“Pijat Esek-Esek Marak Lagi - Kaltim Post”

Minggu, 10 Agustus 2014

“Pijat Esek-Esek Marak Lagi - Kaltim Post”


Pijat Esek-Esek Marak Lagi - Kaltim Post

Posted: 10 Aug 2014 09:01 AM PDT

TANJUNG REDEB-Salon maupun panti pijat kian menjamur di Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau. Namun, sangat disayangkan usaha tersebut sebagian hanya kedok untuk bisnis prostitusi. Tak jarang meski kerap ditertibkan oleh petugas, masih saja kerap ditemukan bisnis terselubung tersebut. Khususnya salon seperti diketahui banyak yang diduga tak memiliki izin dan tak jelas usahanya.

Bahkan, pengunjungnya tak lagi dominan wanita yang ingin mempercantik diri melainkan pria, bukan berarti semua salon seperti itu. Untuk menemukan prostitusi berkedok salon biasanya hanya dari mulut ke mulut dan jika sudah menjadi pelanggan akan mudah masuk tanpa harus basa-basi. Dalam salon yang berbau hal tersebut biasanya juga terdapat kamar-kamar atau bilik.

Tapi, mungkin saat ini sulit ditemukan salon seperti itu, setelah penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebelum bulan suci Ramadan lalu. Harian ini mendapatkan informasi dari salah seorang pemilik panti pijat "plus-plus", untuk memasuki salon yang terdapat prostitusi tentu tak secara terang-terangan memintanya. Ada istilah khusus jika ingin mendapatkan pelayanan seperti itu.

"Ada yang istilahnya massage, ada yang lulur. Nah, nanti kalau sudah di dalam biasanya baru ditanya sama perempuan yang melayani mau sama plus atau tidak," ungkapnya kepada Berau Post (Kaltim Post Group), Jumat (8/8) lalu. Harian ini mencoba melakukan penelusuran terhadap salon yang hanya kedok, setelah mendapatkan informasi dari pemilik panti pijat tersebut, namun belum beroperasi.

"Tapi, nanti itu buka kembali, ada waktunya," ujarnya. Tak hanya salon, penelusuran terhadap panti pijat plus-plus juga dilakukan. Terbukti meski gencar melakukan penertiban Satpol PP tetap saja kecolongan, sedikitnya ada 3 yang terpantau harian ini dan 1 yang berhasil dimasuki. Panti pijat tak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang kini tak memakai plang-plang lagi. Informasi yang didapatkan juga hanya dari mulut ke mulut.

Seperti biasanya pemilik panti pijat menyewa sebuah rumah, bahkan berpindah-pindah jika pernah terjaring. Salah satu panti pijat yang berhasil dimasuki di kawasan Tanjung Redeb ternyata cukup mudah menemukannya. Panti pijat plus-plus itu merupakan dua rumah bangsal dan masing-masing terdapat 2 kamar untuk 4 wanita yang bekerja sebagai pemuas nafsu.

Lokasinya hampir semua tempat tidak tepat berada di pinggir jalan, melainkan di dalam gang atau dalam sebuah jalan dari jalan utama. Sebut saja namanya Mawar (21). Janda anak 1 yang ditemui harian ini mengaku sudah bekerja sebagai terapis pijat "plus" hampir setahun. Hal itu dilakukannya untuk kebutuhan ekonomi anak dan kedua orangtuanya yang berada di Kalimantan Selatan.

Mawar sudah bercerai karena suaminya juga kerap "jajan" di luar. Sulitnya mendapatkan pekerjaan terlebih hanya bermodalkan ijazah sekolah menengah pertama (SMP) membuatnya merantau ke Berau. Hingga akhirnya ia bertemu dengan salah seorang pemilik panti pijat di kawasan Tanjung Redeb. Mau tidak mau, suka tidak suka pekerjaan melayani pria hidung belang dilakoninya.

"Di kampung sulit dapat kerja, saya juga waktu di sini dikenalkan sama teman, kalau mau kerja lain enggak pernah dapat, apalagi ijazah cuma SMP, orangtua enggak ada yang tahu saya kerja begini demi menghidupi anak," jelasnya. Sebenarnya, Mawar tidak ingin terus-menerus bekerja seperti ini, ia berkeinginan menikah lagi. Meski telah memiliki pacar di Berau, namun Mawar belum yakin pria tersebut dapat membahagiakannya.

"Saya sudah punya pacar di sini, capek juga kerja gini ditambah dosanya lagi," tuturnya. Dalam sehari ia biasa melayani pria 3 hingga 5 orang. Tarif yang dikenakan hanya untuk pijat di tempat tersebut sebesar Rp 120 ribu, dan jika berhubungan intim dikenakan tarif Rp 300 ribu.

Cukup besar yang didapatkan Mawar dari setiap pelanggan, karena yang disetorkan kepada pemilik panti pijat hanya Rp 100 ribu, belum lagi jika ada pelanggan yang berbaik hati untuk memberikan bonus. Bukan berarti Mawar tidak menerima pelayanan keluar. Jika dibawa ke luar oleh tamu maka ia mengenakan tarif Rp 1,2 juta semalam dan yang diberikan kepada pemilik tempat pijat hanya Rp 300 ribu.

"Kalau ngirimi uang ke kampung tidak besar, karena takut dicurigai," ujarnya. Selama di Berau, ia sudah pindah tempat panti pijat dua kali karena di tempat pertama merasa tidak cocok dengan pemiliknya. Cukup lama bekerja sekalipun belum pernah terjaring razia. Para pemilik tempat mesum ini, dikatakan Mawar, dibekingi oleh oknum petugas Satpol PP dan jika ada razia selalu mendapat informasi.

"Yang pertama, saya kerja itu juga punya kenalan jadi aman, termasuk yang sekarang katanya mereka tidak meminta imbalan, yang penting kita baik-baik saja, malahan petugas itu yang menyuruh bos saya buka usaha seperti ini," ungkap Mawar meski tak menyebutkan nama oknum petugas tersebut. Kepala Satpol PP Berau Rumiansyah mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menangkap basah salon yang menjadi tempat prostitusi.

"Kita banyak terima laporan dari masyarakat, tapi pembuktiannya yang sulit," katanya. Diakuinya, sebagian salon yang pernah ditertibkan ada yang beroperasi kembali. Pihaknya berencana akan membahas persoalan ini dan bakal menindak tegas salon yang nakal. "Nanti kami evaluasi lagi," ujar Rumiansyah.

Bagaimana jika oknum petugas Satpol PP menjadi beking salon "plus" maupun panti pijat? Ditanya perihal ini, Rumiansyah menegaskan hal tersebut dapat mencoreng citra instansi yang dipimpinnya. "Nggak benar itu, bisa saja oknum mengaku sebagai petugas, tapi tidak menutup kemungkinan jika ada anak buah saya, sudah jelas itu nggak boleh dan dilarang," tegasnya.(app/fir/kpnn/tom/k15)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.09  

0 komentar:

Poskan Komentar