“Suka Duka Pengusaha Muda Sylvia Gunawan Dirikan Restoran ... - Detikcom”

Kamis, 25 April 2013

“Suka Duka Pengusaha Muda Sylvia Gunawan Dirikan Restoran ... - Detikcom”


Suka Duka Pengusaha Muda Sylvia Gunawan Dirikan Restoran ... - Detikcom

Posted: 25 Apr 2013 03:53 AM PDT

Kamis, 25/04/2013 17:10 WIB

Intimate Interview

Arina Yulistara - wolipop

img

Dok. Robby Agus

Jakarta - Dalam setiap usaha pasti memiliki kesulitan masing-masing. Sylvia Gunawan, pendiri restoran Jepang, Mika Japanese Bistro, di Kota Kasablanka, Jakarta, mengaku kendala awal yang dialaminya saat pembentukan rumah makan tersebut adalah waktu. Ia merasa ketidaktepatan jadwal yang telah dibuatnya menjadi kesulitan pertama di awal usahanya.

"Kontraktor mungkin lagi holiday season jadi datangnya nggak on time. Furniture suka datangnya juga nggak on time. Terus cari kursi susah, untuk menu juga ketar-ketir ya," cerita Sylvia saat berbincang-bincang dengan wolipop beberapa waktu lalu di sebuah studio kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Selain itu, Sylvia merasa mengajari para karyawan juga perlu melalui proses bertahap karena setiap orang memiliki karakter serta keahlian yang berbeda. Wanita yang baru pertama kali menjalani bisnis kuliner itu pun berusaha sabar dan tetap antusias menjalaninya agar tidak stres.

"Perlahan-lahan, pelan-pelan ya sudah kita overtime saja. Kita latih terus, jangan itu dibuat stres juga ya," ujarnya kemudian.

Agar tidak stres karena berbagai kesulitan yang datang di awal usahanya, wanita kelahiran 2 Oktober 1988 itu menyiasatinya dengan pergi bersama teman atau keluarga saat hari libur. Tidak hanya itu, ia selalu menjaga kesehatan serta merawat diri dalam kesehariannya.

Namun Sylvia mengaku tidak memiliki perawatan khusus. Ia hanya melakukan seperti yang dilakukan oleh wanita pada umumnya, seperti mencuci muka setelah beraktivitas seharian dan pakai sunblock sebelum berpergian. Untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulitnya, Sylvia biasa merebus sayuran dan dikonsumsi sebelum ia tidur malam.

"Sayur, jagung, tomat, semua direbus atau disteam gitu ya, memang lebih hambar tapi untuk menyeimbangkan apa-apa saja yang kita sudah makan di luar tadi," katanya ramah.

Dalam hal berpenampilan, Sylvia mengaku tidak selalu terpengaruh dengan tren yang terus berkembang. Begitu pula dalam berbisnis. Ia pun menyarankan kepada wanita Indonesia untuk berpikir lebih panjang saat mau membuka usaha jangan hanya terpaku oleh tren. Pikirkan risiko dan perkiraan kesuksesan bisnis yang kini sedang dirintis.

"Jangan terlalu termakan dengan tren, jangan deh. Kalau mau ikut-ikutan tren lihat visibility-nya.. Lihat sampai berapa lama tren ini bertahan. Jadi jangan harap buka investasinya besar, tapi ternyata trennya sudah meredup. Cobalah berpikir untuk jangka panjang," saran wanita lulusan Arts Institute of California, Los Angeles itu diakhir pembicaraan.

(aln/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi :
  • email : sales[at]detik.com

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Thatcher's Tyrants - The Tanks, The Guns, The Christmas Cards.

Diposkan oleh iwan di 13.31  

0 komentar:

Poskan Komentar