“Witak: Awalnya Memang Susah - Pos Kupang”

Sabtu, 02 Agustus 2014

“Witak: Awalnya Memang Susah - Pos Kupang”


Witak: Awalnya Memang Susah - Pos Kupang

Posted: 02 Aug 2014 01:55 AM PDT

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- "Usaha penggilingan padi ini sudah cukup lama. Sekitar tahun 1980-an. Awalnya memang  susah, tapi setelah melewati masa itu perlahan-lahan usaha ini mulai membaik. Dan, dari penggilingan padi ini, sekarang saya mau  mengembangkan usaha lain yakni bengkel mebel."

Demikian Stefanus Witak,  pemilik penggilingan padi di Waikomo, Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, ketika ditemui Pos Kupang di tempat usahanya tak jauh dari area persawahan Waikomo, belum lama ini.

Dikatakannya, inspirasi menekuni usaha tersebut ia peroleh ketika merantau di Malaysia tahun 1980-an. Saat itu ia coba beradu nasib untuk memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Semua jenis pekerjaan sempat ia lakukan hingga akhirnya ia mendapat pekerjaan di bengkel otomotif.

Sejak itu, kenangnya, perlahan-lahan ia mulai mengumpulkan ringgit untuk ditukarkan ke rupiah, selanjutnya dikirim kepada orangtuanya di kampung halamannya Ile Ape.

Motivasinya merantau ke negeri jiran itu, tutur Stef, pada hakekatnya untuk mengubah hidup.  Sama seperti perantau lainnya, ia berniat membangun rumah, memenuhi kebutuhan lain serta memberikan  kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintainya.

Ketika mengirim uang buat orangtuanya, tutur Stef, ia juga selalu menitip pesan, agar sisihkan sebagian uang tersebut agar nantinya bisa membeli mesin penggiling padi. Mesin tersebut diyakini menjadi salah satu sandaran ekonomi keluarga.
Impiannya membeli mesin penggiling padi, lanjut dia,  ternyata berbuah kenyataan. Setelah menabung cukup lama, akhirnya uang yang selalu dikirimkan kepada orangtuanya itu menggenapi angka untuk beli satu unit mesin penggiling padi.

Singkat kata, tutur Witak, mesin mol padi pun akhirnya dibeli. Mesin itu saban hari melayani masyarakat. Mulai pagi hingga sore bahkan malam hari, ia terus melayani warga yang datang memanfaatkan jasa penggilingan padi tersebut.

"Setelah dibeli sampai dengan saat ini, saya bersama beberapa anak selalu melayani warga. Mesin penggilingan ini tak pernah sepi. Setiap hari selalu saja ada yang datang menggiling padi," ujar Stef yang juga suka akan dunia otomotif ini.

Ia mengaku, mesin penggilingan tersebut sudah beberapa kali rusak. Namun berkat keterampilannya memperbaiki mesin, akhirnya mesin itu tak lagi onar sampai sekarang. Ia pun tak sungkan-sungkan mengungkapkan rahasia agar mesin tetap awet. Kuncinya adalah perawatan harus selalu dilakukan.
Menurut dia, mesin penggilingan itu tak pernah sepi sepanjang tahun. Pasalnya, permintaan konsumen datang silih berganti. Bila musim panen tiba, baik petani Waikomo maupun sesama saudara dari desa, datang untuk menggiling padi guna
memenuhi kebutuhan keluarga.

Bila hari raya tiba, seperti Paskah, Natal dan Tahun Baru, mesin penggilingan tak pernah berhenti dari pagi sampai malam. Demikian juga saat ada pesta nikah atau sambut baru dan lainnya, mesin selalu siap.

"Sekarang ini saya sedang merintis usaha perbengkelan. Kalau bengkel otomotif, seperti perbaiki sepeda motor,  sudah ada tapi karena saya sibuk di penggilingan, sehingga usaha itu belum jalan. Tapi ke depan, saya juga buka satu bengkel kayu. Tenaganya sudah siap, dari Jepara. Saya minta doa dan dukungan agar usaha ini  berjalan baik," ujarnya. (kro)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.12  

0 komentar:

Poskan Komentar