“Minimarket Menjamur, Pedagang Pasar Tradisional Gigit Jari”

Minggu, 27 Februari 2011

“Minimarket Menjamur, Pedagang Pasar Tradisional Gigit Jari”


Minimarket Menjamur, Pedagang Pasar Tradisional Gigit Jari

Posted: 27 Feb 2011 12:53 AM PST

Minggu, 27/02/2011 15:45 WIB
Minimarket Menjamur, Pedagang Pasar Tradisional Gigit Jari 
Adi Lazuardi - detikNews

Jakarta - Pasar tradisional di Jakarta semakin kehilangan popularitas dan eksistensinya. Beberapa pasar tradisional bahkan terpaksa tutup karena tak mampu bersaing dengan pasar modern. Para pedagang pasar tradisional pun hanya bisa gigit jari.

"Saya berdagang sejak sebelum Pasar Johar Baru dirombak. Sebelum dirombak, penghasilan saya Rp 3,5 juta per hari. Setelah dirombak, dapat Rp 1 juta sehari saja sudah untung," curhat Purwati, salah seorang pedagang di pasar tradisional Johar Baru, Jakarta Pusat.

Hal itu disampaikannya dalam testimoni saat jumpa pers di Kantor LBH, Jl Diponegoro, Jakarta, Minggu (27/2/2011).

Menurut Purwati, yang membuat pasar tradisional tempat dia biasa mengadu nasib menjadi sepi adalah menjamurnya minimarket. Apalagi minimarket itu buka 24 jam nonstop, sedang padagang di Pasar Johar Baru hanya buka setengah hari.

"Yang juga berpengaruh adalah minimarket yang bertebaran di sekitar kami. Ada minimarket yang 24 jam. Sedangkan kami buka 05.30 WIB dan tutup pukul 17.00 WIB," sambung perempuan yang sehari-hari berjualan sembako dan kain ini.

Menurut dia, kelemahan dari sebagian masyarakat di negeri ini adalah kalau belanja di supermarket, gengsinya lebih tinggi. "Kami ingin pemerintah bertindak agar minimarket-minimarket itu tidak menjamur," harap Purwati.

Senada dengan yang dialami Purwati, Kristiono yang juga berdagang di Pasar Johar Baru pun resah dengan semakin sepinya pasar. Kristiono memang baru dua tahun berjualan di Pasar Johar Baru, namun hasil penjualannya tidak seperti yang diharapkan.

"Saya membayar sewa kios dengan sistem kredit. Penjualannya untuk menutup kredit saja tidak cukup sejak adanya minimarket-minimarket itu," keluh pedagang kelontong ini.

Menurutnya, PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar di DKI Jakarta sudah mengirim surat ke Pemprov DKI terkait hal ini. Sayang, tidak ada tindak lanjutnya.

"Saya tidak bisa meneruskan usaha karena pengeluaran lebih besar," ucap Kristiono sendu.

PD Pasar Jaya kini mengelola 153 pasar tradisional di wilayah DKI. Dalam 4 tahun terakhir ini, sejumlah pasar tradisional terpaksa tutup lantaran kalah saing dengan supermarket dan minimarket yang semakin menggurita. Pasar yang sudah tutup antara lain Kebon Melati, Pasar Tulodong, Pasar Sudimampir dan Pasar Kampung Melayu.

(vit/nrl)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Tutup

  Share to Facebook:

You are redirected to Facebook

  Share via Email:

Share via Email


loadingSending your message

Message has successfully sent


Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Collateral Damage - WikiLeaks In The Crosshairs.

Diposkan oleh iwan di 13.18  

0 komentar:

Poskan Komentar