“Mahasiswa Unmuha Praktek Wirausaha di Halaman Kampus - The Globe Journal”

Senin, 27 Mei 2013

“Mahasiswa Unmuha Praktek Wirausaha di Halaman Kampus - The Globe Journal”


Mahasiswa Unmuha Praktek Wirausaha di Halaman Kampus - The Globe Journal

Posted: 27 May 2013 01:58 AM PDT

M. Nizar Abdurrani | The Globe Journal

Ada yang berbeda di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Batoh Banda Aceh sejak tanggal 20 – 24 Mei 2013 lalu. Halaman yang biasa dijadikan lapangan parkir berubah hiruk pikuk menjadi pasar "kaget". Ada puluhan stand warna-warni berdiri mengelilingi halaman, bahkan terdapat panggung kecil di tengahnya. Mulai dari jam 08.00 sampai jam 06.00 pasar ini dibuka untuk umum namun tentu saja  pengunjung terbesarnya adalah mahasiswa yang kuliah di Unmuha. Ada berbagai macam barang yang dijajakan, makanan, minuman, asesoris, pakaian bahkan perbankan juga ikut membuka stand. Memangnya ada apa ya?

The Globe Journal di siang yang terik dan berdebu, Kamis lalu (23/05/2013) berkesempatan melihat-lihat acara keramaian yang diberi nama Pameran Wirausaha Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmuha, bersama dengan dosen pengasuh mata Kuliah Kewirausahaan, Darwis, S.Sos.  Pria paruh bayah berambut cepak ini mengajar di jurusan Manajemen dan Akuntasi sekaligus bisa dibilang penggagas acara ini. Dengan ditemani segelas minuman dingin, ia pun bercerita.

Darwis mengatakan Pameran Wirausaha mahasiswa kali ini dilaksanakan dengan scope yang lebih luas dan berbeda dengan kegiatan bazar mahasiswa. " Ada partisipasi dari sponsor luar kampus seperti perbankan, perusahaan kendaraan bermotor dan operator seluler sehingga kegiatan ini lebih besar dari bazar. Kegiatan Ini merupakan tujuan akhir dari mata kuliah kewirausahaan. Peserta bazar adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah kewirausahaan. Keseluruhan ada 28 stand sedangkan mahasiswa terlibat ada 200 lebih mahasiswa," jelas Darwis membuka pembicaraan.Setiap  kelompok terdiri dari dari sembilan sampai 15 orang dan mereka mengumpulkan duit sebagai modal awal membuka stand.  

Pameran Wirausaha Ini merupakan pameran yang kedua setelah yang pertama tahun lalu. Dibanding tahun lalu, penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan baik secara kualitas dan kuantitas, lebih ramai dan lebih banyak dari tahun perdana. Jumlah peserta lebih ramai dan produk yang dijajakan bermacam-macam. Yang tahun lalu tidak ada tapi kini sudah ada misalnya produk Top Kopi. "Ini sebenarnya bukan stand dari perusahaan tapi memang dari mahasiswa. Terus ada debat mahasiswa tentang kewirausahaan dirangkai dengan pemilihan stand terbaik. Ada juga panggung kesenian dari mahasiswa. Ini berbeda dengan tahun lalu,"kata Darwis bersemangat.

Ada 20 stand mahasiswa yang aktif di bazar. Dari hari ke hari peminat bazar terus bertambah. "Kita terima terus. Ini perkembangan pameran semester ini.  Stand dari luar membayar dalam artian membantu ketimbang kita menawarkan proposal saja. Kegiatan ini menjadi kegiatan tahunan Universitas Muhammadiyah (Unmuha) dan kelak menjadi semacam brand-nya Unmuha," Darwis mengungkapkan keinginannya.  

Peserta bazar mengeluarkan biaya sendiri untuk membuka stand. Memang ada support dana dari fakultas tapi untuk operasional pembukaan dan penutupan acara. Peserta pameran ada yang buka usaha demi mengikuti bazar namun ada juga mereka yang memang sudah eksis menjalankan usaha. "Bisa dikatakan 30 persen mahasiswa yang ikut bazar ini adalah pelaku usaha yang sudah eksis sebelumnya. Mulai dari bazar tahun lalu eksis sampai sekarang dan mereka sudah selesai kuliah. Pihak kampus melalui pelaksanaan mata kuliah Kewirausahaan terus memantau mereka. Kita undang mereka sebagai penghargaan karena mereka sudah mampu mandiri," kata Darwis.

Ada banyak peserta yang mau meneruskan usaha setelah bazar usai. Namun mahasiswa kebanyakan pendatang dari luar daerah jadi sulit memantaunya. Kecuali mereka sudah menetap disini akan dipantau. Kalau mereka memang mau membuka usaha, fakultas akan membantu. Baik secara mata kuliah atau bantuan lain dari fakultas.

Berapa omset pameran wirausaha ini? "Mengenai omset bazar, saya berkeliling dan bertanya-tanya kepada peserta. Ada yang pemasukan Rp.280 ribu ke atas dengan modal sekitar 50 ribuan. Omset-omset berasal dari menjual produk yang sederhana seperti kopi, minuman dingin, nasi bungkus dan sebagainya. Ada satu produk yang sangat menonjol atau diminati dalam bazar yaitu Pizza. Penjulannya gencar sekali sampai mereka mengantar keluar. Ada pemesan dari DPRA, Kodam dan sebagainya. Jaringan mereka juga terdapat di Darussalam Banda Aceh, Pizza Rakyat. Salah satu personilnya adalah mahasiswa Unmuha. Mereka tambah semangat, saya sarankan untuk buka cabang lagi setelah kegiatan ini," Darwis dengan bangga menceritakan salah satu stand mahasiswanya yang tergolong 'fenomenal'.

Seorang peserta bazar, Rahmat Fajri, mempunyai pendapat serupa tentang larisnya stand pizza. "Pizza usaha yang paling prospek bagi mahasiswa. Banyak yang beli, yang beli dari perusahaan-peruhsaan. Saya sempat check, dari DPRA banyak yang pesan. Itulah dalam bisnis koneksi penting," katanya.

Darwis mengatakan ada usaha yang jatuh bangun di arena pameran ini. Misalnya ada mahasiswa yang menjual keripik dan air minuman selama bazar minim penjualan. " Tetapi saya beri semangat mereka jangan berhenti dan tetap lanjutkan stand. Mereka tidak pun berhenti," ucapnya.

Manfaat bagi kampus dari kegiatan ini terlihat bahwa kampus ekonomi berusaha keras meningkatkan kualitas mahasiswa yang siap pakai setelah kuliah. Ilmu yang diperoleh dari ruang kuliah dapat mereka praktekkan di lapangan. "Mata kuliah Kewirausahaan ini tempat berhimpun semua mata kuliah yang telah mereka pelajari dan mengimplementasikannya. Mata Kuliah ini 3 SKS tapi dalam perjalanannya bisa lebih. Kalau dalam ruangan 3 jam mata kuliah mungkin 150 menit tapi dalam bazar ini mahasiswa dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore terus buka usaha. Kalau dikonversikan ke tatap muka, bisa berapa kali tatap muka. Banyak ilmu dalam mata kuliah lain yang terpakai di bazar," jelas Darwis.

Ternyata ada hal lain mendukung seseorang menjadi pengusaha yaitu semangat. " Kami bangkitkan semangat mereka untuk membangun. Tanpa semangat jangankan bisa membangun, acara ini saja bisa tidak terlaksana. Pada 10 pertemuan pertama matakuliah kami membangun jiwa mereka agar terbuka mata hatinya untuk berbuat. Kini kita bisa lihat kenyataannya di lapangan (di pameran-red)," ucapnya.

Darwis sendiri mempunyai usaha home industri yaitu membuat kue bawang dengan resep khas di rumahnya. " Kue bawang saya ada saya titip juga di stand bazar ini," katanya tersenyum.  

Unmuha saat ini berusaha untuk mendapat bantuan dari Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Dikti). Darwis bersama timnya sedang membuat proposal untuk diajukan ke Dikti. Proposal ini tentang mengolah hasil pertanian dan bisnis sehingga layak untuk dibantu oleh Dikti.   

Tantangan Melaksanakan Usaha 
Rahmat Fajri, peserta pameran yang ternyata juga Ketua Panitia ikut bercerita di siang itu. Ia adalah mahasiswa Manajemen Unmuha semester enam.

Rahmat menjalankan usaha keripik talas dan menjual kopi Gayo Robusta dan Arabika yang diberi nama "Anak Rantau". Ia memilih nama ini dengan alasana karena produknya diambil dari Aceh Tengah dibawa ke Banda Aceh merantau.  Ia bersama rekan-rekannya baru di pameran ini membuka usaha. Namun sepertinya ia tertantang untuk terus berbisnis pasca bazar. " Rencananya usaha ini akan dilanjutkan di Ulee Kareng, ditempat kawan saya yang  orang Aceh Tengah," kata Rahmat.

Rahmat bersama delapan temannya patungan masing-masing Rp.100 ribu. " Lihat hasil dari sini kalau tidak cukup tambah lagi. Hasil penjualan dalam bazar belum diketahui tapi menurutnya setiap hari ada peningkatan. Hari pertama kami dapat 80 ribu, hari kedua 110 ribu, sedangkan hari Rabu kemarin (hari ketiga-red) 135 ribu. Hari ini belum tahu. Ini pendapatan kotor, berapa persen keuntungan akan diketahui setelah rekap total hasil penjualan usai bazar, " ujarnya.

Bagi Rahmat Fajri, yang paling menantang dalam bazar ini adalah kedisiplinan. Kawan-kawannya sepakat buka jam 8 pagi, tetapi nyatanya susah sekali datang pada jam yang ditentukan. " Disiplin kurang, itu aja yang melemahkan. Sedangkan untuk jaga stand sudah ada daftar piket tapi yang jaga itu-itu saja," ceritanya sambil tertawa.

Rahmat sudah membuang jauh-jauh niat untuk menjadi PNS tamat kuliah nanti. " Saya dari kemarin memang tidak ada rencana jadi PNS, kecuali waktu SMA, karena waktu itu saya belum paham. Rencana mau buat usaha yang menyangkut kebutuhan bahan pokok, " ucapnya optimis.

Seorang mahasiswi ikut bergabung bersama kami dan berbagi pengalaman mengikuti pameran wirausaha. Ia bernama Salmiati, mahasiswi Jurusan Akuntasi, semester enam.  Standnya menyediakan asesoris, es teler, kue bawang ketela dan juga menjual kartu internet.

" Kalau es teler, kue bawang, asesoris buat sendiri. Sejak malam, di rumah sudah mulai memotong buah-buahan untuk dijual di stand. Belanja bahan di pasar Peunayong, pagi-pagi sudah dikerjain," kata gadis ini. Untuk menjaga kualitas produk, minumannya baru diracik ketika ada yang beli biar terasa segar. Kalau bahan baku tidak habis, maka sisanya akan mereka habiskan sendiri agar tidak dipakai lagi untuk keesokannya.  

Salmiati memang baru membuka usaha dalam bazar ini saja, tapi sebenarnya ia berencana membuka usaha sejak dari dulu. Ia pernah berjualan kartu internet di luar kampus. Setelah bazar selesai Salamiati berniat mau melanjutkan usaha. " Rencananya mau taruh kue bawang di tempat-tempat jual bakso karena kue bawang cocok dengan jajan bakso," kata Salmiati.

Bagaimana omset Salmiati selama bazar? " Hari Senin (hari pertama-red) 76 ribu, hari kedua 100 ribu, kemarin (Rabu-red) 290 ribu. Meningkat, ada keuntungan tapi belum tahu persisnya," ucapnya.

Apa yang menantang dalam mengikuti pameran wirausaha ini? Yang menantang baginya adalah menjual kartu interntet. " Jualnya sangat menantang, seperti menjelaskan kartu internet. Kadang udah capek dijelasin, ga jadi dibeli. Tapi puas bisa menerangkan ke orang," terangnya. Bukan itu saja yang dilakoni Salmiati selama bazar. Ia juga tak segan-segan menjajakan produknya ke ruang-ruang yang terdapat di Biro Akademik Unmuha. "Jualannya ke akademik, tanpa rasa malu, pokoknya harus berani,"katanya.

Senada dengan rekannya Rahmat, Salmiati merasakan menjaga disiplin adalah hal yang sangat susah dalam menjalankan usaha bersama. "Ada yang kurang berkorban, sakit hati juga sampai hampir mau nangis lihatnya. Jaga stand aja ga mau, jalan-jalan saja,"cerita Salmiati tentang perilaku rekannya.  Ia menyimpulkan mengelola manusia itu lebih sulit daripada mengelola barang dagangan.  

Memang, menjalankan usaha tidak semudah membalikan telapak tangan. Perlu pembentukan mental terlebih dahulu. Unmuha sudah berusaha melaksanakannya. Siapa tahu di pameran ke depan, bisnis dibidang jasa sudah ikut pameran, misalnya saja tukang pangkas. [005]

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 13.24  

0 komentar:

Poskan Komentar