“KASUS ANGGORO—KPK buka peluang pengadilan in absentia”

Jumat, 04 Mei 2012

“KASUS ANGGORO—KPK buka peluang pengadilan in absentia”


KASUS ANGGORO—KPK buka peluang pengadilan in absentia

Posted: 04 May 2012 05:47 AM PDT

JAKARTA:  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang untuk mengadili  secara in absentia terhadap  Anggoro Widjojo, tersangka kasus dugaan suap proyek Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) yang hingga kini masih menjadi buronan kepolian internasional. 

Johan Budi, Juru Bicara KPK, menyatakan segala kemungkinan bisa saja terjadi termasuk mengadili Anggoro secara in absentia apabila pemilik PT Masaro Radiocom tersebut tak kunjung ditemukan oleh Interpol.

"Segala kemungkinan bisa saja terjadi," ujarnya kepada pers hari ini di kantor KPK, Kuningan, Jakarta.

Sebagai informasi sidang In absentia dapat diartikan pemeriksaan suatu perkara tanpa kehadiran pihak tergugat dalam perkara perdata dan tata usaha negara atau terdakwa dalam perkara pidana. 

Persidangan ini bisa dilakukan apabilat terdakwa tinggal atau pergi ke luar negeri, adanya usaha pembangkangan dari terdakwa misalnya melarikan diri. Selain itu terdakwa tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang jelas walaupun telah dipanggil secara sah

Johan juga menyatakan hingga kini lembaga anti korupsi tersebut belum mendapatkan kabar dari Interpol mengenai posisi pasti dari Anggoro. KPK mengakui kesulitan menangkap yang bersangkutan karena adik dari Anggodo tersebut lari ke luar negeri.

"Kalau buron lari ke luar negeri itu memang sulit dikejar," tegasnya.

Adapun terkait dengan pemeriksaan terhadap mantan anggota Komisi IV DPR RI Azwar Chesputra, Johan menambahkan hal tersebut merupakan upaya KPK untuk memenuhi kelengkapan berkas agar kasus tersebut dapat maju ke tingkat penuntutan. 

"Upaya ini dilakukan untuk melengkapi berkas untuk ke proses selanjutnya yaitu penuntutan," tutur Johan. 

Sebagai informasi dalam kasus ini, Azwar bersama Hilman Indra (Fraksi PBB) dan Fahri Andi Leluasa (Fraksi Golkar) diduga menerima sejumlah uang dalam rangka memuluskan persetujuan anggaran proyek SKRT di Kementerian Kehutanan. 

Anggoro selaku pemberi uang suap bermaksud menjadi rekanan dalam proyek SKRT. Berdasarkan fakta persidangan, Azwar terbukti menerima uang sebesar Sin$5.000 dan Fahri memperoleh senilai Sin$30.000.  Sedangkan terdakwa Hilman kebagian jatah lebih besar yakni sebanyak Sin$140.000. 

Uang juga mengalir ke mantan Ketua Komisi IV DPR, Yusuf Erwin Faisal. Anggoro yang berstatus tersangka sejak 23 Juni 2009 belum berhasil ditangkap oleh KPK. Kakak kandung terpidana Anggodo Widjojo tersebut sempat dikabarkan bersembunyi di China dan Singapura. (sut)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.34  

0 komentar:

Poskan Komentar