“Kampung Batik untuk Warga - Media Indonesia”

Selasa, 08 Mei 2012

“Kampung Batik untuk Warga - Media Indonesia”


Kampung Batik untuk Warga - Media Indonesia

Posted: 08 May 2012 10:01 AM PDT

SEBUAH ide tidak akan terwujud bila tidak ada upaya mewujudkannya. Begitu pula yang disadari Budi Dwi Hariyanto. Dengan dukungan para warga, Kampung Batik Palbatu akhirnya bisa terwujud.

Ide awal untuk membangun Kampung Batik Palbatu tidak berasal dari Harry--nama panggilannya--seorang diri. Saat itu, dua temannya yang bernama Iwan dan Bimo mendatanginya untuk mendiskusikan pembangunan kampung batik di wilayah mereka. Keduanya merupakan anggota karang taruna di kampung yang terletak di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, itu.

Rencana mereka ternyata sama dengan niat Harry untuk membuat kampung kreatif di wilayah mereka. Batik merupakan sarana terbaik untuk menggerakkan perekonomian warga sekitar meski di antara warga belum ada yang bisa membatik. Apalagi, Harry sendiri sudah lama bersentuhan dengan batik. Lelaki kelahiran Ambarawa, 11 Juli 1968 itu menggunakan batik sebagai materi untuk membuat kartu undangan sejak enam tahun lalu dalam bisnis yang dijalaninya.

"Secara umum, memunculkan kampung batik ini tidak oleh saya sendiri. Ada Mas Bimo, Mas Iwan, dan Mas Syarif di awal bangun ini. Banyak warga di sini juga bantu. Akhirnya, tahun lalu pada 21-22 Mei kita gelar acara yang dinamai Kampung Batik Palbatu. Sekarang, jadi Kampung Batik Palbatu Carnival," kata Harry ketika ditemui Media Indonesia di sela kesibukan mengurusi kegiatan tersebut di Jakarta, Sabtu (5/5).

Beberapa kegiatan diselenggarakan tahun lalu untuk menarik minat warga sekitar. Salah satunya dengan mengagendakan pemecahan rekor Muri. Kegiatan itu akhirnya terlaksana secara sukses dengan dukungan warga.

Antusiasme juga datang dari warga di luar Palbatu setelah Harry dengan aktif mempromosikan kegiatannya lewat media yang ia kenal. Setelah acara tersebut selesai, beberapa warga mulai tertarik untuk berbisnis batik.

Mereka membuka usaha dengan memanfaatkan tempat tinggal mereka. Setidaknya ada tujuh warga yang memutuskan untuk berbisnis batik, misalnya Omah Uban dan Rumah Batik Nona.

"Jadi, rumah warga di sini enggak cuma sebagai tempat tinggal, tetapi juga menopang perekonomian mereka juga. Atau, warga-warga yang belum punya kesempatan usaha, dengan adanya kegiatan ini, bisa saja buka gerai batik. Makanya, kita undang pembatik Nusantara itu agar ada interaksi antara warga dan para perajin supaya mereka bisa saling menginspirasi. Selain itu, progres untuk melestarikan batik itu tidak melulu hanya wacana-wacana," jelas Harry.

Sanggar membatik

Tak puas hanya menginspirasi orang membuka gerai batik, Harry juga menginisiasi pembukaan sanggar membatik di wilayah tersebut. Sanggar pertama bernama Sanggar Setapak karena berada di Gang Setapak, sedangkan sanggar kedua bernama Sanggar Cantingku. Keberadaan sanggar itu diharapkan, selain bisa memberikan alternatif kegiatan yang positif, membuat warga juga bisa memahami batik lebih dalam.

Ide itu akhirnya bisa terlaksana setelah salah satu warga mengizinkan lahan kosongnya digunakan sebagai sanggar. Untuk bisa beraktivitas, semua biaya ditanggung warga sendiri secara swadaya. Target utama kegiatan itu ialah warga setempat dan warga lainnya, terutama anak-anak sekolah.

Sebagai guru batik, mereka mengundang para pembatik asli dari berbagai daerah, misalnya perajin batik Betawi Sraci. Hal itu mengingat belum ada warga Palbatu yang ahli membatik.

"Kami berharap yang memanfaatkan hal ini bukan hanya penggagas, melainkan juga warga. Khususnya anak muda yang membutuhkan kegiatan alternatif di luar sekolah. Makanya, ada batik di jalan. Dengan media beda, mereka buat batik. Batik di dinding. Mereka rekam tampilan gambar-gambar. Harapan kami nanti mereka berani untuk menambahkan atau melengkapi gambar-gambar itu. Daripada mereka hanya main gim daring di warnet-warnet," cetus dia.

Awalnya, kegiatan di sanggar itu bebas biaya. Mereka bahkan menggelarnya setiap hari. Belakangan, ketika pesertanya mulai banyak, pengurus memutuskan mengenakan biaya untuk mengganti ongkos membeli malam dan kain.

Kegiatannya pun hanya digelar dua hingga tiga kali seminggu. Dengan begitu, mereka masih mampu menanggung kegiatan itu secara swadaya.

Belum sepakat

Meski ide yang diusung Harry dan kawan-kawannya positif, ternyata tak semua warga mendukung kegiatan tersebut. Menurut dia, ketidaksepakatan itu merupakan hal lumrah mengingat setiap orang memiliki pendapat masing-masing. Ia menghargai perbedaan pendapat tersebut dengan berusaha menggelar kegiatan tanpa mengusik kepentingan mereka yang tidak setuju.

"Enggak susah sebetulnya, tapi cara pandang itu kan enggak bisa dipaksakan untuk setuju dengan gagasan kita. Ini perlu proses. Kita enggak harus menyalahkan mereka. Kita harus hargai mereka yang tidak sependapat mungkin karena mereka belum mengerti atau belum sempat kita (berdiskusi) untuk menyampaikan visi-misi kita," ujarnya.

Penolakan itu sendiri tak menyurutkan langkahnya. Sumbangan tenaga untuk menggelar kampung batik itu bahkan tak hanya berasal dari warga Palbatu. Sejumlah perajin yang berasal dari luar daerah, seperti Wonosobo, Pati, Tasikmalaya, Cirebon, Bogor, Solo, Brebes, Kendal, hingga Pemalang, turut serta. Mereka mengontrak rumah warga untuk membuka gerai batik untuk meramaikan acara. Warga lainnya ikut meramaikan dengan berjualan makanan kecil. Dengan banyaknya partisipasi, ia mengharapkan eksistensi Palbatu sebagai kampung batik semakin diakui. Lagi pula, dukungan yang luas lebih berkontribusi positif terhadap keberadaan Palbatu.

"Kami berharap semakin banyak partisipasi dari masyarakat. Itu sudah membantu sekali kegiatan kita ini karena belum semua warga bergerak bersama kita. Tapi, yang sudah mengerti visi-misi kita sudah bisa bergabung. Tapi, kita tidak menutup diri. Kampung batik ini tidak hanya untuk warga Palbatu, tapi milik warga Indonesia yang ingin belajar batik. Kita ingin buat kawasan ini sebagai tempat belajar batik. Jadi, mereka punya tempat alternatif," tukasnya. (M-5)

Biodata

Nama: Budi Dwi Hariyanto
Tempat, tanggal lahir: Ambarawa, 11 Juli 1968
Pendidikan: Akademi Teknik Desain Interior
Anak: Aldrich Atha Rheza Hariyanto, Isad Atha Reza Hariyanto, Rajwa Khalisa Hariyanto
Pekerjaan: Pemilik Domino Wedding Cards
Penghargaan: Penerima penghargaan Muri untuk undangan unik dari payung kertas terbanyak

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.25  

0 komentar:

Poskan Komentar