“Seni Kunci - Harian Sumut Pos”

Selasa, 13 Agustus 2013

“Seni Kunci - Harian Sumut Pos”


Seni Kunci - Harian Sumut Pos

Posted: 12 Aug 2013 11:22 PM PDT

20 November, 2011

KIKIR KUNCI: Seorang tukang kunci sedang mengerjakan pesanan untuk menduplikat kunci.

Mau buka pintu, lemari, bahkan kulkas semuanya membutuhkan kunci. Bahkan, untuk menghidupkan mesin sepeda motor, mobil, dan lainnya. Jika begitu, seperti apa cerita mereka yang berada dibalik
keberadaan kunci?

Juli Ramadhani Rambe, Medan

Ya, benda yang berbentuk kecil, pipih, dan memiliki gerigi ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan – yang terkadang, tanpa kita sadari perannya. Padahal, peran dari benda imut ini meliputi segala hal dalam hidup kita, mulai dari kehidupan di rumah, kantor, dan dalam pergaulan membutuhkannya perannya.

Kenapa? Karena, setiap sisi dalam hidup kita membutuhkan privasi. Sehingga, akhirnya kita memutuskan untuk menyembunyikan dari konsumsi orang di sekitar. Misalnya, untuk menyembunyikan buku diari atau pakaian, kita mengunci lemari pakaian. Dan, untuk menyimpan barang pribadi di kantor, kita mengunci lemari yang disediakan. Lalu, untuk menghindari percekcokkan dengan teman, kita mengunci mulut.
Nah, dalam keseharian kita, tidak jarang ditemui seseorang yang kehilangan kunci. Hal ini mungkin karena salah letak atau lupa, dan tidak jarang jatuh di tengah jalan. Padahal, kalau kita sedikit menaruh perhatian padanya, mungkin hal 'kehilangan kunci' tidak akan dialami. Kalau sudah kehilangan kunci, apa yang akan kita lakukan? Mencari tukang kunci, inilah jawaban yang paling masuk akal.
Tukang kunci atau biasa disebut ahli kunci ini bisa ditemui di pinggir jalan. Mereka bisasanya membuka usahanya di pinggir jalan besar. Keberadaan mereka cukup unik, berfasilitas mobil tua yang sudah bobrok atau stelling kecil dengan tulisan besar 'Ahli Kunci'.

Walaupun penampilan ahli kunci sangat sederhana, tetapi penghasilan yang mereka dapat seperti layaknya orang yang bekerja di kantoran. Rp30 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Dengan perincian hitungan umumnya, 1 kunci yang dikerjakan dengan nilai Rp5 ribu. Untuk sebuah kunci dibutuhkan modal seribu hingga dua ribu rupiah, maka hitungan jasanya tiga ribu rupiah. Nilai ini berbeda bila dibandingkan dengan tempahan kunci untuk kenderaan bermotor, seperti sepeda motor dan mobil mewah yang bisa memakan modal mulai dari Rp20 ribu hingga Rp80 ribu.

"Untuk kereta (sepeda motor, Red) dan mobil harga lebih tinggi karena modal juga tinggi," ujar Dian, ahli kunci yang beroperasi di Jalan Zainul Arifin Medan, belum lama ini.
Dian menjelaskan, untuk kenderaan bermotor, biaya tempahnya lebih mahal. "Kalau kunci gagal, konsumen tidak terima. Berarti kita yang menanggung modal, jadi semakin mahal modalnya, semakin tinggi kerugiannya," tambahnya.
Dirinya menjelaskan, harga untuk menempah satu kunci biasa (rumah, lemari dan lainnya) dikenakan biaya Rp5 ribu, kunci sepeda motor sepeda motor Rp25 ribu dan variasi, kunci mobil Rp100 ribu dan variasi, tergantung tingkat kesulitan kunci.

"Kalau sudah ada duplikatnya lebih mudah dikerjakan, tetapi kalau kunci sudah hilang dan kita harus buat baru, ini yang sedikit sulit," ujar Dian.
Walaupun sudah menggunakan kata ahli, bukan berarti kunci duplikat yang dibuat selalu berhasil, malah kebalikannya. Tidak jarang, kunci yang dibuat tidak sesuai dengan ibu kunci atau dengan kata lain, gagal.
"Setiap kunci memiliki lekukan, ketebalan dan panjang yang berbeda. Biasanya, yang sering membuat gagal terletak pada lekukan dan ketebalan kunci," jelas Dian yang sudah menjadi ahli kunci selama 25 tahun. (*)

Mereka-reka Bentuk

Siapa bilang membuat duplikat kunci adalah pekerjaan gampang? Menjadi seorang ahli kunci itu membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga menahun.

Hal terberat adalah untuk mengetahui secara pasti lekukan, tebal, dan panjang khusus kunci yang akan diduplikat. "Insting dan sabar, itu yang paling penting untuk menjadi ahli kunci," ujar Ahmad Ikhwan, ahli kunci yang membuka praktiknya di Jalan Sisingamangaraja, depan salah satu universitas swasta di Medan.

Menurutnya, membuat kunci merupakan sebuah seni karena harus membuat kunci dengan bentuk yang sedemikian rupa dengan lekukan yang pas. Tidak boleh ada kecerobohan dalam membuat kunci atau akan berakibat rugi.

Dalam membuat kunci dibutuhkan insting yang kuat, apalagi harus membuat yang tidak memiliki contoh. Sang ahli harus bisa menentukan lekuk, panjang, dan tebal kunci hanya dengan mereka-reka saja. Atau dengan kata lain, seorang ahli kunci harus memiliki ingatan yang kuat karena harus mengingat lekukan kunci. Sedangkan untuk menjadi ahli dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun. "Yang penting praktik, bukan hanya teori saja," tambah Dian, yang belajar membuat kunci dari abangnya.
Untuk membuat kunci dengan cara manual, dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lama, sekitar 5 menit (bila ada duplikatnya), sedangkan yang tidak memiliki kunci duplikat, membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. "Tergantung keahlian si pembuat kunci, instingnya yang bekerja," tambah Ahmad, yang telah menjadi ahli kunci selama 17 tahun. (*)

Dari yang Sederhana, Jadi yang Istimewa

Ternyata peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kunci cukup sederhana. Bahkan peralatan ini sangat mudah kita temukan di pasar. Sebut saja kikir kelat, jangka sorong, gergaji besi, bais, dan cuning (kawat).
Semua bahan tadi adalah penting. Contohnya cuning. Dia tidak sekadar kawat. Pasalnya, dari cuning inilah lekuk kunci bisa dilihat. Bentuk cuning juga bervariasi, mulai dari yang bentuknya panjang atau pendek, dengan bagian ujung kawat pipih, atau kawat yang bergelombang bentuknya seperti per.

Bentuk pipih dan gelombang seperti per ini yang akan memberitahukan kepada si ahli tentang ukuran dan banyaknya lekukan (kalau di film yang biasa kita tonton, tekhnik ini biasa digunakan sang actor untuk melakukan pencurian). Sedangkan fungsi kikir kelat, jangka sorong, gergaji besi, dan bais untuk membuat lekukan dan tebal kunci.

"Masukkan cuning ke ibu kunci (handle pintu), akan terasa lekukan kunci, sesekali goyang pegangan pintu untuk mengetahui lekukan yang lebih kecil atau halus," ujar Dian yang telah membuka usaha ahli kunci selama 25 tahun. Selain cara manual, membuat kunci juga sudah dilakukan dengan menggunakan mesin, hanya saja ada kelemahannya.

"Kalau pakai mesin, harus ada duplikat, tetapi lebih cepat, ini yang membedakannya dengan manual," ujar Dian.  Mesin ini juga bertugas tunggal atau hanya membuat 1 jenis kunci saja. "Hingga saat ini, hanya ada 2 mesin untuk membuat kunci, 1 mesin untuk kunci biasa, dan 1 mesin untuk membuat kunci kenderaan bermotor," tambah Dian.

Mesin pembuat kunci ini merupakan barang import yang berasal dari China dan Taiwan, dan harganya berkisar Rp3,5 jutaan ke atas. Pada umumnya, ahli kunci yang berada di sekitar Medan tidak menggunakan mesin sebagai alat bantunya. Ahli kunci di Medan masih memilih cara tradisional atau manual untuk menyelesaikan tugasnya. (*)

Berbagai Alasan Membuat Duplikat

Bentuknya yang kecil, sehingga luput dari perhatian, ini mungkin sudah menjadi hukum alam yang berlaku. Jadi tidak heran bila seseorang selalu kehilangan kunci, baik karena lupa atau karena lalai. Karena sifat manusia ini lah, rezeki ahli kunci mengalir. Tetapi tidak semua karena sifat jelek, ada kalanya juga karena sifat kehati-hatian seseorang sehingga membuat kunci duplikat.

"Ya, kalau tidak karena hilang, lupa letak, atau kadang kunci tertinggal di dalam mobil, biasanya ini yang menjadi alasan orang membuat kunci," ujar Dian.
Jadi tidak heran, bila ahli kunci selalu dipanggil konsumen untuk menyelesaikan masalah kunci ini. "Sering juga dipanggil, tetapi bayaran bisa 3 kali lah," ujar Ahmad.

Keahlian para ahli ini tidak seutuhnya memberikan hasil yang positif, terkadang mereka juga mendapat pandangan curiga dari pelangganya. Misalnya, kecurigaan kalau kunci yang telah ditempah akan dibuat duplikatnya oleh sang ahli kunci. Karena itu, para ahli kunci ini selalu menjaga imej mereka di depan para pelanggannya. Salah satunya, dengan tidak menerima tempahan kunci yang menggunakan sabun sebagai alat bantu.
"Ada yang datang minta tolong untuk dibuat kunci dengan menggunakan sabun, kalau ini langsung kita tolak. Ya, daripada ke depannya menimbulkan masalah," tambah Dian yang telah memiliki 3 cabang untuk usaha membuat kunci ini.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ahmad, yang langsung menolak bila ada tempahan kunci yang mencurigakan. "Ada yang datang bawa kereta, minta dibuat kunci, daripada imbasnya di belakang, mending tolak. Kecuali, dengan pemilik langsung, baru diterima tempahannya," tambahnya.

Seleksi yang dilakukan untuk membuat kunci ini mereka anggap bukan menolak rezeki, tetapi untuk menjaga eksistensi pekerjaan mereka. "Yang halal saja, biar tidur malamnya lebih tenang," sambut Ahmad. (*)

Antara Tukang dan Ahli

Papan nama yang besar bertuliskan 'Ahli Kunci' tentunya bisa mengusik pikiran yang melihat. Pertanyaannya, benarkah mereka seorang ahli atau sekadar tukang?

"Dari sananya sudah kita gunakan kata ahli, bukan tukang. Bahkan sebelum saya mengetahui apa-apa tentang kunci," jawab Rahmat, ahli kunci yang membuka jasanya di daerah Jalan Pemuda Medan.
Terkait dengan itu, Pegawai Balai Bahasa Medan, Suyadi San, buka suara. Menurut pria yang juga pekerja teater andal Sumatera Utara ini ahli memiliki makna seseorang yang mengetahui seseuatu dalam bidang tertentu; ini terkait dengan keilmuan. Untuk menjadi ahli, setidaknya seseorang harus melakukan riset beberapa tahun dan kemudian menganalisisnya.

"Kata ahli dalam bahasa Indonesia, ahli memiliki makna seseorang yang mengetahui dan menguasai dalam bidang ilmu tertentu," ucap Suyadi.

Menurutnya, perkataan ahli yang disandang seseorang tersebut terkait dengan keberadaanya terkait dengan ilmu tersebut atau bagaimana dirinya bisa menciptakan sesuatu itu dari ilmu tersebut. Sedangkan kata tukang, memiliki makna sebagai sebuah keterampilan yang dimiliki dalam bidang tertentu. "Tukang memberikan gambaran sebagai pintar dalam sebuah bidang," lanjutnya.

Kata ahli yang digunakan oleh ahli kunci menurutnya tidak sesuai karena sebenarnya para ahli kunci tidak mencipta kunci melainkan membentuk kunci. Tetapi, hal ini tidak bisa dipersalahkan juga, mengingat adanya register bahasa (register bahasa memiliki makna bahasa yang hanya dimengerti dan dikatakan pada kalangan tertentu).

Selain Register, pembentuk kunci ini dalam mengiklankan dirinya ke masyarakat dengan bahasa yang memiliki dampak hiperbola, yang pasti untuk menarik perhatian masyarakat. "Dalam iklan, konteks bahasa dengan makna berlebih sangat memungkinkan, dan dalam konteks ekonomis, hal ini juga diperbolehkan (menggunakan bahasa berlebih) untuk menarik perhatian masyarakat," tambah Suyadi. (*)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 13.37  

0 komentar:

Poskan Komentar