“Tersangka kasus gas oplosan ditangkap - Waspada Online”

Minggu, 30 Desember 2012

“Tersangka kasus gas oplosan ditangkap - Waspada Online”


Tersangka kasus gas oplosan ditangkap - Waspada Online

Posted: 30 Dec 2012 11:07 AM PST

RIDIN
WASPADA ONLINE

MEDAN - Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus gas oplosan bersubsidi, Robert Ketaren, ditangkap tim penyidik Subdit I Indag (Perindustrian dan Perdagangan) Reserse Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Sumut. Tersangka ditangkap dari kediamannya di kawasan Kampung Tipar, Kel. Cimanggis Depok, Jawa Barat  dinihari tadi sekira pukul 01.00 WIB.

Tersangka kemudian dibawa ke Medan dengan menggunakan pesawat Lion Air dan tiba di Bandara Polonia Medan, Minggu (30/12) sekira pukul 11.00 WIB siang tadi.

join_facebookjoin_twitter

Saat diwawancarai di Bandara Polonia Medan, tersangka membantah bahwa usaha gas tersebut miliknya. "Nggak ada, nggak tahu saya," ucapnya sembari berjalan dengan dikawal beberapa petugas Subdit I Indag Reskrimsus Polda Sumut dan kemudian diboyong ke Mapolda Sumut dengan menggunakan Mobil Kijang Inova hitam BK 1997 KL.

Begitu juga saat diwawancarai di Markas Dit Reskrimsus Polda Sumut, tersangka tidak banyak berbicara. "Nggak tahu saya bang," ucapnya lagi.

Kepala Subdit I Indag Reskrimsus Polda Sumut, AKBP Edi Fariadi mengatakan, tersangka merupakan orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini. "Dia merupakan direkturnya. Sudah dua kali dilakukan pemanggilan sebagai tersangka, tetapi tidak menghadiri panggilan tanpa memberikan alasan. Dia ditetapkan DPO sejak tanggal 13 Desember," ujar Edi kepada wartawan saat ditemui di Mapolda Sumut.

Menurut Edi, dalam kasus ini tersangka terbukti menyalahgunakan izin usahanya dengan memindahkan isi tabung gas ukuran 3 kg bersubsidi ke dalam ukuran 12 kg nonsubsidi yang tidak memiliki izin usaha industri PT Jaya Nusantara Simalem.

Saat ditanya apakah yang bersangkutan memang benar berprofesi sebagai pengacara, Edi menuturkan bahwa tersangka tidak memiliki kartu identitas pengacaranya. "Dia hanya buka kantor Pengacara saja," jawabnya.

Edi menambahkan, saat ini tersangka masih dalam pemeriksaan penyidik dan akan dijerat Undang-undang (UU) Tindak Pidana Perindustrian dan Perlindungan Konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Jo 13 UU RI Nomor 5 Tahun 1984 dan Pasal 62 Jo Pasal 8 UU RI Nomor 8 Tahun 1999.

Seperti diketahui, tim penyidik Subdit I Indag Reskrimsus Polda Sumut, memburu tersangka kasus pengoplosan gas subsidi, yakni Robert Ketaren. Pasalnya, sejak ditetapkan sebagai tersangka, Robert Ketaren tidak pernah hadir meski telah dua kali dipanggil penyidik.

Pria yang disebut-sebut berprofesi sebagai pengacara ini diyakini masih berada di Jakarta. "Kita masih mencari keberadaan tersangka di Jakarta, karena surat perintah membawa paksa sudah kita keluarkan," kata Direktur Dit Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Pol Sadono Budi Nugroho.

Lanjut Sadono, yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penemuan gudang pengoplosan gas bersubsidi di gudang pupuk PTPN II Jalan Desa Simalingkar A No.1, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (13/9) lalu.

Robert Ketaren ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan keterangan salah seorang karyawan perusahaan bernama Ari (28), yang kedapatan sedang mengoplos gas LPG subsidi tabung 3 kg ke tabung 12 kg untuk dijual dengan harga nonsubsidi. Karyawan itu mengaku pemilik usaha gas oplosan itu adalah Robert Ketaren.

Dari penggerebekan itu, sambung Sadono, petugas menyita barang bukti berupa 1.300 tabung elpiji kosong 3 kg sebanyak 1.300, 48 tabung berisi gas 3 kg, 98 tabung kosong 12 kg serta 140 tabung berisi. Selain itu, disita juga timbangan duduk dua unit, tutup tabung dua goni dan selang yang digunakan untuk memindahkan tabung dari 3 kg ke 12 kg sebanyak 70 buah.

Editor: AGUS UTAMA
(dat06/wol)

WARTA KARTUN

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Diposkan oleh iwan di 13.39  

0 komentar:

Poskan Komentar