“Pengusaha Tolak Larangan Truk Melintas Selama 17 Jam - KOMPAS.com”

Selasa, 03 April 2012

“Pengusaha Tolak Larangan Truk Melintas Selama 17 Jam - KOMPAS.com”


Pengusaha Tolak Larangan Truk Melintas Selama 17 Jam - KOMPAS.com

Posted: 03 Apr 2012 05:03 AM PDT

SERPONG, KOMPAS.com – Para pengusaha yang menggunakan kendaraan angkutan barang merasa keberatan dengan adanya kebijakan baru untuk membatasi jam operasional truk mulai pukul 05.00 hingga 22.00 atau setara dengan 17 jam. Beberapa pengusaha meminta agar diberi alternatif jalan, yakni dengan melewati tol Jorr Serpong–Cengkareng. Untuk itu mereka meminta pembangunan tol JORR pun dipercepat.

Probo Yanuar, pengusaha  di bidang pertambangan batu atau material bahan bangunan di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, mengatakan, aturan baru itu membatasi lalu lintas kendaraan yang biasa digunakan dalam usahanya. Usahanya menggunakan kendaraan angkutan barang di atas 8 ton untuk mengirim bahan baku utama untuk kegiatan pembangunan atau infrastruktur di wilayah Jabodetabek, termasuk pembangunan baik jalan raya maupun bangunan rumah dan gedung di wilayah Tangerang Selatan.

Warga Kencana Loka BSD City itu kurang setuju dengan peraturan baru yang melarang truk-truk besar beroperasi pada siang hari dengan alasan untuk mengurai kemacetan di Jalan Raya Serpong. Menurutnya, pemerintah harus mempercepat pembangunan jalan tol lingkar luar Jakarta II (JORR II) Cengkareng-Serpong.

"Untuk jangka panjang walau membutuhkan anggaran yang sangat besar dan waktu yang cukup lama adalah mempercepat pembangunan tol JORR dan menyambung tol BSD-Balaraja, membuat double decker BSD–Cikokol," kata Probo.

Ia menilai, aturan yang hanya membolehkan truk-truk bermuatan berat melintas di Jalan Raya Serpong pada pukul 22.00 hingga 05.00 itu tidak akan mengurai kemacetan. "Katakanlah terjadi substitusi untuk menambah volume terkirim, maka tujuan mengurangi kemacetan tidak tercapai karena jumlah unit truk kecil akan meningkat hingga tiga kali lipat," katanya.

Perusahaan pun akan mengalami sejumlah kerugian. Probo menjelaskan, jika mengikuti peraturan tersebut, dalam sebulan maksimal hanya 35-40 perjalanan truk. Ketika kondisi Jalan Raya Serpong masih normal atau belum macet, kata Probo, setiap satu unit truk dapat mengangkut material hingga 70 kali perjalanan per bulan. Ketika sudah mulai ramai seperti saat ini, maka setiap unit hanya mampu maksimal 50 perjalanan per bulan. "Dengan adanya pembatasan jam operasi di Jalan Raya Serpong yang hanya bisa dilintasi dari jam 22.00-05.00, maka proyeksi kami maksimal hanya 35-40 trip," ujar Probo.

Dengan berkurangnya jumlah perjalanan truk, maka proyek-proyek besar akan terhambat dan melambat karena volume terkirim yang minim. Akan banyak kekosongan waktu untuk peralatan dan sumber daya pada proyek yg sedang dikerjakan. Menurutnya, hal itu justru akan mengundang sejumlah pengusaha untuk beralih menggunakan truk kecil agar bisa teteap melintas.

Ia mengataka,n perusahaan bisa mengganti dengan menggunakan truk berukuran lebih kecil sekelas Colt Diesel dengan daya angkut sekitar 5-7 M3. Namun, hal ini akan membuat biaya transportasi material untuk truk kecil menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan truk besar.

Menurut Probo, kebijakan pelarangan operasional truk selama 17 jam per hari  merupakan kebijakan yang tidak masuk akal dan secara nasional merugikan banyak pihak. Mempercepat pembangunan tol JORR II untuk jangka panjang diyakini dapat memberikan solusi mengatasi kemacetan di jalur utama kawasan Serpong.

Untuk sementara, ia berharap ada sistem buka tutup jalur, sehingga truk tidak harus menunggu selama 17 jam. "Untuk jangka pendek adalah melakukan sistem buka-tutup setiap waktu pendek tertentu. Jadi truk tidak perlu menunggu parkir selama 17 jam, melainkan cukup maksimal setiap 2 jam saja. Toh jarak Jalan Raya Serpong tidak lebih dari 10 km. Sungguh keterlaluan kalau harus dilintasi dengan waktu tempuh 17 jam," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.12  

0 komentar:

Poskan Komentar