“Izin Usaha Karaoke Dipersulit, Warga Eks Dolly Protes - KOMPAS.com”

Jumat, 12 Desember 2014

“Izin Usaha Karaoke Dipersulit, Warga Eks Dolly Protes - KOMPAS.com”


Izin Usaha Karaoke Dipersulit, Warga Eks Dolly Protes - KOMPAS.com

Posted: 12 Dec 2014 04:29 AM PST

SURABAYA, KOMPAS.com — Puluhan warga eks kompleks lokalisasi Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, mendatangi kantor DPRD Kota Surabaya, Jumat (12/12/2014). Mereka protes karena izin usaha rumah karaoke tidak direspons Pemkot Surabaya. Usaha rumah karaoke dipilih karena lebih menjanjikan daripada usaha lainnya yang kini mulai dikembangkan oleh warga eks kompleks lokalisasi Dolly.

"Pasca-penutupan Dolly, sepertinya Pemkot tidak bertanggung jawab. Semua usaha sepi. Akhirnya, kami pilih buka usaha rumah karaoke, tetapi izinnya dipersulit," kata Bambang Sumitro, warga eks Dolly, saat berdialog dengan anggota Komisi D DPRD Surabaya.

Dia menuntut keadilan karena di sejumlah eks kompleks lokalisasi di Surabaya, seperti Moroseneng, Sememi, dan Dupak Bangunsari, saat ini banyak berdiri rumah karaoke.

"Kami minta, Pemkot lebih membuka mata akan nasib kami pasca-penutupan Dolly. Jangan dibiarkan seperti ini," ujarnya.

Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana mengatakan, apa yang terjadi di Putat Jaya saat ini menjadi pertanda bahwa Pemkot Surabaya hanya berhasil menutup Dolly, tetapi gagal dalam meningkatkan kesejahteraan warga.

"Dalam sejumlah laporan warga, diketahui bahwa mereka banyak yang kesulitan mendapatkan modal usaha. Pelatihan keterampilan yang selama ini diselenggarakan Pemkot Surabaya juga sia-sia. Sebab, warga tidak punya modal untuk membuka usaha yang diinginkan," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya Wiwik Widayati yang juga hadir dalam pertemuan itu menjelaskan, usaha rumah karaoke tidak sesuai dengan rancangan tata ruang dan wilayah. Menurut dia, siapa pun berhak untuk membangun dan mengembangkan usaha, tetapi jenisnya juga harus sesuai dengan aturan.

Wiwik menjelaskan, setelah Dolly ditutup, pihaknya memetakan tata ruang kota Putat Jaya. Dari hasil pemetaan itu, diketahui bahwa kawasan ini memiliki beberapa peruntukan. Sebagian diperuntukan untuk jasa dan perdagangan dan sisanya permukiman.

"Izin usaha yang diajukan warga kebanyakan di kawasan permukiman, jadi kami tidak beri izin," jelasnya.

Pihaknya berjanji tidak akan melakukan diskriminasi terhadap semua warga kota dalam membuka usaha, asalkan lokasinya sesuai dengan peruntukan dalam dokumen rancangan tata ruang dan wilayah daerah setempat.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.
Want something else to read? How about 'Grievous Censorship' By The Guardian: Israel, Gaza And The Termination Of Nafeez Ahmed's Blog

Diposkan oleh iwan di 13.35  

0 komentar:

Poskan Komentar