“Wali Kota Tebing Tinggi Buka Klinik Bisnis Gratis bagi UMKM - Jawa Pos”

Jumat, 24 April 2015

“Wali Kota Tebing Tinggi Buka Klinik Bisnis Gratis bagi UMKM - Jawa Pos”


Wali Kota Tebing Tinggi Buka Klinik Bisnis Gratis bagi UMKM - Jawa Pos

Posted: 24 Apr 2015 06:40 AM PDT

DALAM sehari, rata-rata ada 42.198 kendaraan yang melintasi Tebing Tinggi. Biasanya, setelah berkendara selama tiga jam dari Medan, banyak yang singgah di Tebing Tinggi untuk makan atau beristirahat. Tidak heran, banyak restoran berdiri di kota yang dikelilingi perkebunan milik PTPN III dan IV itu.

Kalau setiap mobil berisi empat penumpang, berarti setiap hari ada 170 ribu orang yang melintas. Katakanlah 10 persennya transit, berarti ada 17 ribu orang yang memerlukan pelayanan jasa, terutama makan, di Tebing Tinggi. Bagi Wali Kota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, kondisi itu menjadi peluang yang menggiurkan bagi masyarakat di kota tersebut. "Saya berupaya agar restoran di sini menggunakan bahan pangan dari produksi masyarakat Tebing Tinggi sendiri," kata Umar saat diwawancarai Jawa Pos di rumah dinasnya.

Karena wilayah yang terbatas, hanya 38 km persegi, Tebing Tinggi tidak memiliki areal persawahan dan perkebunan yang luas. Karena itu, Umar mengembangkan urban farming dan budi daya perikanan darat. Ada empat kelurahan yang dijadikan sentra urban farming sayuran organik. Empat kelurahan tersebut adalah Damar Sari, Bandar Utama, Persiakan, dan Satria. "Restoran-restoran di sini memanfaatkan sayuran organik dari tanaman masyarakat," kata mantan kepala Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Utara itu.

Selain sayuran organik, Pemkot Tebing Tinggi mengembangkan budi daya perikanan darat. Pemkot memiliki balai benih ikan air tawar yang menyuplai bibit ikan bagi masyarakat. Umar mengklaim, ikan-ikan air tawar seperti gurami maupun nila yang tersaji di rumah makan di Tebing Tinggi merupakan hasil perikanan setempat.

Pemkot juga menaruh perhatian besar bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Wali kota menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU) Medan untuk membuka klinik bisnis bagi entrepreneur baru. "Kalau Anda buka website klibitebingtinggi.com, akan ada profil 200 perusahaan, baik makanan dan minuman, jasa, kerajinan, maupun perdagangan," kata ketua umum Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Sumatera Utara itu.

Selain itu, Pemkot Tebing Tinggi memberikan advokasi kepada pengusaha kecil yang ingin mengajukan sertifikat halal bagi produknya ke Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut Umar, pemkot akan membantu menguruskan sertifikat halal tersebut sekaligus menanggung seluruh biayanya.

Upaya yang dilakukan Umar di bidang perekonomian itu cukup berhasil. "Setidaknya inflasi di sini hanya 4,1 persen. Jauh di bawah rata-rata nasional," kata pria 59 tahun tersebut.

Di bidang pendidikan, Pemkot Tebing Tinggi memiliki berbagai program andalan. Salah satunya adalah gerakan magrib mengaji. Setiap magrib hingga isya, orang tua wajib mengantar anaknya ke masjid untuk belajar mengaji. Untuk program itu, Umar memberikan insentif Rp 400 ribu per bulan kepada ustad di 100 masjid. "Targetnya, anak-anak SMP di Tebing Tinggi lancar membaca Alquran," kata Umar. Nanti pada 2018, kata Umar, untuk masuk SMP, siswa muslim wajib memiliki sertifikat mengaji dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) yang terdaftar di Kemenag.

Yang paling dibanggakan Umar adalah RSUD dr Kumpulan Pane, Tebing Tinggi. Status rumah sakit di pusat kota itu kini ditingkatkan menjadi RS tipe B edukasi. Luasnya pun tidak kalah dengan RSUD dr Soetomo Surabaya. Bahkan, dari sisi kebersihan, RS tersebut sedikit lebih kinclong. "Kami sedang menyelesaikan pembangunan unit baru untuk 450 bed," kata Umar.

RSUD tersebut juga menjadi tempat rujukan bagi pasien dari kota sekitar, seperti Tanjung Balai, Pematang Siantar, Asahan, Serdang Berdagai, dan Batubara. Fasilitasnya juga cukup memadai.

Bangun Irigasi untuk Sawah Kabupaten Tetangga

TEBING Tinggi merupakan kota langganan banjir. Penyebabnya bukan buruknya drainase kota. Tapi, memang lokasi kota tersebut rawan banjir. Ada lima sungai besar yang mengalir di Tebing Tinggi. Lima sungai itu adalah Sungai Padang, Sibarau, Bahilang, Kelembah, dan Sigiling.

Setiap tahun banjir di kota tersebut bisa merendam 8–10 kelurahan dengan ketinggian air mencapai 1 meter lebih. Karena itulah, Pemkot Tebing Tinggi mengajukan pembangunan irigasi ke pemerintah pusat. Peletakan batu pertama proyek irigasi tersebut dilaksanakan pada November 2014 dan direncanakan selesai 2017. Namanya irigasi Bajayu di Sungai Padang. Bajayu merupakan akronim dari Batak, Jawa, dan Melayu. "Itu adalah suku yang ada di Tebing Tinggi," kata Umar.

Meski yang berjuang untuk membangun irigasi adalah Tebing Tinggi, irigasi Bajayu justru menguntungkan kabupaten tetangga, Serdang Berdagai. Irigasi tersebut mengaliri 7.558 hektare sawah di Serang berdagai. Tidak ada yang mengalir ke Tebing Tinggi. Tapi, Umar justru senang.

"Itu simbiosis mutualisme. Sawah di Serdang Berdagai dapat air. Kami bebas banjir," kata peraih piagam penghargaan akuntabilitas kinerja pemerintah kab/kota se-Indonesia pada 2013 tersebut.

Sambil menunggu proyek irigasi selesai dibangun, pemkot membuat tanggul bronjong di Sei (sungai) Padang dan Bahilang. "Sekarang memang masih banjir, tetapi cepat surut," kata Umar. (c6/tom)

Baca Juga:

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.24  

0 komentar:

Poskan Komentar