“KULINER SOLO - Solopos”

Minggu, 16 November 2014

“KULINER SOLO - Solopos”


KULINER SOLO - Solopos

Posted: 16 Nov 2014 01:38 PM PST

Solopos.com, SOLO — Di tengah popularitas mi ayam Solo ataupun mi ayam Boyolali, pengusaha kuliner menawarkan konsep mi tarik di kancah tata boga Solo. Untuk belajar mengolah mi tarik yang dipopulerkan orang Tiongkok itu, pelaku usaha kuliner Solo tak ragu terbang langsung ke negeri asal masakan itu.

Menurut pemilik King's La Mian, Wang Chao Xue, terbang ke Tiongkok itu ia lakukan demi membuat mi tarik atau la mian sesuai dengan versi orisinalnya. Pria yang akrab disapa Willy ini merasa harus terbang ke China untuk merasakan keaslian rasa mi tersebut.

Willy yang hobi makan dan memasak itu harus belajar sekitar dua bulan membuat mi tarik di Negeri Tirai Bambu. Dia belajar langsung membuat mi dari sebuah kedai mi di Cina. "Saya izin untuk membuat menu mi tarik di Indonesia," kata Willy saat ditemui Solopos.com di kedai King's La Mian, pengujung Oktober 2014.

Dia mengatakan untuk kalangan warga Solo, mi tarik memang tergolong baru sehingga belum banyak orang yang kenal.  Menurut Willy, resep mi tarik di King's La Mian rasanya sama dengan yang ada di Cina. Karena itu, dia tetap menggunakan daging sapi sebagai pelengkap karena resep aslinya juga menggunakan daging sapi. Sementara itu,  untuk kuahnya beraroma kaldu sapi serta bumbu-bumbu khas.

Tak heran bila beberapa orang yang pernah berkunjung ke King's La Mian banyak yang berkomentar bahwa rasanya sama dengan yang pernah mereka makan saat berkunjung ke Cina. "Sama sekali tidak ada yang saya ubah resepnya," kata dia.

Kedai King's La Mian yang buka setiap hari kecuali Selasa mulai pukul 10.00-21.30 WIB, ini mematok harga mi tarik dari Rp18.000-Rp27.000 per porsi.  Lain halnya dengan Abdullah, pemilik warung Mi Tarik Mas Doel yang berada di gang sebelah utara RS Kustati Unit II, Solo, ini. Dia mengatakan resep mi tariknya itu banyak dipengaruhi orang keturunan Tiongkok muslim yang banyak tinggal di kawasan Sincia, berbatasan dengan Turki.

Keturunan Tionghoa
Dalam membuat mi tarik, Abdullah belajar dari seorang keturunan Tiongkok yang juga memiliki warung mi tarik di Jakarta Pusat. "Dari kecil saya suka makan mi. Jadi kalau setiap hari bikin dan makan mi,saya tidak masalah karena mi yang saya buat tanpa pengawet dan memakai bumbu berkualitas," ungkap Abdullah.

Awalnya, dia membuat mi berbentuk sebagaimana mi pada umumnya. Namun, Abdullah juga melakukan inovasi dengan membuat mi pipih seperti kwetiaw. Saat disajikan kepada pengunjung, ternyata banyak yang suka. Akhirnya dia pun memasukkan mi tarik pipih buatannya ke daftar menu.

Abdullah juga membuat inovasi dengan memberikan level pedas pada sajian mi tariknya. Dia hanya memakai cabai merah yang terlebih dahulu digoreng dan tanpa diulek. "Level tertinggi ada yang minta cabai hingga 20 butir. Tapi biasanya cabainya disisihkan dan tidak dimakan, karena mi yang dimakan sudah terasa sangat pedas," papar Abdullah.

Mi tarik di warungnya juga dijual cukup terjangkau, mulai dari Rp10.000-Rp15.000 per porsi. Sedangkan bumbu dan rasanya, kata dia, selain dipengaruhi bumbu khas Sincia, juga ada pengaruh dari India dan Pakistan. Namun yang pasti, bila berkunjung ke Mie Tarik Mas Doel, pera pengunjung dapat secara bebas melihat secara langsung pembuatannya.  "Tapi kalau mi tarik yang saya buat tidak ada yang terlalu menonjol ke India atau Pakistan," pungkas dia.

 

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.43  

0 komentar:

Poskan Komentar