“FOOD ESTATE PAPUA: Rajawali segera buka lahan 5.000 ha”

Jumat, 01 Juni 2012

“FOOD ESTATE PAPUA: Rajawali segera buka lahan 5.000 ha”


FOOD ESTATE PAPUA: Rajawali segera buka lahan 5.000 ha

Posted: 01 Jun 2012 07:32 AM PDT

JAKARTA:  Anak perusahaan PT Rajawali Corpora, PT Cendrawasih Jaya menargetkan proses pembukaan lahan (land clearing) di Merauke Papua pada tahun ini seluas 5.000 hektare, setelah memperoleh izin dari Kementerian Kehutanan belum lama ini.

PT Rajawali Corpora merupakan salah satu perusahaan yang ikut menggarap program pertanian terpadu dalam skala luas atau Merauke Integrated Food Estate and Energy (MIFEE).

Direktur PT Cendrawasih Jaya Mandiri Heru Priyono mengatakan perkembangan investasi perkebunan dari perusahaan itu di Merauke berjalan dengan baik. Apalagi, izin dari Kementerian Kehutanan sudah diperolehnya. Demikian juga perizinan Izin Usaha Perkebunan dari Gubernur Papua.

"Progress oke, izin Menhut sudah beres, izin usaha perkebunan dari Gubernur Papua sudah oke. Saat ini kami fokus land clearing [pembukaan lahan," ujarnya kepada Bisnis, hari ini, Jumat 1 Juni 2012.

Menurutnya, perusahaan itu menargetkan proses land clearing pada tahun ini seluas 5.000 ha. Selain itu, PT Cendrawasih, katanya, juga menargetkan pembangunan jalan sepanjang 35 km pada tahun ini yang sudah terealisasi seluas 20 km.

Dia menambahkan selain pembangunan jalan, infrastruktur lain yaitu dermaga yang akan segera dibangun dan saat ini masih dalam tahap perencanaan.

Cendrawasih akan menyiapkan lahan perkebunan seluas 25.000 ha untuk perkebunan tebu. Lahan tersebut berada di Distrik Kurik dan Malind Merauke.

Untuk mendukung perkebunan itu, Cendrawasih Jaya akan membangun pabrik gula. Kapasitas terpasang pabrik gula tersebut sebesar 12.000 ton cane per day (tcd).

Pabrik gula itu diperkirakan dapat mulai beroperasi pada tahun depan. Nilai investasi yang dibutuhkan untuk membuka perkebunan dan membangun PG baru tersebut jumlahnya sekitar Rp3 triliun.

Perinciannya, sebanyak Rp 1,7 triliun-Rp 1,9 triliun digunakan untuk pembanguan pabrik dan fasilitasnya, sedangkan sisanya untuk pembukaan lahan dan penanaman.

Hingga saat ini sudah tersedia hak penggunaan lahan (HPL) seluas 228.000 hektare di kawasan sentra produksi pertanian di Merauke atau Merauke Integrated Food Estate and Energy (MIFEE) yang diperkirakan akan mulai berproduksi pada 2013, sedangkan lahan lainnya masih menunggu Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Papua.

Lahan 228.000 ha itu dikelola oleh beberapa perusahaan. Namun, hanya ada 2 perusahaan yaitu PT Rajawali Corpora dan PT Murdaya Poo yang akan mulai berproduksi pada 2013.

Program pengembangan kawasan sentra produksi pertanian di Merauke atau Merauke Integrated Food Estate and Energy (MIFEE) masih terganjal persoalan rencana tata ruang wilayah Provinsi Papua yang hingga saat ini belum selesai.

Kementerian Pertanian menetapkan lahan 570.000 ha yang dapat dikembangkan investor untuk berinvestasi di kawasan itu. Lahan seluas 570.000 ha tersebut merupakan tahap pertama pengembangan lahan untuk periode 2010-2014.

Presiden Komisaris PT Wilmar Indonesia M.P. Tumanggor mengatakan perkembangan investasi perkebunan Wilmar di Merauke masih jalan di tempat. Menurutnya, saat ini masih dalam proses sosialisasi kepada masyarakat ulayat agar mereka menerima terhadap perkebunan sawit atau tebu.

"Papua [food estate] masih jalan di tempat. Kami masih sosialisasi kepada masyarakat ulayat agar mereka wellcome kepada sawit maupun gula," jelasnya.

Wilmar Group mengajukan lahan seluas 40.000 ha yang direncanakan untuk perkebunan tebu. (Bsi)

BERITA LAINNYA:

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 13.06  

0 komentar:

Poskan Komentar