“Mangut Belut Klangenan Raja”

Minggu, 13 Maret 2011

“Mangut Belut Klangenan Raja”


Mangut Belut Klangenan Raja

Posted: 12 Mar 2011 09:04 PM PST

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Tidak selalu cuma di restoran masakan bisa menjadi buruan favorit pelanggan. Seperti halnya masakan mangut welut (mangut belut) yang dijajakan menumpang di tempat penitipan sepeda motor dan sepeda di depan Pasar Godean, Yogyakarta.

Warung ini pernah menjadi klangenan penguasa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sultan Hamengku Buwono IX. "Beliau selalu mengendarai sepeda onthel," kata Surani, 43 tahun, sang penjual mangut welut.

Tentu bukan Surani saksi matanya. Sebab, peristiwa itu terjadi pada sekitar 1947 hingga 1950-an. Sedangkan Surani baru menjadi "bos" warung tersebut sejak 1997. Cerita tentang kebiasaan Sultan itu didengarnya dari sang nenek, Mbah Darmo, perintis Warung Mangut Welut tersebut.

Wakil Presiden Indonesia kedua itu memang dikenal sebagai raja yang gemar bepergian ke desa-desa untuk menemui rakyatnya. "Jika sedang bepergian di sekitar Godean, beliau selalu mampir ke warung nenek saya," kata Surani.

Mangut welut warisan Mbah Darmo ini terkenal lezat. Selain rasa gurih kuah kentalnya yang mantap, belutnya empuk sampai ke tulang-tulangnya. Belut untuk masakan mangut ini juga khusus, yakni hasil buruan di sawah, bukan hasil penangkaran. "Belut hasil buruan di sawah lebih gurih dibanding belut kolam," ujarnya.

Kawasan Godean memang dikenal sebagai sentra penghasil belut karena masih memiliki hamparan persawahan yang luas dan subur. Itu sebabnya, Godean juga dikenal sebagai produsen keripik belut. Jika kita melintas di depan Pasar Godean, pemandangan paling mencolok adalah deretan para penjual keripik belut.

Kelezatan mangut welut Mbah Darmo ini terletak pada cara memasak serta bumbu-bumbunya. Belut sebesar jari kelingking orang dewasa, setelah dibersihkan, direbus dengan santan sekitar 45 menit. Pada saat yang sama, disiapkan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai rawit, lengkuas, sereh, garam, dan gula. Bumbu-bumbu itu dihaluskan, disangrai, lalu dimasukkan ke rebusan belut. Maka, jadilah mangut welut yang lezat.

Untuk menikmati seporsi nasi mangut welut, pengunjung cukup menebusnya dengan Rp 6.000. Sepiring nasi tersiram kuah kental, berikut enam sampai tujuh ekor belut dan dua potong krecek. Sayangnya, kita tidak bisa memesan minuman selain teh panas. "Sejak dulu kami memang hanya menyediakan minuman teh panas atau air putih," kata Surani.

Mbah Darmo mulai berjualan mangut welut sejak 1945. Ia berjualan di warung darurat, tepat di depan pintu gerbang Pasar Godean. Mbah Darmo selalu membuka warungnya selepas isya hingga pagi hari. Ketika pasar Godean direnovasi pada akhir 1970, Mbah Darmo pindah ke seberang pasar. Dagangan satu-satunya adalah nasi mangut welut.

Mulai 1997 warung ini berpindah tangan ke cucunya, Surani, hingga saat ini. Sebelumnya, sempat diteruskan oleh Rebyuk, tante Surani. "Hanya berjalan satu tahun," katanya.

Sejak dikelola Surani, dagangan di warung ini mulai bervariasi. Tidak hanya menjajakan mangut belut, mereka juga menyediakan mangut lele, gudeg, ayam bacem, tahu-tempe bacem, dan bakwan.

Warung ini buka selepas magrib hingga pukul 22.00. Penjual menggelar dagangannya di atas balai-balai di dalam bangunan yang sangat sederhana. Pengunjung bisa makan secara lesehan di atas tikar dengan meja-meja pendek.

Meski begitu, pembeli selalu membanjir sejak warung mulai dibuka. Sebagian memilih membungkus pesanannya untuk dibawa pulang, sebagian lagi memilih menikmatinya langsung di warung. "Saking banyaknya pembeli, sering membuat macet arus lalu lintas di depan pasar," kata Murdiyanto, seorang warga Godean.

Pembelinya bukan hanya warga sekitar Godean, juga masyarakat Yogyakarta. "Jika musim liburan, banyak pembeli dari Jakarta. Mereka warga Yogya yang bekerja di Jakarta," kata Surani.

Ia mengakui, sebagian besar pengunjung warungnya adalah orang-orang yang pernah mendengar ketenaran nama Mbah Darmo. "Mereka selalu menanyakan Mbah Darmo," katanya. Meski sudah meninggal pada 2000, nama besar Mbah Darmo masih terdengar. Ferry Ardyanto, salah seorang pengunjung, menyatakan penasaran dengan rasa mangut welut Mbah Darmo. "Ternyata memang enak," kata Ferry, yang saat itu menandaskan dua porsi.

Sayangnya, kelezatan dan ketenaran mangut welut Mbah Darmo terancam menjadi cerita masa lalu. "Setelah saya nanti tua dan tidak kuat lagi jualan, tidak ada lagi yang bisa meneruskan," kata Surani.

Menurut Surani, anak-anak Mbah Darmo tidak ada yang mau meneruskan usaha menjadi penjual nasi mangut welut karena ada yang jadi dokter, selain pengusaha dan pegawai negeri. Adapun dua anaknya memilih menjadi guru dan menjadi anggota TNI Angkatan Udara. "Suatu saat nanti mungkin akan cunthel (berhenti) karena tidak ada lagi yang mau meneruskan," katanya.

SELERA

Mangut Welut Godean
Depan Gerbang Pasar Godean, Yogyakarta
Buku: setiap hari pukul 18.30-22.00

HARGA MENU
Nasi Mangut Welut Rp 6.000

KOMENTAR CHEF
Surani, 43 tahun, pengelola:
"Belut hasil buruan di sawah lebih gurih dibanding belut kolam."

KOMENTAR PELANGGAN
Ferry Ardyanto:
"Ternyata memang enak."

Murdiyanto, warga Godean:
"Saking banyaknya pembeli, sering membuat macet arus lalu lintas di depan pasar."

HERU C. NUGROHO
 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Diposkan oleh iwan di 14.22  

0 komentar:

Poskan Komentar