“Sentra Kerudung Garut: Buka pasar baru (3) - Kontan”

Minggu, 21 Oktober 2012

“Sentra Kerudung Garut: Buka pasar baru (3) - Kontan”


Sentra Kerudung Garut: Buka pasar baru (3) - Kontan

Posted: 21 Oct 2012 06:13 AM PDT

SENTRA KERUDUNG DI DESA PANEMBONG, GARUT

Sentra Kerudung Garut: Buka pasar baru (3)

Jumlah perajin kerudung dan kain rajut di Desa Panembong, Garut, terus bertambah banyak. Saat ini sudah sekitar 60% warga kampung itu yang menggantungkan rezeki dari bisnis pembuatan kerudung dan kain rajut.

Tak pelak persaingan berebut pasar pun semakin ketat. Efek positifnya, itu membuat para perajin semakin kreatif mencari celah pasar. Ada berbagai strategi para perajin agar mereka bisa menjual produk mereka. Misal, promosi  via dunia maya dan membuka target pasar baru.

Abdul Ropik, salah seorang produsen kerudung Desa Panembong menuturkan, sejak membuka usaha kerudung tahun 2000 silam, ia sudah mulai memikirkan strategi pemasaran yang lebih menjanjikan. Sebab, kalau cuma mengandalkan pasar-pasar tradisional, telah banyak pemasok di sana.

Akibatnya, harga produk berpotensi turun. Jika kerudung bisa dijual rata-rata dengan harga Rp 300.000 per kodi, maka kalau jumlah pemasok banyak, harganya bisa turun menjadi Rp 270.000 per kodi. Maka agar harga tetap stabil, Abdul memilih mencari pelanggan baru di luar mereka yang selama ini sudah menjadi mitra usaha

Salah satu cara Abdul adalah berpromosi lewat media internet. Baik itu lewat facebook, twitter, maupun website. Abdul sudah memiliki website sendiri untuk mengenalkan produknya. Menurutnya, promosi lewat internet ini cukup efektif menjaring pelanggan baru.

Selain gencar promosi, Abdul juga menjaga kualitas produknya. Ia tetap konsisten membeli bahan produk kerudung dari Pasar Baru, Bandung yang sudah terkenal kualitas kainnya.

Berbeda dengan Abdul, Haji Ubun Bunyamin memilih tetap memasarkan produknya secara tradisional yakni lewat toko dan pelanggan setianya. Makanya, ia saat ini sudah memiliki beberapa toko yang siap menjual produk kerudungnya baik di Garut maupun di Jakarta.

Haji Ubun juga menggunakan strategi kemitraan dengan beberapa pemilik toko kain di Jakarta. Caranya, Abdul menitipkan produk di toko tersebut dan keuntungan dibagi dengan pemilik toko.

Haji Ubung mengaku rada gaptek alias gagap teknologi sehingga belum tertarik memasarkan produk lewat internet. Apalagi ia juga tidak begitu paham mekanisme penjualan lewat media online sehingga ia memilih setia memakai jalur pemasaran tradisional dan memahami selera pasar. "Agar produk bisa terjual habis, ya harus tahu kebutuhan pasar," paparnya.

Yayan, perajin kerudung lain mengatakan, persaingan antar perajin kerudung memang cukup ketat. Pasalnya, produsen kerudung cukup banyak di Desa Panembong dan mereka umumnya memiliki target pasar yang hampir sama yakni Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Otomatis jika pasokannya  membludak, harga produk pasti turun,  sehingga keuntungan yang didapat akan berkurang. Yayan pun berusaha mencari pasar baru untuk menjual produknya. Selain rutin membuka lapak di Tanah Abang, ia juga rajin mencari pelanggan baru di luar Ciamis, Tasikmalaya, dan Cianjur.

Menurutnya, permintaan kerudung di daerah itu cukup tinggi, sementara sebagian besar pedagang di sana membeli kerudung dari Tanah Abang.  Nah, ketimbang mereka harus ke Tanah Abang, Yayan pun memasok kerudung ke daerah itu. 

(Selesai)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Incinerating Assange - The Liberal Media Go To Work.

Diposkan oleh iwan di 13.37  

0 komentar:

Poskan Komentar