“Sriwijaya Air Buka Rute ke China”

Selasa, 21 Januari 2014

“Sriwijaya Air Buka Rute ke China”


Sriwijaya Air Buka Rute ke China

Posted: 21 Jan 2014 02:00 AM PST

Good Week for ...

Good Week for....
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memproyeksi tekanan kenaikan biaya dana akan sedikit berkurang pada kuartal III 2014. Penurunan biaya dana akan berimbas pada perbaikan margin perseroan. Direksi perseroan menyatakan pada kuartal I 2014 akan ada pengaruh di margin kami. Karena biaya dana turun di kuartal IV, perseroan berharap dapat mempertahankan margin tahun ini. Pada tahun lalu, tingkat profit margin atau net interest margin (NIM) Bank Mandiri mencapai 5,9%.

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), emiten jasa penerbangan milik pemerintah, telah menggunakan dana hasil penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 3,01 triliun sepanjang 2013, atau setara 94,62% dari hasil bersih IPO Rp 3,18 triliun. Dana hasil IPO telah digunakan untuk pengembangan armada dan belanja modal. Dana hasil IPO untuk pengembangan armada sebesar Rp 2,54 triliun, dan untuk belanja modal sebesar Rp 466,12 miliar sepanjang 2013. Dana IPO untuk belanja modal dialokasikan untuk perseroan dan anak usaha. Sementara alokasi dana untuk pengembangan armada meliputi pembayaran uang muka pembelian pesawat (pre delivery payment/PDP) serta security deposit dan biaya lain. Handrito menambahkan, sisa dana IPO sebesar Rp 171,28 miliar disimpan dalam bentuk deposito.

PT PLN (Persero) menargetkan konsumsi gas untuk pembangkit listrik pada tahun ini meningkat 5% menjadi 430,7 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) dibanding realisasi konsumsi 2013 sebesar 409,9 BBTUD.   Direksi perseroan menyatakan  target konsumsi gas akan tercapai dengan mengoptimalkan distribusi gas dari Kangean Energy dan PT Nusantara Regas.

PT Taspen (persero), perusahaan dana pensiun skala besar milik pemerintah berencana mendirikan anak usaha yang bergerak di bidang asuransi jiwa bernama PT Taspen Life. Menurut direksi, perusahaan telah menyediakan dana sebesar Rp 300 miliar untuk merealisasikan rencananya tersebut. Pendirian anak usaha ini masih dalam proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pendirian anak usaha ini dilakukan untuk meningkatkan hasil investasi perseroan.
 
PT Nusa Halmahera Minerals, perusahaan patungan Newcrest Mining Limited, perusahaan tambang yang berbasis di Australia dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) hingga kuartal II tahun fiskal 2014 mencatat produksi emas sebesar 149.217 ounce atau 47-57% dari target produksi tahun fiskal 2014. Target produksi emas melalui tambang Gosowong untuk tahun fiskal 2014 (Juli 2013-Juni 2014) mencapai 260 ribu-320 ribu ounce. Nusa Halmahera merupakan usaha patungan antara Newcrest Mining dengan kepemilikan saham 75% dan Aneka Tambang dengan kepemilikan saham 25%. Perusahaan mengoperasikan tambang emas Gosowong di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, Indonesia.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), badan usaha milik negara di sektor pertambangan, akan menggenjot penjualan emas dan feronikel pada tahun ini untuk mempertahankan kinerja keuangan seiring larangan ekspor mineral mentah. Aneka Tambang tercatat mengekspor bauksit dan bijih nikel yang juga memiliki kontribusi signifikan terhadap kinerja perseroan. Rencana Aneka Tambang terdiri atas tiga strategi, yakni meningkatkan penjualan emas, feronikel dan operasional pabrik pengolahan Chemical Grade Alumina (CGA). Aneka Tambang menargetkan volume penjualan emas menjadi 13,6 ton tahun ini, naik 66% dibanding target 2013 yang mencapai 8,2 ton. Penjualan emas Aneka Tambang sebagian besar berasal dari produksi emas tambang sendiri di Pongkor, Jawa Barat dan Cibaliung di Banten. Sisanya berasal dari pembelian pihak ketiga.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), emiten ritel modern, melalui anak usaha Alfamart Retail Asia Pte Ltd Singapura berekspansi regional ke Filipina,  dengan mendirikan anak usaha patungan (joint venture) bernama Alfamart Trading Philipines, Inc. Menurut direksi perseroan, Alfamart bertindak sebagai pemegang saham minoritas, dengan porsi kepemilikan saham sebesar 35%  dan modal dasar sebesar 250 juta peso Filipina, atau setara dengan Rp 66,7 miliar. Unit usaha patungan tersebut akan bergerak di bidang usaha perdagangan, distribusi, dan logistik. Pembentukan unit usaha itu dilakukan dengan menggandeng mitra lokal.

Bad Week for ...

Bad Week for....
Biaya operasional terutama overhead cost perusahaan menara telekomunikasi diperkirakan naik 10%-15% pada tahun ini. Kenaikan overhead cost ini didorong kenaikan biaya bahan bakar, biaya perawatan,  dan harga sparepart yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak akhir 2013.  Eksekutif Asosiasi Pengembang Menara Telekomunikasi (Aspimtel) menyatakan sepanjang 2013, pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencapai hampir 30%. Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut berimbas terhadap biaya , terutama untuk  biaya energi dan operasional. Sementara operator telekomunikasi sebagai  penyewa menara belum berani mengelola sendiri menara yang disewanya. Hal ini menyebabkan margin usaha perusahaan menara turun.

Realisasi produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional pada 2013 hanya mencapai 26 juta ton, turun 1,8% dari tahun sebelumnya sebesar 26,5 juta ton, menurut data Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Realisasi produksi CPO nasional tahun lalu jauh di bawah target yang ditetapkan Gapki yakni 28 juta ton.  Eksekutif Gapki menyatakan penurunan produksi disebabkan antara lain faktor cuaca yang tidak menentu serta berbagai kendala yang dihadapi produsen. Banyaknya kendala yang dihadapi produsen di antaranya belum majunya infrastruktur sehingga menyebabkan naiknya biaya transportasi yang berujung pada kurangnya daya saing CPO di Indonesia.

PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), produsen bauksit, berpotensi tidak berproduksi pada tahun ini seiring penerapan larangan ekspor mineral mentah mulai 12 Januari 2014. Eksekutif perseroan menyatakan manajemen Cita Mineral pesimistis perusahaan bisa berproduksi pada tahun ini. Cita Mineral melalui konsorsium PT Well Harvest Winning Alumina Refinery telah memulai pembangunan smelter alumina pada Juli tahun lalu dengan nilai investasi US$ 1 miliar. Pembangunan smelter yang mengolah bauksit menjadi alumina di Kendawangan, Kalimantan Barat itu ditargetkan selesai pada 2015. China Hongqiao Group Limited merupakan pemilik mayoritas (60%) dalam usaha patungan tersebut. Sisanya dimiliki Winning Investment  Company Limited (10%), Cita Mineral (25%), dan PT Danpac Resources Kalbar (5%).

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.25  

0 komentar:

Poskan Komentar