“UKM Tampil Percaya Diri di Mal - Harian Terbit”

Sabtu, 19 April 2014

“UKM Tampil Percaya Diri di Mal - Harian Terbit”


UKM Tampil Percaya Diri di Mal - Harian Terbit

Posted: 19 Apr 2014 07:03 AM PDT

UKM Tampil Percaya Diri di Mal

Pedagang mainan anak-anak

Jakarta, HanTer - Pedagang kecil dengan modal usaha dibawah Rp50 juta, kini melirik mal sebagai tempat usaha ketimbang mengobral barang dagangannya di kaki lima. Meskipun harus menyisihkan dana yang lebih besar untuk sewa tempat.

Kevin Simbolon, salah seorang pemilik lapak berukuran 1 m x 1 m di Tamini Square, Jakarta Timur yang menjual aneka mainan anak-anak mengaku lebih nyaman untuk berjualan di mal, ketimbang harus mengobral barang dagangannya di pinggir jalan atau kaki lima.

Menurut Kevin yang sudah hampir tiga tahun bergadang di mal ini, penghasilan yang diperoleh tidak jauh berbeda antara berdagang sebagai kaki lima dan di mal. Harga mainan di tokonya juga tidak jauh beda dengan yang dijajakan di pinggir jalan, mulai dari harga Rp10 ribu untuk tiga barang sampai dengan Rp450.000/ buah.

"Saya memang belum pernah jualan di kaki lima. Tetapi bila dilihat dari perhitungannya, sama saja, malah lebih berisiko, misalnya karena harus berpindah-pindah tempat dan lain sebagainya. Dagangan saya kan mainan anak-anak, nanti bisa cepat rusak. Belum lagi iuran sama calo-calo," urai Kevin kepada Harian Terbit, Jumat(18/4).

Alasan kenyamanan dan keamanan memantapkannya untuk membuka usaha di mal. Harga sewa yang ditawarkan untuk pedagang kecil seperti dirinya pun tidak terlalu mencekik. Biaya untuk satu bulan sewa dan service charge, biasanya dikenakan Rp2,3 juta.

"Modal tidak terlalu besar, dulu mulai buka itu sekitar Rp30 juta belum sama kontrak tempat. Tapi dengan omset saya sampai 20 juta kalau lagi ramai bisa ketutup modal. Kalau lagi sepi kadang hanya 10 juta sebulan" katanya.

Pedagang lainnya, Meisya (32) yang menjual aneka pernak-pernik untuk wanita hasil kreasinya sendiri, seperti jepit rambut, bando, bros, dan lainnya,  mengaku lebih memilih untuk berjualan di mal karena harga sewa yang ditawarkan tidak terlalu mahal.

"Setiap bulan saya dikenakan biaya sebesar Rp2,5 juta dan sudah empat bulan membuka toko di sini, jadi tidak terlalu mahal," kata Meisya.

Diakui Meisya, omset yang diperoleh dalam sehari memang tidak terlalu besar. Untuk keadaan mal yang sedang ramai dia biasanya dapat meraih hingga Rp500 ribu/hari, sedangkan kala sepi hanya mencapai Rp100 ribu saj.

Namun dengan barang dagangan yang 70 persen adalah hasil kreasinya sendiri dengan memanfaatkan barang perca, penghasilan tersebut dirasa masih dapat untuk menutup modal dan kebutuhannya sehari-hari.

"Sebulan omset bisa mencapai Rp 6 juta, dengan harian Rp500 ribu, tapi dua bulan terakhir sepi, sehari hanya dapat Rp 100 ribu sampau Rp 200 ribu," ujar Meisya.

Tak hanya di mal, Meisya juga kerap memanfaatkan peluang terutama di Minggu pagi sebelum membuka toko di mal. Dia menggelar barang dagangannya di acara Minggu Ceria di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.

"Walau harus bayar iuran Rp15 ribu, tapi kan itu tidak setiap hari jadi enjoy saja sambil mencari langganan," kata Meisya.

(barliana)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.38  

0 komentar:

Poskan Komentar