“Jatim Buka Kran Impor Garam Industri - Surabaya Post”

Senin, 06 Februari 2012

“Jatim Buka Kran Impor Garam Industri - Surabaya Post”


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Jatim Buka Kran Impor Garam Industri - Surabaya Post

Posted: 05 Feb 2012 08:05 PM PST

SURABAYA – Jatim membuka kran impor garam industri. Pasalnya, kualitas garam produksi Jatim sulit untuk bisa diserap oleh industri. Pasalnya, garam yang bisa diterima oleh industri kadar HCL-nya 99,4%, sementara garam di Jatim kualitasnya masih tergolong rendah.

Sementara garam konsumsi impornya diperketat sesuai dengan Keputusan Pergub nomor 78/2011 tentang pengendalian garam impor dan pemberdayaan usaha rakyat efektif bulan 10 September 2011 lalu. "Garam industri diperkenankan untuk impor, karena yang dibutuhkan kadar NACL-nya 99,4%. Kualitas garam kita hampir tidak ada petani yang bisa memenuhi kebutuhan industri," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Kardani, akhir pekan kemarin.

Menurut Kardani, faktor yang menyebabkan garam Jatim tidak bisa bersaing dengan garam impor karena iklim panas di Indonesia yang tergolong cepat. Sementara di Australia atau negara-negara pengekspor garam lainnya, iklim yang ada lebih panjang. "Untuk membuat garam industri diperlukan pemanasan yang lama. Kita masih kalah dari Australia karena di sana pemanasannya bisa 6 sampai 8 bulan, kita hanya 3-4 bulan," imbuhnya.

Saat ini, produksi gram konsumsi di Jatim terbesar masih di kawasan Madura. Dari total produksi garam sebesar 629.216 ton pada tahun 2011, produksi tertinggi adalah Sampang sebanyak 288 ribu ton, Sumenep 150 ribu ton, dan Pamekasan 61 ribu ton. Sisanya Kabupaten lain.

Tahun ini, DKP Jatim menargetkan produksi garam konsumsi sebesar 800 ribu ton atau produksi per hektar dari 40 ton menjadi 60 ton. "Untuk tingkatkan produksi garam rakyat (pugar) kita tahun ini memberikan bantuan dana pugar sebesar Rp 35,9 miliar untuk 11 kabupaten. Dulu bantuannya hanya Rp 32,1 miliar," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Produsen Garam Bahan Baku (Apprrogabb), Aunur Rofiq menerangkan, pada tahun 2008-2009 Jatim pernah memproduksi garam dengan kadar NACL sekitar 95%. Akan tetapi, setelah itu akibat cuaca yang kurang mendukung petani tidak bisa memproduksinya.

"Kalau dulu untuk industri garam jenis M, jenis P, dan jenis PS bisa diproduksi karena panas 3 bulan ke atas. Garam dengan kualitas tersebut memang terlihat jelek sehingga diproses dengan dibuang kotorannya, tapi kadar NACL-nya di atas 95%," tandasnya.

Mengenai harga, ia menyebutkan saat ini garam petani dihargai Rp 800-Rp 900/kg. Harga tersebut, kata dia, masih stabil sejak selesai panen akhir November lalu. m27

Diposkan oleh iwan di 13.09  

0 komentar:

Poskan Komentar