“Mental Pengusaha - Kaltim Post”

Minggu, 08 Januari 2012

“Mental Pengusaha - Kaltim Post”


Mental Pengusaha - Kaltim Post

Posted: 07 Jan 2012 08:01 PM PST

TAHUN 1998 menjadi masa suram bagi Heru Cahyono. Usaha yang sudah  dirintis bertahun-tahun runtuh. Nilai tukar rupiah terhadap rupiah yang anjlok memukul dunia usaha nasional kala itu. Alhasil, Heru yang kala itu sedang menjadi kontraktor developer PT Semanggil ikut terpukul.

Usaha tersebut sudah dirintis selama dua tahun. Ya, 1996 memutuskan menggeluti usaha properti sendiri. Keputusan itu setelah bertahun-tahun menjadi konsultas pengawas. "Saya menjadi developer karena ingin membuktikan sebagai pengawas bisa menjadi pelaksana. Ketika menjadi konsultan pengawas saya kerap banyak persoalan lapangan dengan pelaksana. Paling krusial adalah pekerjaan tak sesuai harapan karena dana. Saya ingin membuktikan kalau bekerja tanpa memungut keuntungan duluan, pasti mampu mendapatkan hasil maksimal," kata pria lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang.

Hasilnya, Heru Cahyo mampu membangun 100 unit dalam empat bulan. Lalu mendapat lagi kepercayaan membangun 300 unit berikutnya. Ketika total rumah terbangun 376 unit dalam satu tahun setengah itulah, tiba-tiba krisis moneter melanda. Bendera perusahaan yang diusung Heru, PT Kalitsa (Kalimantan Samarinda) ikut goyah karena persoalan pembayaran dari PT Semanggi. Akhirnya usaha perumahan tersebut berhenti.

Tiarap dulu. Heru kembali menekuni jasa konsultan pengawas. Selama beberapa waktu Heru mengaku sempat goyah karena gagal membangkitkan ambisi. Beruntung jasa konsultan PT Trijasa Bina dan CV Narwastu yang dibangunnya sudah mapan. Sehingga tetap mendapat pemasukan. "Banyak teman di Jakarta dalam kondisi miris kala itu. Dipecat dari perusahaan. Padahal sempat merasakan hidup berkecukupan. Mengendarai mobil bagus, tiba-tiba kembali naik motor," ucap pria memiliki dua anak ini.

Dari peristiwa kegagalan menjadi kontraktor perumahan tersebut, Heru malah mendapatkan hikmah. Justru, berat badan naik 20 kilogram. Meski sudah menikah (sejak 1989 lalu), bobot tubuhnya tak pernah melebihi 51 kilogram. "Justru ketika menghadapi banyak persoalan, saya banyak makan," ucap pria beristrikan Adelaide Monica PSR serta tertawa.

Usaha konsultan yang dijalankan Heru bermula tahun 1993. Setelah tiga tahun bekeja, ia mengaku, sudah membayangkan kelak tak bisa hidup lebih baik. Paling tinggi hanya mendapat posisi kepala cabang yang berkedudukan di Samarinda. Tapi selama bekerja di PT Biec Intenasional, hampir seluruh Kaltim sudah dijalani. "Pertama kali ditugaskan di Tanah Grogot, 16 Oktober 1990. Setahun kemudian dipindahkan mengawasi proyek jembatan Kelay yang menghubungkan Muara Wahau-Labanan. Meski jauh di pedalaman, saya tetap menikmati," tandasnya.

Heru lulus kuliah tahun 1989. Begitu lulus sempat bekerja di Bandung. Belakangan memutuskan berhenti, masuk PT Biec Internasional. Ternyata ditempatkan di Ambon. Berbekal Rp 100 ribu, berangkatlah dia ke kota di provinsi berjuluk Seribu Pulau (Provinsi Maluku). Namun hanya bertahan sebulan. "Saya putuskan kembali lagi. Tapi atasan di PT Biec ternyata tak membolehkan berhenti, malah mengirim saya ke Kaltim," tuturnya seraya tertawa.

Tiga tahun bekerja akhirnya memutuskan berhenti. Mantan Sekda Kaltim Saleh Nafsi mengajak Heru buka usaha di bawah bendera PT Atlantik. Tetap di bidang konsultan. Selama setahun menjadi supervisi di beberapa proyek. Mulai pembangunan Embarkasi Haji Batakan (Balikpapan) serta SMA Melati. Setelah memutuskan usaha sendiri, Heru Cahyo mengaku, mendapatkan kenikmatan sendiri sebagai orang yang harus memikirkan anakbuah dan kelangsungan usaha.

Satu-satu cita-cita tatkala memimpin perusahaan sendiri, menggaji karyawan tepat akhir bulan. Komitmen itu belajar banyak perusahaan telat membayar gaji karyawan, bahkan hingga 15 hari kemudian. "Syukur, karyawan bisa mengerti. Sebagai atasan ikut tertantang mengajak mereka membesarkan perusahaan. Tentu dengan bekerja baik dan menyumbangkan pikiran. Meski berat, saya harus memberikan contoh baik," ucapnya.

Selama berkarir di dunia konsultas pengawas, total sudah 30 proyek jembatan, jalan dan bangunan yang digarap. Sebut saja rehab Kantor Gubernur Kaltim, Lamin Etam, hingga Kantor Bupati Kubar. Banyak pengalaman didapatkan. Paling berkesan adalah pembangunan Kantor Bupati Kubar. Desain dan tata ruang komplek tersebut sangat bagus. Mungkin yang terbaik dibandingkan kantor kepala daerah lainnya.

Bertahan dalam dunia konsultan hingga sekarang, hanya karena Heru mengaku, pengaruh pergaulan yang luas. Punya banyak membuat informasi usaha gampang didapatkan. Apalagi Heru sangat aktif dalam berbagai organisasi usaha. Mulai Kadin, REI Kaltim, Inkindo, Hipmi, hingga Ika Undip (Ikatan Alumni Universitas Diponegoro) Kaltim. Pertemanan dengan kalangan pengusaha hingga aktif di berbagai organisasi menurut membuat pikiran selalu tercerahkan. Banyak peluang bisnis didapatkan.(waz)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.06  

0 komentar:

Poskan Komentar