“Bertahan 32 Tahun dengan Alat Cukur Tradisional - KOMPAS.com”

Jumat, 18 Mei 2012

“Bertahan 32 Tahun dengan Alat Cukur Tradisional - KOMPAS.com”


Bertahan 32 Tahun dengan Alat Cukur Tradisional - KOMPAS.com

Posted: 18 May 2012 07:41 AM PDT

KOMPAS.com — Di tengah berkembangnya alat cukur rambut yang serba elektrik, seorang tukang cukur di Situbondo, Jawa Timur, masih ada yang setia dengan peralatan cukur tradisionalnya.

Bahkan, hampir 32 tahun, Rahmad (72) bertahan dengan alat-alat cukur manual miliknya, seperti gunting rames, gunting biasa, pisau cukur, dan alat tradisional lainnya.

Tidak heran, dengan peralatan serba tradisional itu profesi Rahmat sebagai tukang cukur tradisional lambat laun mulai tersisih. Ia kalah saing dengan tukang potong rambut dengan peralatan modern yang kian marak, mulai dari yang menggunakan istilah pangkas rambut hingga salon kecantikan yang juga melayani penataan rambut.

"Saya bisa saja menggunakan alat cukur yang pakai tenaga listrik itu. Tapi, bagi saya, alat cukur tradisional ini lebih alami. Saya eman dan sayang dengan semua peralatan ini," kata Rahmad di tempat usahanya di Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Jumat (18/5/2012).

Tidak hanya alat-alatnya yang terbilang kalah saing. Lokasi tempat Rahmad membuka jasa sebagai tukang cukur rambut juga cenderung terpencil.

Sejak baru memulai usahanya pada tahun 1980-an silam hingga kini, bapak lima anak warga Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, itu masih bertahan di tempatnya semula, yakni di depan bangunan bekas stasiun kereta api (KA) Desa Sumberkolak.

Padahal, sejak trayek KA jurusan Situbondo-Bondowoso ditutup awal tahun 2000-an, lokasi stasiun itu jadi ikutan sepi. Bahkan, kini mirip bangunan tua yang mati. Hanya para petani dan warga sekitar yang masih sering lalu lalang di jalan setapak depan stasiun.

Meski begitu, kondisi itu tak mampu meluluhkan hati Rahmad untuk pindah lokasi ke tempat yang lebih ramai.

"Sejak awal saya sudah buka usaha di sini. Dulu, awal saya buka usaha, ongkos potong rambut masih Rp 10 per orang. Waktu stasiun masih buka, usaha saya ini cukup ramai. Makanya saya tidak mau pindah dari sini karena bagi saya ini tempat bersejarah," tukasnya.

Di depan stasiun itu, tempat usaha Rahmad berada di sisi persawahan dan hanya berteduh di bawah pohon mangga. Tidak ada tenda yang menaungi. Jika hanya turun hujan, Rahmad memboyong peralatan usahanya ke teras bangunan stasiun.

Para pelanggannya pun juga makin terbatas, yakni para orang tua maupun anak petani dan warga sekitar saja. Rahmad juga tidak mematok tarif atau ongkos untuk jasa cukur rambut.

"Orang kasih macam-macam, dari Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Tiap hari pendapatan saya tidak menentu, kadang sampai Rp 30.000, kadang Rp 20.000, kadang juga tidak ada sama sekali. Saya buka usaha ini mulai dari jam 07.30 sampai sore," tuturnya sambil tersenyum.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.24  

0 komentar:

Poskan Komentar