“Upaya Eks PSK Tambakasri Mentas dari Bisnis Syahwat”

Rabu, 14 Agustus 2013

“Upaya Eks PSK Tambakasri Mentas dari Bisnis Syahwat”


Upaya Eks PSK Tambakasri Mentas dari Bisnis Syahwat

Posted: 14 Aug 2013 07:29 AM PDT

Sejak ditutup dua bulan lalu, aktivitas eks lokalisasi Kremil, Tambakasri, memang tidak ramai. Banyak mantan PSK dan mucikari yang memilih kembali ke daerah asal mereka. Namun, ada pula yang beralih profesi menjadi pengusaha kecil. Ya, berwirausaha adalah pilihan realistis ketika usia sudah tidak memungkinkan bekerja ikut orang.

= = = = = = =

CERITA menarik datang dari beberapa eks PSK yang kini memiliki usaha sendiri. Pendapatannya memang tidak sebesar pekerjaan sebelumnya. Namun, mereka bersyukur karena pendapatan dari usaha kecil tersebut membuat hati tenteram.

Reni, salah seorang di antaranya. Perempuan berusia 43 tahun itu cukup antusias dengan kehidupan barunya. Sejak tidak lagi menjadi PSK, dia membuka usaha kecil-kecilan berupa warung kopi.

Dia memilih warung kopi karena pengelolaannya cukup sederhana dan tidak repot menyiapkan bahan-bahan dagangan seperti halnya penjual makanan. "Ya, saya pilih karena praktis. Cuma modal kopi dan air serta jajanan buat teman ngopi, semuanya beres," ujarnya.

Selain praktis, Reni beranggapan bahwa potensi usahanya akan laku keras. Maklum, di daerah agak padat penduduk tersebut, banyak sekali tempat kos. Penghuni kos rata-rata adalah pekerja pabrik. "Di sini kan banyak orang perantauan yang kerja. Setelah kerja, kan enaknya ngopi. Nah, peluang ini yang saya tangkap," ujarnya.

Dari usaha tersebut, Reni mengaku mendapatkan penghasilan bersih rata-rata Rp 300 ribu per hari. Nilai itu bisa naik turun, bergantung jam buka. "Ya kalau mau lebih banyak, saya bisa buka lebih malam. Tapi, kadang ya badan ini nggak kuat," katanya.

Jika dibandingkan dengan ketika menjadi PSK, Reni mengaku pendapatannya terpaut jauh sekali. Saat menjadi PSK, dia bisa mengantongi uang Rp 800 ribu per hari. "Ya, tidak sebanyak dulu. Tapi tidak apa-apa, saya niat tobat dan ingin cari duit yang halal," ujar perempuan yang ingin menjadi ustadah tersebut.

Senada dengan Reni, Yanti yang memiliki usaha jasa cuci pakaian mengatakan bahwa usaha barunya sangat menyenangkan. Meski pendapatan dari usaha tersebut belum banyak, Yanti tetap tidak punya keinginan untuk kembali menjadi PSK.

"Kerja kayak gini enak. Kalau dulu kerjanya itu kayak ditekan, dicari germo. Kemudian disuruh kerja bolak-balik. Kalau ini, kan kita sendiri yang bisa mengatur waktunya," ucapnya.

Meski sudah tidak menjadi PSK lagi, kata Yanti, dirinya masih sering diajak bertransaksi oleh mantan pelanggannya. Tak jarang, mantan pelanggannya berani membayar lebih, asal Yanti mau memenuhi permintaannya. "Masih ada sih, cuma beberapa. Tapi ya itu tadi, berapa pun nilainya, saya sudah tidak mau. Saya sudah insaf," ujar ibu satu anak tersebut.

Kini dengan usaha barunya itu, Yanti sangat bersyukur. Dengan tarif cuci baju Rp 4 ribu per kilogram, dia mendapat penghasilan bersih Rp 1 juta per bulan. "Alhamdulillah, meski cuma segini, saya masih bisa makan dan anak bisa bersekolah. Yang penting duitnya halal," ungkapnya.

Rasa bersyukur juga ditunjukkan Mimin. Perempuan berusia 42 tahun itu memiliki usaha jual sayur keliling. Profesi tersebut digelutinya selama tujuh bulan, sejak dia memutuskan untuk tidak menjadi PSK. Setiap hari dia bangun dini hari untuk kulakan. Kemudian dagangannya dijual keliling hingga siang. "Saya mulai beraktivitas pukul 02.00 dan mulai berkeliling pukul 06.00-11.00," jelasnya.

Penghasilan rata-rata hanya Rp 40 ribu per hari. Dengan jumlah tersebut, Mimin masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk mengisi amal jariah masjid. "Ya, jadi tiap hari saya wajibkan untuk mengisi kotak infak di masjid Rp 10 ribu. Kalau ada rezeki lebih, bisa jadi lebih yang saya infakkan," ungkap perempuan asal Madiun itu. (dha/c7/ai)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 13.17  

0 komentar:

Poskan Komentar