“Berawal Ingin Bantu Ibu, Kini Rambah Sumatera-Jawa - Padang Ekspres”

Sabtu, 11 Februari 2012

“Berawal Ingin Bantu Ibu, Kini Rambah Sumatera-Jawa - Padang Ekspres”


Berawal Ingin Bantu Ibu, Kini Rambah Sumatera-Jawa - Padang Ekspres

Posted: 10 Feb 2012 08:50 PM PST

Berawal Ingin Bantu Ibu, Kini Rambah Sumatera-Jawa

Kisah Finalis Wirausaha Muda Mandiri dari Ranah Minang (2)

Padang Ekspres • Sabtu, 11/02/2012 11:39 WIB • Hijrah Adi Sukrial—Padang • 45 klik

Pilih Berbisnis: Rizet Ramawi di salah satu tokonya, kemarin (10/2).

Setelah empat bulan bekerja di perusahaan kontraktor, entah kenapa Rizet Ramawi merasa bosan menjadi karyawan. Dia memutuskan mengembangkan usaha sprey (alas kasus) dan bed cover dikembangkan orangtuanya. Empat tahun berlalu, Soraya Bed Sheet yang dikelolanya sudah memiliki enam cabang di Padang, Pekanbaru, dan Jakarta.


Saat Padang Ekspres berkunjung di Toko Soraya Bed Sheet di Pasar Siteba, Rizet dan karyawannya sedang bersitungkin mendekorasi interior tokonya. Penampilannya santai, berbaju kaos, layaknya karyawan lainnya. Tidak ada batas antara bos dan anak buah.


Ruangan yang sudah didekorasi, telah tersusun rapi sejumlah sprey. Di sudut lain, ada tempat tidur terpajang lengkap dengan bed cover. Di sebelahnya, juga ada gorden yang motifnya serasi dengan bed cover.


Begitu juga barang lainnya, semua warnanya serasi dengan bed cover, seperti bantal TV, bantal cinta, sarung dispenser, dan magic car. Ternyata sudut itu adalah contoh dan untuk memperlihatkan bahwa Soraya Bed Sheet bisa membuat semua pesanan pelanggan, dan serasi dengan bahan lainnya. "Kami baru pindah Bang, jadi masih beres-beres. Di sini sebelumnya minimarket.


Sekarang dijadikan toko sprey, sedangkan minimarket pindah ke toko kita di sebelah. Oh ya, silakan duduk," ujarnya membuka percakapan, Kamis (9/2).


Rizet mulai terjun ke usaha produksi dan pemasaran sprey sejak 2007 lalu. Usai menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Akuntansi Universitas Bung Hatta (UBH) tahun 2006 lalu, dia sempat bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di Padang.


Empat bulan bekerja di perusahaan tersebut, Rizet merasa tidak enaknya menjadi anak buah orang. "Memang duit pasti ada setiap bulan, namun kita tidak bisa mengatur waktu kita sendiri. Lalu, saya berpikiran, bagaimana caranya bisa bekerja tanpa diperintah orang. Dan, besarnya penghasilan kita tergantung dari usaha kita," ujar pria masih berusia 27 tahun ini.


Lalu, Rizet terpikir mengembangkan usaha sampingan ibunya menjahit sprey di rumah dan menjualnya ke sejumlah toko Pasar Siteba. "Saya yatim sejak berumur tujuh tahun, sejak saat itu ibu menjadi orangtua tunggal. Ibu saya PNS nyambi menjahit sprey. Ibu juga memberdayakan kaum wanita di dekat rumah. Lalu saya berpikir, kenapa tidak diberdayakan saja ibu-ibu lainnya untuk membantu menjahit sprey ini," kenang Rizet.


Dia pun "mem-PHK-kan" dirinya dari tempat kerja. Sejak itu, Rizet mulai mempelajari usaha menjahit ibunya. Baik itu mempelajari mutu jahitan, jenis-jenis barang, dan manajemen perusahaan. Namun begitu, dia tidak menampik pengalamannya bekerja selama empat bulan di perusahaan kontraktor, banyak menginspirasinya dalam mengembangkan perusahaannya.


Perlahan-lahan, dia pun mengelola toko sprey merek Soraya Bed Sheet itu. Awalnya, hanya satu toko di Pasar Siteba. Rizet memberikan pelayanan lebih kepada pelanggannya. Caranya, dia menyediakan sprey yang motif dan ukurannya bisa dipesan sesuai keinginan pelanggan.


Rizet tidak mempunyai banyak modal uang. Dia membangun bisnisnya dengan modal kepercayaan. Dia datangi toko kain di Pasar Raya, dia sampaikan usaha dan produknya. Lalu, dia melobi pemilik toko agar mau memberikan modal berupa kain, dan dia yang mengerjakannya.

Jika toko lainnya banyak contoh bahan dan barang yang sudah jadi, sementara Soraya Bed Sheet hanya tersedia katalog dan potongan bahan sebagai contoh. Setiap pengunjung yang datang hanya diberi katalog. Hanya saja, dia menjamin jika ada barangnya luntur dan berbulu boleh ditukar kembali. "Jadi, ketika ada orang pesan, baru saya belanja ke pasar," bebernya.


Usahanya terus berkembang, pelanggannya pun bertambah. Selain melayani pembeli yang umumnya anak kos-kosan dan calon pengantin, Rizet juga menerima pesanan dari penjual sprey keliling. Namun, itu tidak membuatnya puas. Dia mempunyai impian memiliki toko di Pasar Raya. Pasalnya, Rizet selalu melihat pedagang kain di Pasar Raya itu hidupnya sejahtera. Dia pun terus mencari jalan agar bisa membuka cabang di Pasar Raya, walau saat itu belum memiliki modal yang besar.


Dia coba melobi dan meyakinkan pemilik toko. Salah satu caranya membayar uang muka untuk kontrak toko dan menjanjikan akan membayar sisanya setelah usaha berjalan. "Intinya, bagaimana meyakinkan pemilik toko percaya usaha kita ini akan berkembang, dan mampu membayar kontraknya secepatnya," ujar pria yang suka memelihara jenggot ini.


Impiannya membuka toko di Pasar Raya tercapai. Tidak hanya itu, dia juga membuka cabang di Sentral Pasar Raya. Karyawan yang sebelumnya hanya berjumlah 12 orang, meningkat jadi 30 orang. Tahun 2009, tokonya di Padang sudah tiga cabang. Satu di Pasar Raya, satu di SPR, dan satu di Siteba.


Di saat usahanya menanjak, Rizet menghadapi ujian. Gempa 30 September 2009 merobohkan satu tokonya di SPR. Omzet penjualan dan produksi jauh menurun. "Ketika itu saya hampir saja putus asa. Namun, melihat banyaknya karyawan dan ibu-ibu banyak terbantu, bahkan menggantungkan perekonomian dari usaha ini, saya jadi semangat lagi," cerita alumni SMAN 1 Padang ini.


Rizet pun memutar otak. Dia mengalihkan usahanya ke Pekanbaru. Sama dengan sebelumnya, dengan modal yang tidak terlalu banyak, dia coba membangun kembali usaha bermodalkan kepercayaan dan lobi pada orang. Keberanian Rizet membuahkan hasil gemilang. Di Pekanbaru, usahanya berkembang dengan pesat. Dari satu toko, dikembangkan hingga menjadi tiga toko.


Jika sebelumnya hanya membeli kain di Pasar Raya, maka sekarang membeli kain langsung dari pabrik. Pertama, dia kirimkan contoh desain, lalu hasilnya dikirim pabrik kepadanya. Jika cocok, baru diproduksi secara banyak. "Saya tanda tangan kontrak yang isinya apabila kain luntur dan berbulu akan dikembalikan ke pabrik. Makanya, saya juga berani menjamin seperti itu kepada pelanggan," kata Rizet.


Dalam menjalankan usahanya, beberapa masalah pernah dihadapi oleh Rizet. Misalnya, ketika salah satu pelanggan yang berjualan keliling dan meminta barang banyak dengan memberi jaminan sertifikat rumah. Ternyata, setelah diberikan barang senilai Rp10 juta, pelanggan tersebut tidak pernah kembali, sedangkan sertifikat yang dijadikan jaminan juga bukan miliknya.


Belajar dari kesalahan, Rizet lantas memakai tenaga profesional sebanyak 4 orang, khusus untuk manajemen dan pembukuan. Agar tidak tertipu lagi, dia memutuskan untuk tidak menjual barang secara kredit. Namun, pelanggan bisa menukar barang, apabila barang tersebut tidak dijual. Sedangkan karyawannya yang membuka usaha serupa, dia justru menjadikannya mitra kerja.


"Jadi, pesanan banyak yang diorder pada eks karyawan tersebut. Saya juga membuat koperasi untuk karyawan, sehingga ketika ada karyawan yang membutuhkan uang berlebih, bisa meminjam di koperasi tersebut," jelasnya.


Banyaknya orang membuka usaha sejenis tidak membuatnya patah arang, malah membuatnya makin getol berinovasi. Sekarang, Rizet memiliki dua orang tenaga khusus untuk mendesain. Dia juga membuat kerja sama dengan pabrik. Atas usaha itu, kini Rizet sudah memiliki 6 cabang. Dua di Padang, tiga di Pekanbaru, dan satu lagi baru buka di Jakarta. Selain itu, dia juga memiliki workshop (bengkel) di masing-masing kota.


Untuk menjaga toko, dia mempekerjakan 4-6 orang per toko. Sedangkan di setiap workshop terdapat 30 orang karyawan produksi, 5 orang pengawas produk, dan empat orang yang mengatur administrasi. "Yang paling banyak karyawan di rumah saya di Jalan Palangkaraya. Karena barang regular dibuat di sana. Sedangkan yang dipesan pelanggan diproduksi di workshop masing-masing kota," papar Rizet, yang juga aktif di Entreprenuer Club Padang.   


Sekarang, usahanya terus berkembang. Selain melayani pelanggan yang memesan, dia juga melayani hotel, rumah sakit, dan catering. Dia juga terpilih mendapatkan pembinaan dari Bank Mandiri dan menjadi nominator Wirausaha Muda Mandiri 2011. Ke depan, dia menginginkan setiap orang yang membutuhkan sprey selalu ingat Soraya.

Dia yakin dengan bisanya pelanggan memesan barang, maka akan membuat dia lebih unggul dari perusahaan lainnya. Kepada generasi muda, dia berpesan agar memiliki impian dan kemauan yang keras dan bekerja bersungguh-sungguh. "Itu modal utama untuk mengubah kehidupan," imbuh anggota Komunitas Tangan Di Atas (TDA) ini. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.18  

0 komentar:

Poskan Komentar