“Nasi Goreng Spesial Favorit Warga Mesir - Republika Online”

Sabtu, 20 Juli 2013

“Nasi Goreng Spesial Favorit Warga Mesir - Republika Online”


Nasi Goreng Spesial Favorit Warga Mesir - Republika Online

Posted: 20 Jul 2013 10:41 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, CAIRO -– Waktu menunjukkan sekitar pukul 20,00 ketika beberapa warga Mesir mengunjungi Orange Café & Resto yang  terletak di Game Station, Hay Asyir, Nashr City, Cairo, Mesir, pekan lalu. Mereka segera duduk bersila dan memesan nasi goreng spesial di restoran milik orang Indonesia itu.

"Nasi goreng spesial merupakan menu favorit warga Mesir yang datang ke mari," ungkap pemilik Orange Café & Resto, Maryam saat berbincang dengan Republika, Sabtu (6/7).

Maryam bersama suaminya, Azhar Abdulaziz  meembuka restoran yang menyajikan masakan Betawi tersebut sejak Desember 2011.

Café tersebut rutin menyelenggarakan nonton bareng (nobar) sepakbola, antara lain Liga Champions. Apalagi di Cairo, siaran langsung Liga Champions tersebut berlangsung mulai pukul 21.00 atau 22.00. Jadi tidak terlalu malam (tidak seperti di Indonesia, tayangan siaran langsung tersebut mulai pukul 02 dini hari) .
"Yang paling seru, kalau yang main itu Madrid atau Barcelona. Di sini banyak sekali pendukung kedua tim raksasa dari Spanyol itu," kata Maryam, wanita berdarah Arab, India, China dan Betawi.

Di level liga, di Mesir juga banyak pendukung Liga Italia, terutama Juventus dan Inter Milan. "Banyak Juventini dan Milanisti di Cairo. Derby Liga Italia selalu ditunggu-tunggu," kata ibu satu anak berusia 1,5 tahun itu.

Maryam mengungkapkan, tiap acara nobar, café tersebut selalu penuh. "Para penonton itu dari berbagai bangsa. Ada Indonesia, Malaysia, dan negara-negara Afrika, terutama Mesir. Orang Mesir sangat gila bola. Dan karena siaran langsung itu mulai pukul 21,00 penonton wanita juga banyak," kata Maryam.

Maryam yang tergabung dalam Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ) itu mengatakan ide awal membuka café dan resto tersebut   setelah anak pertama  lahir. Kehadiran anak berarti   ada tambahan pengeluaran tetap, maka harus ada pemasukan tetap, begitu kira-kira cara berpikir Maryam dan Azhar.

Caranya adalah membuka usaha bisnis.  "Mulanya saya melakukan berbagai pekerjaan, tapi hasilnya tidak bisa diprediksi. Akhirnya kami memilih buka usaha resto, sebab pendapatannya lebih bisa diprediksi," kata  Azhar , pria berdarah Makassar.

Untuk itu, mereka menyewa tempat di daerah Hay Asyir  dengan harga 2.000 pound Egypt (sekitar Rp 3 juta) per bulan. Sesuai namanya, pada awalnya   Orange  Café  hanya menyediakan minuman dan makan ringan.

"Namun ternyata banyak orang yang menghendaki makanan berat, karena itu kami pun menyediakan makanan  berat , dan namanya kami ubah menjadi Orange Café & Resto," tutur Azhar, alumnus Universitas Al Azhar yang kini mengambil program S2 di American Open  dan Jami'ah Ummi Nurman, Cairo.

Maryam dan suaminya memilih menu Betawi untuk café & restonya. Menu andalan restoran tersebut adalah nasi goreng spesial,  soto Betawi, ayam bakar, ayam gepuk, pecel lele, ikan goreng, tom yam dan pempek.

"Menu favorit di sini adalah nasi goreng spesial. Peminatnya tidak hanya orang Indonesia, tapi juga dari berbagai bangsa. Peminat terbanyak justru orang Malaysia dan Mesir," kata Maryam yang mengaku punya mimpi  makanan Indonesia bisa dikenal luas secara internasional.

Jadwal buka Orange Café & Resto adalah pukul 13.00-23.00. "Namun dalam praktiknya sering sampai pukul 24.00 baru tutup, apalagi kalau ada acara nobar sepakbola," tutur Maryam.

Terus terang, kata Maryam, awalnya ia tidak bisa masak. "Kami belajar resep turun-temurun Betawi dari teman-teman di Keluarga Pelajar Jakarta," tuturnya.

Saat ditanya tantangan dan kendala mengelola bisnis restoran di Cairo, Maryam mengatakan tantangan pertama adalah sumber daya manusia (SDM).

"Para karyawan adalah pelajar dan mahasiswa. Jadi waktu kerjanya menyesuaikan dengan kuliah. Apalagi pada musim ujian. Selesai ujian, baru mereka datang ke resto untuk bekerja. Kalau sudah demikian, maka pemilik harus terjun langsung ke dapur untuk memasak dan melayani pelanggan," papar Maryam sambil tersenyum.

Tantangan lainnya adalah bumbu yang tersedia di Cairo tidak selengkap di Indonesia. "Terasi dan emping tidak ada di Cairo, jadi harus didatangkan dari Indonesia. Sereh ada di sini, tapi tergantung  cuaca," ujarnya.

Maryam dan Azhar berencana ekspansi. "Insya Allah tahun depan kami akan buka cabang di daerah Manshurah, Cairo. Banyak orang Malaysia yang tinggal di sana. Umumnya mereka kelas menengah, dan mereka merupakan target café dan resto kami," kata Azhar.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 13.10  

0 komentar:

Poskan Komentar