“Kok Aku Gak Tahuuu ? @ Yayat's Blog”

Minggu, 27 Maret 2011

“Kok Aku Gak Tahuuu ? @ Yayat's Blog”


Kok Aku Gak Tahuuu ? @ Yayat's Blog

Posted: 27 Mar 2011 08:15 AM PDT

Written by yayat Sunday, 27 March 2011 10:15

Sebelum membaca tulisan ini baiknya membaca tulisan Om Nh dulu sebagai bagian Pertama, Lantas Mas Batavusqu sebagai Bagian Kedua. Ini adalah bagian terakhir dari trilogi yang ditulis secara gotong royong oleh Tim Yin – Yang.


————————-

Ah, ternyata ada 2 orang yang jadi sainganku. Aku gak peduli yang penting bagaimana caranya mendapatkan Mpok Jenab itu. Sebagai pendatang dia kan gak tahu asliku kayak apa. "Yang penting pura-pura kaya aja he he", kata Parjo ke sahabatnya. Memang Parjo pendatang baru di Jakarta ini. Mencari peruntungan dengan ngeborong kecil-kecilan di kawasan Periuk. Memang pendapatan Parjo dibilang lumayan dibanding ketika kerja serabutan di dusunnya yang termasuk wilayah desa tertinggal.

Parjo sudah bisa membeli sebuah motor seken tanpa ngutang lagi karena baru-baru ini dia ngesub dari sebuah perusahaan pembersih kawasan laut. Parjo dipercaya ngesub pengadaan tenaga borongan yang dia boyong dari kampung halamannya. Parjo sudah menjadi bos kecil yang kini naksir pemilik warung nasi tempat sarapan anak buahnya.Biasa dipanggil Mpok Jenab.

Parjo bisa disebut bujang kelamaan. Di desanya sempat hampir dinikahkan orang tuanya, tapi Parjo emoh karena lebih suka hidup mandiri dulu. Punya uang bahkan maunya punya rumah sendiri dulu. Saking asyiknya usaha, dia lupa sama usianya yang kini sudah 34. "Saatnya menikah karena sudah punya motor dan rumah yang dia bangun di kampungnya", beberapa kali dia tersadar. Walau tidak besar-besar amat tapi sebagai modal untuk hidup barangkali cita-cita Parjo sudah tercapai. Kini saatnya berumah tangga. Dan entahlah, justru Mpok Jenab yang sedikit centil itu menjadi perhatian Parjo. Bukan gadis desa yang menjadi harapan bapak ibunya.

"Ulet", katanya. "Cocok jadi istirinya kelak dan buka usaha di kampung. Masakannya enak, apa lagi sambelnya", ungkap Parjo di depan anak buahnya.

Saingan Parjo adalah Bang Intim. Seorang sopir. Bapak beristri dua ini kok ya masih juga ngincer daun muda yang langsing, betis butir padi dan bibir delima dipotong dua. "Harusnya sadar tu orang, biar aku yang suwwiiingel tongtong ini yang menjadi suami si Jenab", lanjut Parjo.

*

"Nab, aku sudah sediakan kau rumah di kampung. Rumah tanpa ngutang. Rumah sederhana untuk kita membangun rumah tangga. Jika dirimu bersedia jadi istriku biarlah itu jadi rumahmu, atau kalo perlu proyekku berhasil aku yang akan bangun rumah disini". ujar Parjo ketika ketemu Mpok Jenab.

Mpok Jenab hanya tersenyum simpul tanpa membalas. Sementara Mas Sarimin yang saingan Parjo satunya lagi, ngintip ngintip sambil nguping, kadang harus menahan luapan cemburu yang membakar di dada. Sarimin gak berani mengganggu Parjo karena tahu persis Parjo yang bertubuh gempal memiliki tenaga yang "nggilani", sementara Sarimin, selain lebih kecill tentunya kalah pamor dengan lagak Bos Kecil Parjo yang sok sugih itu.

Padahal Sarimin pengusaha sepeda sukses walau dimodalin mertuanya. "Edyan tenan kau Min, kurang gimana baiknya mertuamu, kok ya masih ngincer si Jenab juga" Gumam Parjo. Tapi Sarimin kelihatan nafsu sama kemolekan tubuh piramida terbalik milik Mpok Jenab. "Ha ha jauhlah ama aku, kelebihanku kan bujangan yang siap tempur, sementara dirimu Min, harus bermasalah dulu sama keluargamu, mana mau Mpok Jenab. Bukan saingan aku dirimu itu Min", itu yang pernah diutarakan Parjo ketika sempat ketemu dengan kedua saingan. Walau secara jujur raut muka Parjo khawatir juga. Cemburulah tepatnya.

Suatu pagi, Lindung anak buah Parjo, tergopoh-gopoh ke kantornya Parjo yang sebetulnya masih di paviliyun rumah kontrakannya di bilangan Periuk itu. "Bos ada berita gaswat, Boosssszzzz", kata Lindung.

"Berita apa Ndung?", tanya Parjo sok jaim.

"Ini undangan dari Mpok Jenab. Mau ngaaaaanuuuu ….. mhhhhh  …. kawin minggu depan"

"Hahhh …. Sama siapa????  si Sarimin apa karo Bang Intim yang ndak tau diri itu?"

"Bukan Bos, katanya sama orang Lampung. Duda kaya pemilik kebun coklat".

"Wah … kok mau sama Duda ?"

"Ya mau lah Bos, Jenab ternyata Janda muda empat anak, Bos. Anak-anaknya dititipin sama saudara-saudaranyanya di Sentiyuang tuh "

"Hah ??? kok aku Gak Tahuuu ???…. Sia-sia tenaga dan pikiranku mikirin si Jenab … wealaaaahhhh"

Parjo lemesss …………… "Trus aku kawin sama siapa ?" doh

—–T A M A T—-

—————————————————————

Maaf jika ada kesamaan nama. Ini hanya fiktif belaka sebagai artikel yang diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com.

There are no posts related to Kok Aku Gak Tahuuu ?.



9 Comments

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php. Five Filters featured article: Libya and Oil.

Diposkan oleh iwan di 13.26  

0 komentar:

Poskan Komentar