“Seluk Beluk Buka Usaha Wedding Organizer”

Senin, 17 Oktober 2011

“Seluk Beluk Buka Usaha Wedding Organizer”


Seluk Beluk Buka Usaha Wedding Organizer

Posted: 16 Oct 2011 11:37 PM PDT

Lifestyle » Family » Seluk Beluk Buka Usaha Wedding Organizer
Senin, 17 Oktober 2011 - 12:57 wib

Fitri Yulianti - Okezone

MENIKAH dambaan setiap orang. Namun mempersiapkannya tidaklah mudah, apalagi di tengah kesibukan pekerjaan. Inilah peluang Anda membuka jasa wedding organizer.

Merencanakan pernikahan jelas merepotkan. Selain karena hal yang baru, pernikahan adalah suatu perhelatan penting dalam sejarah hidup yang Anda berusaha untuk sesempurna mungkin. Belum lagi, keinginan kedua keluarga yang kerap sulit dijembatani.

Bila calon pengantin menemui banyak kesulitan, disarankan untuk menggunakan jasa wedding organizer (WO) untuk mengurus persiapan dan pelaksanaan pernikahan dari awal hingga akhir. WO ibarat sutradara yang bekerja sama dengan banyak pihak.

"Daripada capek dan tidak bisa menikmati hari bahagia kita, keluarga juga kadang tidak bisa memberikan pendapat yang netral, di situlah peran WO yang bisa memberi saran objektif dan tidak memihak," kata Diany Pranata Chandra, pemilik WO Bella Donna dan Bella Donna The Institute ketika ditemui di Bandung, belum lama ini.

Menurutnya, alasan tersebut menjadikan usaha di bidang WO menarik. Juga alasan kebutuhan yang tidak pernah habis karena ada saja orang menikah, modal hampir tidak ada, dapat menjadi bos atas diri sendiri, dapat dilakukan bersama pekerjaan lain, serta menyenangkan dan tidak membosankan.

"Waktu saya memulai usaha ini, hanya modal kartu nama, tapi saya punya banyak network ke hotel. Dan meski akhir pekan sibuk, hari biasa saya enggak kerja, enggak ada yang marahin," imbuh wanita yang telah membuka usaha WO sejak 2000 ini.

Meski bidang usaha yang menyenangkan, Anda harus memahami bahwa transaksi bukan sekadar uang, tapi ikatan yang mengharuskan Anda untuk memiliki hati melayani. Di sinilah pentingnya memiliki syarat menjadi WO yang baik, di antaranya:

1. Punya empati (mengerti kebutuhan pengantin dan jadi pendengar yang baik).
2. Organized (orang yang teratur, terbiasa mencatat kalau lupa).
3. Bijaksana (menjembatani minimal tiga pihak, yakni keluarga, vendor, dan panitia serta harus bisa menyimpan rahasia).
4. Bisa bekerja sama dengan berbagai pihak.
5. Punya naluri melayani.
6. Kemampuan bahasa Inggris.
7. Pengetahuan dasar wedding (color coordination, flower, photography, dan lain-lain).
8. Bisa mengatakan "tidak" (berani menolak klien kalau tidak sesuai).

Bila yakin bahwa karakter diri cocok memenuhi syarat WO yang baik, mungkin Anda ingin melakoni usaha ini. Peluang selalu terbuka lebar karena kebutuhan yang tidak pernah berkurang.

"Soal pesaing, berapa sih yang bisa ditangani sebuah WO dalam setahun? Saya sendiri membatasi hanya 35-40 pengantin setahun. Kalau lebih, enggak kuat karena persiapannya lama. Belum kalau keluarga calon pengantin yang complicated," ujarnya.

Ketika Anda berhasil mendapatkan calon klien, Diany turut menjabarkan lingkup kerja seorang WO, di antaranya presentasi tentang jasa yang ditawarkan, kontrak, tanda tangan kontrak, first meeting, budgeting, kasih saran ke calon pengantin soal acara, membuat jadwal, meeting committee, dan technical meeting.

Sementara soal pendapatan, Diany memberi gambaran bentuk transaksi yang kerap dilakukan WO. Pembayaran dilakukan atas tiga bentuk, yakni persentase, fixed rate (dianut banyak WO di Indonesia), dan hourly based.

"Di Indonesia, biaya jasa WO belum mahal karena pembayaran biasanya ambil satu harga atau fixed rate. Di luar negeri, mereka berdasarkan persentase dari pengeluaran. Sebenarnya, ini bentuk pembayaran yang fair, tapi belum bisa diberlakukan di Indonesia karena penyelenggara pernikahan biasanya enggak mau jujur soal pengeluaran," ujar wanita mungil ini.

Bagaimana, Anda siap terjun ke bidang usaha WO? "Supaya siap mental, catat dan ingat selalu kelebihan membuka WO dan buang jauh yang menakutkan. Saya sendiri suka ikut pelatihan dari motivator untuk memompa semangat diri. Kalau mau jadi enterpreneur, besarkan hal-hal positifnya," sarannya.

(ftr)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: A 'Malign Intellectual Subculture' - George Monbiot Smears Chomsky, Herman, Peterson, Pilger And Media Lens.

Diposkan oleh iwan di 13.43  

0 komentar:

Poskan Komentar