indonesia. "Animo masyarakat sangat besar terhadap LPI, jumlah penonton yang memadati Stadion Manahan Solo, sekitar 22.000 orang," katanya.

Era baru
LPI yang beranggotakan 19 klub diyakini menjadi era baru industri sepak bola Indonesia. LPI adalah kompetisi sepak bola profesional dan mandiri karena tidak dibiayai APBD sebagaimana sebagian besar klub Liga Super Indonesia (ISL). Namun, Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) menyebut LPI ilegal dan meminta Mabes Polri tak memberikan izin pertandingan. Toh, Polri tetap mengeluarkan izin setelah LPI direstui Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) –lembaga di bawah Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Meski pemerintah dan kepolisian mengizinkan penyelenggaraan LPI, namun PSSI belum bisa menerima penyelenggaraan liga tersebut. Bahkan, menurut Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, melaporkan LPI ke FIFA. "Pagi ini saya tahu dari media bila PSSI mengadu ke FIFA," kata Andi dalam diskusi Meneropong Indonesia 2011, di Warung Daun, Sabtu (8/1).

Andi mengaku tidak keberatan PSSI mengadu ke FIFA. "Silakan saja." Bahkan dia mempersilakan bila FIFA memiliki keputusan yang berbeda dengan pemerintah. Ia juga tak gentar ancaman FIFA yang akan menjatuhkan sanksi kepada sepak bola Indonesia.

Menanggapi kabar pengaduan PSSI ke FIFA itu, pengamat politik yang juga pecinta sepak bola, Sukardi Rinakit menilai laporan itu bisa menjadi bumerang untuk Nurdin. Sebab, FIFA memiliki dua aturan tegas dalam kepengurusan sepak bola. Pertama, sumber dana kepengurusan sepak bola tidak boleh dari anggaran pemerintah daerah dan kedua, pengurus sepak bola tidak boleh orang pernah terkait pidana. "Untuk poin pertama, LPI jelas unggul. Dan aturan kedua, kemungkinan akan melemahkan posisi Nurdin sebagai ketua umum," ujar dia.

Manajer Tim Nasional saat Indonesia menyabet emas SEA Games 1991 I Gusti Kompyang Manila meminta pecinta sepak bola Indonesia tidak gentar akan ancaman FIFA. "Kalau perlu keluar dari FIFA," ujar purnawirawan bintang dua ini di Kantor Indonesia Corruption Watch, Sabtu (8/1). "Bung Karno saja berani keluar dari PBB, masak kita tidak berani keluar dari FIFA."

Seperti diberitakan sebelumnya, FIFA mengancam akan memberikan sanksi pada Indonesia bila kompetisi LPI jadi digelar, Sabtu (8/1). Ancaman itu diungkapkan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan FIFA, Thierry Regenass, di Doha, Qatar, Jumat (7/1).

Direktur Hukum dan Peraturan PSSI, Max Boboy mengaku telah menduga FIFA bakal memberikan sanksi pada Indonesia apabila LPI tetap bergulir tanpa seizin PSSI. Bila sepak bola Indonesia benar-benar mendapat sanksi, kata Boboy, pemerintah yang harus bertanggung jawab. "Saya sudah bilang pemerintah jangan ikut campur, kalau kita dapat sanksi itu semua gara-gara pemerintah," kata Boboy.

Namun menurut Manila, LPI tidak menyalahi aturan. "Pemerintah sudah beri jalan tengah, agar liga bisa berjalan seperti Galatama dan Perserikatan dulu," kata Manila.

FIFA terkenal anti segala hal yang dinilainya sebagai intervensi pemerintah. Brunei Darussalam diskorsing dua tahun dari pertandingan internasional karena intervensi Kesultanan dalam sepak bola mereka. "Kalau dihukum seperti itu malah bagus, selama dua tahun kita bisa mengevaluasi sepak bola kita," kata Manila seperti dilansir tempointeraktif.

Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Effendy Ghazaly menilai FIFA bukan organisasi yang baik-baik amat. "Mereka seperti kerajaan, yang memiliki kaki-tangan di masing-masing negara," katanya. Sayang, selain pejabat PSSI, dia melanjutkan, tidak ada orang Indonesia yang memiliki jalur komunikasi ke FIFA.

Manila mengatakan, KONI harus bisa menembus FIFA. "Bisa juga lewat International Olympic Committee," katanya. Badan olahraga tertinggi dunia ini berada di atas FIFA, sama seperti posisi KONI yang membawahi PSSI.

Sementara itu, Ketua Eksekutif PT Liga Indonesia –badan PSSI yang menyelenggarakan ISL–, Joko Driyono mengatakan, LPI itu bukan saingan mereka. Menurut Joko, ISL adalah kompetisi yang sah karena berada di bawah naungan asosiasi resmi, yaitu PSSI. Ia mengatakan, jika dilihat dari organisasi, ISL tak perlu ambil pusing karena LPI adalah urusan PSSI. Sedangkan PT Liga Indonesia berkonsentrasi urusan operasional liga. Mengenai persaingan yang nantinya akan timbul, ia merasa hal itu bukanlah hal baru. "Saya merasakan persaingan dalam usaha adalah pekerjaan kami sehari-hari. Kita siap menghadapi persaingan sekuat apapun," katanya.

Joko juga mengatakan, tak takut kehilangan penonton. Namun munculnya LPI sedikit banyak memang mempengaruhi ISL yang sudah bergulir sejak 26 September 2010. Tiga klub, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar dinyatakan mundur sejak 6 Januari karena membelot ke LPI. Alhasil, pelaksanaan, jadwal, dan penilaian, terpaksa berubah. Namun Joko berkeyakinan semua akan berjalan seperti rencana walaupun secara kuantitas ada pengurangan jumlah pertandingan.    n    fat/tribunjogja/ant

Dibaca: 496 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured site: So, Why is Wikileaks a Good Thing Again?.

Diposkan oleh iwan di 13.21  

0 komentar:

Poskan Komentar