“Halim, Sukses Bisnis Donat Ubi Beromzet Ratusan Juta - KOMPAS.com”

Senin, 23 Desember 2013

“Halim, Sukses Bisnis Donat Ubi Beromzet Ratusan Juta - KOMPAS.com”


Halim, Sukses Bisnis Donat Ubi Beromzet Ratusan Juta - KOMPAS.com

Posted: 23 Dec 2013 02:04 AM PST


KOMPAS.com -
Berbekal kreativitas dan ketekunan, Halim Wibowo Santoso sukses menjadi pengusaha kue di bawah bendera HW Bakery. Pria asal Situbondo, Jawa Timur ini memproduksi aneka roti, kue dan donat dengan bahan baku utama ubi jalar.Bisnis yang digelutinya sekarang sudah menjadi cita-citanya sejak duduk di bangku SMA. Kala itu, ia kerap memimpikan memiliki sebuah toko roti.  

Untuk mewujudkan impiannya itu, Halim lalu memilih hijrah dari kampung halamannya di Situbondo ke Surabaya untuk kuliah di Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Widya Mandala. "Ternyata dari kuliah itu  sedikit sekali praktik pangannya," ujarnya.

Ia menyelesaikan studinya tersebut pada 2007 lalu. Setelah lulus, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta sebagai tenaga pemasaran. Namun hanya berjalan dua bulan, ia sudah tidak nyaman dengan pekerjaannya itu.

Dari Jakarta, Halim lalu memutuskan kembali ke Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, cita-citanya mem buka usaha roti dan donat makin berkobar.  Ia pun mulai belajar sendiri membuat donat. "Saya sempat beberapa kali nongkrong di gerai donat J.CO untuk melihat proses pembuatan donat dari dapur terbuka mereka," ujarnya.

Dari situ, akhirnya ia memiliki gambaran besar bagaimana proses membuat donat. Kemudian tercetuslah resep donat dengan bahan baku ubi jalar setelah menonton serial kartun Kura-Kura Ninja. Di serial itu ada tokoh yang namanya Donatello. "Seperti nama tokoh kartun itu, saya pun terpikir bikin donat dari bahan dasar telo (ubi jalar)," ujarnya.

Dari awalnya sekedar coba-coba, ternyata bisnis Halim semakin menanjak. Saat ini, Halim memproduksi 50 varian kue, roti dan donat berbahan ubi jalar. Harganya relatif terjangkau mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per buah. "Semuanya berbahan baku ubi jalar," klaimnya.

Halim mengatakan, dengan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku utama, produk kuenya memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki kompetitor. Antara lain, teksturnya lebih lembut dan tahan lama. "Yang paling unik, warna roti, kue dan donatnya, bukan putih tapi kuning," ujarnya.

Sedangkan dari segi rasa, lebih gurih dibanding pada produk lain. Ia juga mengklaim, rasa manis yang dihasilkan lebih enak karena ada cita rasa alami dari ubi jalar.

Selain donat, dia juga mengklaim memproduksi roti sehat, yaitu campuran gandum dan ubi jalar. "Ini aman dikonsumsi bagi pengidap jantung atau kolesterol," tambah pria lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya, Fakultas Teknologi Pangan ini.

Untuk kebutuhan produksinya tersebut, Halim mendapat pasokan bahan baku dari daerah Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Sebulan ia bisa memesan 500 kilogram (kg) ubi jalar. Bahan baku sebanyak itu dapat menghasilkan sekitar 1.500 hingga 2.000 roti, donat dan kue.

Seluruh kue hasil produksinya dipasarkan di gerai kue yang miliknya. Saat ini Halim memiliki dua gerai HW Bakery yang berlokasi di Situbondo dan Pasuruan, Jawa Timur.

Menurutnya, pelanggan kuenya masih dari sekitar dua kota tersebut. Saat ini ia memang masih menyasar pelanggan yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Meski demikian, ia sudah bisa meraup omzet hingga sekitar Rp 100 juta per bulan. Terlebih saat hari raya dan hari besar keagamaan tiba, omzetnya bisa meroket mencapai Rp 150 juta per bulan.

Atas kerja keras dan kreativitasnya ini, Halim pun terpilih sebagai finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri dari Bank Mandiri kategori boga pada 2010. Sebagai finalis, Halim meraih pinjaman kredit Rp 15 juta. "Program tersebut memang ditujukan bagi usaha yang belum memiliki badan usaha, belum bankable," ujarnya.

Namun sekarang kondisinya sudah berbeda. Sejak Mei 2013 lalu, Halim telah membentuk badan usaha bernama UD Halim Makmur Sentosa. Dengan mendirikan badan usahanya, bisnisnya pun kini lebih maju. "Sekarang bisnis saya sudah memenuhi aspek legalitas dan punya identitas," ujarnya.

Kendati demikian, ia mengaku perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan saat merintis usaha tersebut.

Tiga prinsip kuliner

Bagi Halim, menekuni bisnis makanan sudah menjadi impiannya sejak remaja. Makanya, kendati banyak menemui kendala dan tantangan, ia tidak menyerah.

Kini, seluruh kerja kerasnya itu sudah mulai membuahkan hasil. Terbukti, omzet usahanya itu kini tembus Rp 100 juta per bulan. "Kalau saya berhenti di tengah jalan, tentu lain ceritanya," kata Halim.

Halim sendiri mengaku memiliki tiga prinsip dalam berbisnis kuliner. Pertama, seorang pebisnis kuliner harus menyuguhkan makanan yang punya cita rasa enak sehingga diterima masyarakat. Prinsip ini ia aplikasikan dengan mencoba beberapa kali resep adonan donat buatannya.

Kedua, bisnis kuliner harus menjaga citra yang positif di mata konsumen, terutama dari segi pelayanan dan kebersihan. "Terutama soal sanitasi. Bisnis kuliner sangat erat kaitannya dengan hal itu," ujar pria 29 tahun ini.

Ketiga, jangan menutup diri dari kritik dan saran konsumen. Halim bilang, cita rasa yang enak dan pelayanan yang baik saja tidak pernah cukup. Pasalnya, beberapa konsumen punya ciri cepat bosan dengan suatu produk makanan.

Maka itu, penting untuk selalu mendengar masukan dari pelanggan. Dari masukan mereka itu kelangsungan usaha bisa terjaga.

Halim mengakui, terjun ke dunia usaha tidak mudah. Akan banyak tantangan dan kendala yang ditemui. Karena itu pula banyak pebisnis kerap menemui kegagalan di tengah jalan.

Namun, bila ingin sukses, seorang pebisnis jangan mudah menyerah. Menurut Halim, jadikan kegagalan sebagai materi kuliah dalam berbisnis. "Apalagi waktu kuliah, kita menerima banyak teori tapi sedikit praktik," tambah Halim.

Sebagai materi kuliah, kegagalan berbisnis juga harus dilihat secara kritis.  Kegagalan itu, kata Halim, harus dianalisis penyebabnya dan dicarikan solusinya. "Mengapa itu bisa terjadi? Itu harus dicari jawabannya," ujar Halim.

Setelah bisa mendeteksi masalah, maka segera carikan solusinya. "Setelah itu sebisa mungkin kita hindari supaya tidak terjadi lagi," cetusnya.

Manajemen internal dalam bisnis juga sangat penting. Menurut Halim, saat memutuskan membuka gerai ke dua di Pasuruan, gerai pertamanya di Situbondo sudah stabil sehingga fokus perhatiannya bisa dibagi.

Dalam hal produksi pun ia sudah mulai menyerahkan kepada karyawannya. Namun, menurut Halim, soal cita rasa ini penting sekali di bisnis kuliner. Makanya, ia tak bisa diserahkan ke sembarang orang.  Itu juga yang membuat dia belum berani membuka tawaran kemitraan.  (Noor Muhammad Falih)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Erlangga Djumena
Sumber : KONTAN

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.31  

0 komentar:

Poskan Komentar