“Memulai usaha dengan pinjaman rentenir - Kontan”

Minggu, 08 Juli 2012

“Memulai usaha dengan pinjaman rentenir - Kontan”


Memulai usaha dengan pinjaman rentenir - Kontan

Posted: 08 Jul 2012 12:36 AM PDT

Inspirasi Profil Ali Imron (2)

Ali Imron mulai terjun ke dunia usaha sejak lulus kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kediri, Jawa Timur. Lulus kuliah pada tahun 1998, Ali mengawali bisnis dengan membuka toko sepatu di Tanggulangin, Sidoarjo.

Untuk membuka toko sepatu ini, ia meyiapkan modal sekitar Rp 10,5 juta. "Semua berasal dari pinjaman orang tua," katanya.
Modal tersebut digunakan buat menyewa kios di pasar tradisional. Biaya sewa kios ini mencapai Rp 7,5 juta untuk sewa selama sepuluh tahun. Sementara sisanya dipakai buat modal membeli sepatu dan sandal.

Setelah berjalan selama dua tahun, usaha toko sepatu Ali mulai menunjukkan kemajuan. Namun, ia tidak lantas puas dengan hasil tersebut.
Ali kemudian memilih meninggalkan bisnis ini dan menyerahkan pengelolaanya kepada sang istri. "Kebetulan saat itu saya sudah menikah," ujarnya.

Keputusannya meninggalkan usaha toko sepatu itu bukan tanpa alasan. Baginya, menjadi penjual sepatu dan sandal saja tidak cukup untuk menjadi seorang pengusaha.

Bukan hanya pedagang, seorang pengusaha juga harus menjadi produsen. Ali mengaku, pengalaman mengelola toko sepatu cukup membantunya memahami seluk beluk bisnis ini.

Setidaknya ia bisa memahami selera pasar. Namun, Ali tidak buru-buru merealisasikan keinginannya itu.
Selama setahun, ia masih berjualan dengan membuka toko baru. Sementara toko pertama masih beroperasi dan dikelola oleh isterinya.

Toko baru ini, buka tahun 2001 dengan modal awal sebesar Rp 5,5 juta. "Semua saya pinjam dari rentenir. Sama sekali tidak menggunakan modal dari bisnis sebelumnya," jelas Ali.

Di toko yang baru, Ali menjual sepatu dan tas. Selama setahun berjualan, ia melihat peluang bisnis tas cukup besar dan tak kalah menjanjikan dari sepatu.

Yakin potensi pasar tas menjanjikan, tahun 2001, Ali mulai terjun ke usaha pembuatas tas dan sepatu. Belakangan, ia juga memproduksi dompet, sarung handphone (HP), dan ikat pinggang yang semuanya terbuat dari bahan kulit.

Saat terjun ke usaha ini, tingkat persaingan sudah lumayan ketat. Sebagai pendatang baru, awalnya kualitas produk sepatu dan tasnya masih diragukan.

Namun, Ali mencoba menepis keraguan itu dengan menghadirkan produk-produk yang memiliki keunikan dan kekhasan, baik dari segi desain maupun bahan. Selain kualitas produk, ia pun membangun brand produknya dengan bendera usaha OCCE Tanggulangin. Produk-produk hasil buatannya itu kemudian dipajang di toko sepatu dan tas miliknya.

Selain itu, ia juga rajin mengikuti pameran. Lambat laun, produk-produk tas dan sepatu buatannya semakin dikenal dan diminati pasar.
Skala produksinya juga terus meningkat. Bila sebelumnya volume produksinya hanya puluhan, kini sudah mencapai 750 unit sampai 800 unit per bulan.

Kendati sudah sukses, Ali tetap tak berhenti berinovasi. Ia tetap rajin merilis produk-produk terbaru. Salah satunya adalah tas santai dengan bentuk kuno atau jadul (zaman dulu).

Kesan kuno muncul dari lapisan kulitnya yang tetap dibiarkan seperti aslinya. Meski tergolong jadul, tapi bentuknya dibuat semenarik mungkin sehingga terlihat gaul. Harga tas ini berkisar Rp 425.000 - Rp 1,75 juta.

(Bersambung)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Incinerating Assange - The Liberal Media Go To Work.

Diposkan oleh iwan di 13.13  

0 komentar:

Poskan Komentar