“Tak Peduli Ilegal, Dolly Tetap Buka - Surabaya Post”

Senin, 09 Januari 2012

“Tak Peduli Ilegal, Dolly Tetap Buka - Surabaya Post”


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Tak Peduli Ilegal, Dolly Tetap Buka - Surabaya Post

Posted: 08 Jan 2012 09:04 PM PST

SURABAYA-Langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bakal mengilegalkan tempat prostitusi pada tahun 2012 tampaknya akan mendapat banyak tantangan. Sejumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pemilik wisma di kawasan tersebut memastikan akan tetap bnertahan dan beroperasi seperti biasa.

"Dari dulu kan memang pekerjaan ini dinilai gak bener sama masyarakat. Mau legal atau gak ilegal, saya ya tetap jualan," tandas mawar (bukan nama sebenarnya), salah satu PSK di Dolly. Dia juga akan menolak 'sangu' sebesar Rp 3 juta yang dijanjikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo untuk sejumlah PSK. Menurutnya, uang tersebut tak seberapa besar untuk biaya hidupnya jika mereka tak memperoleh pekerjaan. "Duit segitu apa bisa di buat usaha? Paling-paling seminggu bisa langsung abis," akunya kepada wartawan Surabaya Post ketika di konfirmasi di Yayasan Abdi Asih, baru-baru ini.

Hal senada juga diutarakan oleh penghuni wisma-wisma lainnya. Vr (nama inisial) salah seorang makelar atau juga dikenal dengan germo yang sudah melakoni pekerjaannya selama 20 tahun menegaskan keengganannya untuk meninggalkan Dolly. Ia menganggap kebijakan yang ada hanya sebagai angin lalu. "Kalau ditutup kita mau makan apa? Gang Dolly sudah menghidupi orang banyak, bukan cuma saya loh," ungkap dia dengan pasrah.

Ia menambahkan, saat ini wisma di Dolly sudah lebih terarah. Di bandingkan dengan dahulu, jam buka Dolly sudah diminimalkan dan parkiran untuk tamu juga bagus. Bahkan sudah ada wisma yang direnovasi sangat bagus dengan menambahkan lift di dalam gedung. "Saya kira sulit menutup lokalisasi Dolly, buktinya salah satu wisma yang terkenal di sana malah sedang direnovasi, dibangun besar menjadi tiga lantai dan dalamnya terdapat fasilitas lift bagi pengunjungnya," paparnya.

Yayasan Abdi Asih yang bergerak dalam pemberdayaan wanita tuna susila (WTS) di lingkungan Dolly dan Jarak, melalui Lilik Sulistyowati selaku Direktur, menilai keputusan pemerintah ini bukan kebijakan yang tepat. Ia menilai kebijakan tersebut terlalu terburu-buru karena target.  "Untuk melepas PSK ke tengah-tengah masyarakat itu butuh waktu lama. Kalau PSK-nya belum bisa baca tulis, berarti mereka butuh disekolahkan dahulu, baru dibekali keterampilan," jelas wanita yang akrab di sapa Vera ini.

Selain itu, Vera juga pesimis dengan pemberian sangu yang dilakukan oleh pemerintah. Ia merinci, Wisma yang ada di Dolly dan Jarak sekitar 221 buah tersebar di empat RW. Penghuninya seperti PSK yang tercatat resmi 1.287 orang, belum PSK yang tidak tercatat, germo, penjual makanan (warung), tukang parkir, dan pemilik wisma sendiri. Sehingga total penghuni lokalisasi ditafsir sekitar 3000 orang. "Kalau yang diberi sangu hanya PSK-nya saja, terus sisanya harus mencari nafkah kemana?" tanyanya.

"Jadi, sebaiknya kita kembalikan kepada masyarakat. Saya sendiri tidak akan sedih kalau Dolly ditutup. Tapi saya sedih kalau anak-anak itu (PSK) berkeliaran di jalan, hotel, tidak terkontrol," imbuhnya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo berjanji bakal melakukan penutupan lokalisasi akan dilakukan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2014 mendatang. "Bahkan, kalau bisa teralisasi lebih cepat, di tahun 2012 itu lebih baik," kata Soekarwo beberapa waktu lalu. m6, m1

Diposkan oleh iwan di 14.06  

0 komentar:

Poskan Komentar