“Menghapus Stigma dan Diskriminasi ODHA: Kami Berhak Hidup ... - Suara Karya”

Senin, 10 Desember 2012

“Menghapus Stigma dan Diskriminasi ODHA: Kami Berhak Hidup ... - Suara Karya”


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Menghapus Stigma dan Diskriminasi ODHA: Kami Berhak Hidup ... - Suara Karya

Posted: 10 Dec 2012 12:16 PM PST

 
 
Menghapus Stigma dan Diskriminasi
ODHA: Kami Berhak Hidup dan Bangkit

Selasa, 11 Desember 2012

Perjalanan investigatif Suara Karya di Pulau Bali bersama concelor dan pendamping LSM peduli HIV/ AIDS maupun dari Kemensos yang diwakili Enang Rochjana, Kasie Pelayanan Sosial Kelompok Minoritas Direktorat Rehabilitasi Sosial dan Tuna Sosial menemukan sejumlah ODHA yang memiliki asa yang kuat untuk bertahan hidup bahkan memiliki keinginan besar di sisa-sisa hidupnya memberikan arti bagi keluarga dan lingkungannya.
Reportase tersebut terungkap dalam penuturan Wayan Alit (36 th), ODHA asal Kabupaten Klungkung yang mengakui menjalani hidupnya dengan tetap bersemangat meski telah divonis positif HIV.
"Awalnya kaget dan sedih, namun seiring waktu berjalan, saya bisa menerima ini sebagai takdir Sang Hyang Widhi yang harus dijalani. Dukungan keluarga dan teman-teman di LSM Yayasan Spirit Paramacitra (YSP) membuat semangat hidup saya muncul kembali," ucap perempuan beranak dua yang kini menekuni pekerjaan sebagai perajin alang-alang untuk atap rumah maupun gazebo rumah makan. Meski hanya cukup untuk kebutuhan makan bersama dua buah hatinya, Wayan tetap bersyukur. Dari rekomendasi YSP, ODHA yang tadinya terusir dari lingkungan keluarga mantan suaminya ini mengaku mendapat modal usaha ekonomi produktif (UEP) dari Kemensos sebesar Rp 75 juta dan jaminan hidup (Jadup) untuk buah hatinya yang juga ADHA selama 6 bulan (2010) sebesar Rp 3,600,000,-. Harapan Wayan tidak muluk-muluk. Keberadaan orang seperti dirinya tidak dikucilkan oleh masyarakat. "Kalau boleh memilih tentu kami tak ingin terkena penyakit ini," ucapnya.
Harapan serupa juga diungkapkan oleh Sari Wirati (28 th), ODHA asal Karangasem yang terinfeksi HIV dari suami yang kebetulan bekerja sebagai sopir. "Meski sedih, namun saya bisa menerima kenyataan ini. Semenjak itulah saya mendapatkan perawatan rutin termasuk di dalamnya mengkonsumsi ARV secara teratur. Saya tetap bersyukur karena suami tetap memberikan dukungan dan semangat hidup kepada saya. Satu hal yang membuat saya sedih adalah perlakukan terhadap anak saat sekolah. Sedih mendengar anak dikucilkan oleh teman-temannya. Saya berharap anak saya bisa diperlakukan sama dengan anak-anak normal lainnya," ungkap Sari yang seharusnya memiliki tiga buah hati namun bungsunya meninggal karena terkena virus HIV. Anak pertama Tin-Tin Sintawati (6 th) tidak terkena virus namun adiknya Komang Agus (4,5 th) terindikasi sebagai ADHA sehingga terus mendapatkan pendampingan dari YSP. Sari yang aktif di kelompok sesama ODHA kini hidupnya makin optimis manakala dia juga mendapatkan bantuan UEP dan Jadup dari Kemensos. Bantuan UEP, dia pergunakan untuk usaha penggemukan babi yang kini berkembang dari tiga ekor menjadi lima ekor.
Kisah lainnya juga terungkap dari ADHA yang tinggal di Gianyar. Ni Nyoman Agustina Rahayu (7 th). Yatim piatu itu kini diasuh kakek dan neneknya. Cobaan yang dialami sang nenek Wayan Jaya (58th) sungguh berat. Kematian putra kesayangannya yang tak lain adalah ayahanda Agustina diakibatkan terkena HIV/ AIDS. Tak lama berselang berapa bulan disusul anak mantunya yang tak lain ibu Agustina. Kini cucu kesayangan Wayan Jaya justru menanggung derita, positif terinveksi HIV/ AIDS.
Agustina terinfeksi saat baru berusia 3 tahun. Kepiluan dialami kedua orang tua bersama cucu tercinta ini tidak berhenti disitu saja. cucunya yang kini duduk di bangku TK, yang seharusnya menikmati masa anak-anak yang indah harus menghadapi cobaan yang luar biasa berat. Tetangga, masyarakat bahkan teman-taman sekolahnya menjauhinya, selalu menyebutnya anak penyakitan yang bisa menular. "Sungguh air mata ini sudah kering dan tak ada lagi yang tersisa," ucap Wayan getir yang ditemani concelor dari Yayasan Buah Hati Denpasar Putri Stuti.
"Tapi di dunia ini selalu saja ada orang-orang baik yang memberi semangat hidup bagi orang lain. Dari guru TK cucu saya, hingga pemerintah dan LSM yang terus memperhatikan kami. Mendukung kami bahkan memberi pengertian kepada masyarakat bahwa kami ini juga berhak atas dunia ini. Dan Tuhan selalu memiliki rencana sendiri buat tiap umatnya. Cucuku Agustina kini tumbuh menjadi anak yang cerdas, rajin dan hidup normal," ungkapnya.
Dia aktif mengikuti les tari dan mata pelajaran lainnya. Semangat hidup anak yang tanpa dosa itu, akhirnya memberi keluarga kecil ini kekuatan laur biasa. Asa mereka kembali muncul saat bantuan dari Kementerian Sosial yang memberi permodalan melalui UEP dan Jadup serta perhatian dari LSM Yayasan Buah Hati. Kini Wayan Jaya telah memiliki ternak babi, itik, dan ayam sebagai bekal mengarungi sisa hidup dan bekal bagi cucu tercinta kelak.

Cahaya di Kegelapan


Beragam cerita pilu menjadi makanan keseharian dari aktivitis peduli AIDS dari LSM Yayasan Spirit Paramacitra. Menurut concelor Yayasan Spirit Paramacitra (YSP) Istina Dewi, para penderita HIV/AIDS ini seharusnya tetap dipandang sebagai manusia biasa yang tetap memiliki hak untuk berkarya seperti manusia lainnya. Stigma-stigma negatif meskipun tetap ada dari hari ke hari harus makin direduksi. Karena jangan salah, kadang-kadang orang tak berdosapun ibaratnya bisa tertular virus ini.
"Secara khusus kami memang memberikan pendampingan pada ODHA/ADHA ini dengan harapan mereka tetap bisa berarti dalam kehidupannya dan menjadi manusia yang produktif. Kami ingin memberikan pemahaman bahwa bagi penderita HIV/AIDS masih memiliki cahaya dan asa dalam kehidupan mereka," ujar aktivis perempuan asal Blitar ini.
Antin panggilan akrabnya merasa bersyukur banyak dari ODHA yang dia dampingi bisa menjalankan usahanya dengan baik. Antin membeberkan data saat ini lembaganya menangani 17 ODHA dan menerima bantuan UEP. Selain itu juga memberikan pendampingan pada 12 ADHA yang menerima bantuan Jaminan Hidup.
Antin menyebut lembaganya mendampingi penerima bantuan di wilayah Denpasar, Karangasem dan Klungkung. "Kami berharap dengan sosialisasi massif orang akan lebih mengerti tentang persoalan HIV/AIDS dengan harapan stigma-stigma negatif akan berkurang dan menganggap ODHA dan ADHA sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pada umumnya," jelasnya.
Concelor Antin maupun Putri Stuti serta pendamping dari Yakeba Bali Muhammad Faiz mengakui baik Dinas Sosial Provinsi Bali dan Kemensos berperan sangat aktif dalam merumuskan dan bekerja guna menanggulangi persoalan pelik terkait terkucilnya ODHA dan ADHA ini. Kini, telah ada 17 orang ODHA yang memperoleh pendampingan dan bantuan permodalan usaha Usaha Ekonomi Produktif (UEP), dengan perincian: 5 orang di wilayah Singaraja, 6 orang di wilayah Jembrana, 2 orang di Denpasar, 2 orang di daerah Karangasem, 1 orang asal Klungkung serta 1 orang lainnya dari Tabanan. Sebelum menerima bantuan UEP, sebenarnya sebagian ODHA tersebut telah mencoba membuka usaha, namun sayangnya tidak berkembang. Hal ini dikarenakan modal usaha mereka seringkali terpakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alhasil usahanya pun mandek dan modal habis untuk kebutuhan konsumtif.
"Dengan adanya UEP bagi mereka seperti sebuah oase di padang pasir, sebuah uluran tangan yang telah ditunggu-tunggu. Mereka pun menyambutnya dengan penuh kesungguhan demi sebuah kehidupan yang lebih baik dan hal itu terbukti karena usaha mereka terus berkembang hingga hari ini. Bahkan sebagian sudah berani mengembangkan usahanya, diversifikasi usaha atau juga mengubah bentuk usahanya yang dinilai lebih menjanjikan. Beberapa perubahan dan perkembangan usaha itu, seperti : dari buka warung kemudian beralih ke penggemukan babi. Ada juga yang awalnya beternak kambing kini berkembang menjadi beternak sapi yang lebih prospektif" ucap pendamping ODHA/ADHA Muhammad Faiz dari Yakeba.
Namun harus diakui, mereka tidak hanya butuh permodalan namun juga pendampingan yang intens agar usaha mereka berkelanjutan. (Sofyan)

Diposkan oleh iwan di 13.44  

0 komentar:

Poskan Komentar