“Di Sini Raja adalah Pedagang, Bukan Pembeli - KOMPAS.com”

Senin, 03 November 2014

“Di Sini Raja adalah Pedagang, Bukan Pembeli - KOMPAS.com”


Di Sini Raja adalah Pedagang, Bukan Pembeli - KOMPAS.com

Posted: 02 Nov 2014 02:02 PM PST


DEPOK, KOMPAS.com - Pada 2010, Nurcholis Agi (47), membuka tempat usaha jual beli barang bekas yang disebutnya Mall Rongsokan itu di atas lahan seluas 800 meter persegi yang terletak di Jalan Bungur, Kukusan, Beji, Depok. Dia menuturkan kenikmatan berbisnis barang bekas pakai.

"Biasanya kan pembeli adalah raja. Kalau di sini, penjual (Nurcholis) yang jadi raja. Kalau saya suka, ya saya beli. Gitu juga kalau mau jual lagi, harganya terserah saya," kata bapak lima anak tersebut saat ditemui Kompas.com, Minggu (2/11/2014).

Usaha jual beli milik Nurcholis ini buka dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Dalam sehari, tutur Nurcholis, rata-rata ia mendapat penghasilan kotor sekitar Rp 3 juta. Pendapatan sebesar itu ia terima dari sekitar seratus orang yang menjual atau membeli barang bekas di malnya.

Nurcholis menuturkan, semua barang yang ada di malnya tersebut adalah barang bekas, kecuali satu unit kulkas yang ia letakkan di lantai dua. Mal milik Nurcholis tersebut memang dijadikan pula sebagai tempat tinggalnya. Ia, istri, dan anak-anaknya menempati sebagian kecil ruangan di lantai dua.

"Satu-satunya barang baru ya cuma kulkas yang di lantai dua itu. Itu pun belinya saya juga sudah lama," kata Nurcholis.

Ia menuturkan, empat kamera CCTV yang terpasang di malnya itu juga barang bekas. Nurcholis memasang tiga kamera CCTV di lantai satu dan satu kamera lagi di lantai dua.

"Ada orang jual dalam kondisi rusak terus saya perbaiki sendiri. Saya belinya Rp 30.000. Harganya itu kalo di pasaran bisa Rp 400-500 ribu," ujar Nurcholis.

Barang-barang rongsok di mal Nurcholis ditata sebisa mungkin sama dengan tata letak seperti di mal lainnya. Barang-barang elektronik, seperti tape dan radio, ditaruh di rak bertumpuk yang di sepanjang dinding mall hingga dinding mal tak terlihat.

Sementara itu, barang seperti sparepart kendaraan, kabel-kabel, dan mainan plastik, digantung di langit-langit mal hingga sejauh mata menengadah tak terlihat sedikit pun langit-langit mal. Untuk buku-buku, Nurcholis menaruhnya di tengah-tengah mal. Buku-buku ditaruh di rak kayu.

Ada empat rak kayu yang ditata saling berhadapan hingga membentuk ruangan kecil berbentuk segiempat. Semua buku ditumpuk begitu saja tanpa diatur berdasarkan genre-nya. Sementara itu, lantai dua mal lebih diperuntukkan bagi furniture, seperti kursi dan meja.

Berbagai macam kursi, mulai dari kursi plastik sampai kursi sofa ada di situ. Ada pula lemari dan manekin. Agar tampak seperti mal sesungguhnya, Nurcholis memasang karpet di lantai mal yang masih beralas tanah tersebut.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 14.01  

0 komentar:

Poskan Komentar