“Buka Unit Usaha - Republika Online”

Jumat, 21 Agustus 2015

“Buka Unit Usaha - Republika Online”


Buka Unit Usaha - Republika Online

Posted: 21 Aug 2015 03:59 AM PDT

Memakmurkan masjid tidak hanya menyangkut persoalan bagaimana meramaikan orang yang shalat ke masjid. Tetapi, lebih dari itu, bagaimana masjid juga bisa memakmurkan umat. Sebagaimana masjid menaungi jamaahnya yang mendirikan shalat dan berzikir di dalamnya, sedemikian pula hendaknya peran masjid bisa menaungi umat Islam dari segi ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan politik.

Ada sebahagian masjid yang memang telah sukses menjadi masjid mandiri secana finansial. Tidak hanya itu, masjid-masjid tersebut bisa mengayomi perekonomian umat. Rahasianya tergantung dari antusias, kreativitas, dan profesionalitas pengurus masjidnya. Demikian juga dukungan jamaah dan loyalitas mereka untuk masjid. Sehingga, jadilah masjid-masjid tersebut sebagai sentral kehidupan masyarakat sebagaimana terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

Masjid Sunda Kelapa, misalnya. Dalam setahun, tak kurang dari Rp 7 miliar anggaran belanja masjid yang digelontorkan untuk mengayomi umat. Hal itu mencakup santunan bagi anak yatim dan dhuafa, rumah sehat bagi yang tidak mampu, pembinaan mualaf, kajian rutin dan wirid pengajian, serta berbagai kegiatan sosial lainnya. Mau tidak mau, pengurus masjid harus berpikir produktif tidak hanya mengandalkan infak dan sedekah dari jamaah.

"Prinsipnya, walaupun Masjid Sunda Kelapa adalah masjid pemda, tidak ada anggaran operasionalnya dari APBD. Jadi, kita harus mandiri dari swadaya masyarakat dan unit usaha yang kita jalankan," jelas Sekretaris Takmir Masjid Sunda Kelapa Izuddin kepada Republika, Rabu (19/8).

Sumber dana potensial tak hanya berasal dari kotak infak. Izuddin mengatakan, ada beberapa unit usaha Masjid Sunda Kelapa, seperti penyewaan gedung untuk resepsi pernikahan dan acara-acara formal. Halaman masjid pun dimanfaatkan untuk galeri ATM. Tak hanya itu, lahan parkir pun menjadi bidang yang digarap serius sehingga mendatangkan pemasukan. Bahkan, menara masjid pun disewakan untuk ditempati BTS oleh penyedia jasa telekomunikasi.

"Kami ada bidang-bidang usaha agar pendanaan kami itu lancar. Alhamdulillah, juga didukung partisipasi masyarakat yang cukup besar," ujarnya. Antusias jamaah yang datang ke Masjid Sunda Kelapa sangat besar. Izuddin mencontohkan kantong amal yang dijalankan setiap hari Jumat saja bisa mencapai Rp 20 juta. Demikian juga kotak amal setiap diselenggarakan pengajian tak kurang dari Rp 15 juta. Inilah yang membuat kemandirian masjid dapat terus terjaga.

Izuddin mengatakan, unit usaha sudah termasuk pada pemasukan yang potensial bagi kas masjid. Misalkan saja, penyewaan menara untuk BTS per dua tahun sebesar Rp 2 miliar. "Yang potensial memang dari kotak amal, bisa sampai Rp 2 miliar per tahun. Yang kedua dari bidang usaha. Belum lagi dari ATM, sewa gedung, dan lain sebagainya," katanya memaparkan.

Selain kotak amal, wakaf dan hibah dari jamaah pun terbilang besar. Menurut Izuddin, belum lama ini pengurus masjid baru saja menerima dana hibah sebesar Rp 1 miliar. "Jadi, banyak sekali potensi dari berbagai sektor," ucapnya.

Izuddin mengatakan, ketika masuk ke unit usaha, pengurus masjid menggandeng orang-orang yang memang sudah ahli di bidangnya. Ada beberapa jamaah yang bisa diandalkan untuk membantu unit usaha masjid. Tetapi, tak jarang pula pengurus masjid yang terpaksa menyerahkan sepenuhnya pengelolaan unit usaha pada nonjamaah.

"Kita yang orang masjid ini tentu belum begitu mengerti dunia usaha. Kalau ustaz yang mengelola, risikonya besar. Karena belum mengerti. Menjadi pengusaha dibutuhkan juga keahlian dan mentalnya. Jadi, kita gaet orang-orang lain untuk andil dalam usaha masjid. Jadi, nanti mereka yang mencarikan solusi dari usaha itu," jelasnya.

Izuddin mengaku tak segan untuk menawarkan kerja sama beberapa unit usaha dengan lembaga-lembaga lain. "Misalkan, kita tawarkan kalau ada bank syariah yang ingin buka ATM atau cabang di galeri masjid kita," jelasnya.

Jika memang ada usaha yang macet, Izuddin tak terlalu khawatir. Menurutnya, hal itu hal wajar dalam dunia wirausaha. Masjid Sunda Kelapa sendiri pun pernah salah satu unit usahanya gulung tikar. Namun, pengurus memahami, yang namanya untung dan rugi pasti ada dalam menjalankan dunia usaha. "Dulu Sunda Kelapa pernah punya BMT (baitul mal wa tamwil). Di sana ada simpan-pinjamnya. Akhirnya bangkrut karena orang yang minjam tidak bisa mengembalikan pinjamannya," jelasnya.

Ketua Masjid Agung Al Azhar Dr Shabahussurur menambahkan, sudah tidak zamannya lagi jika operasional masjid dibebankan kepada jamaah. Harusnya, unit-unit usaha yang dikelola masjid bisa mendanai operasional dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan.

"Masjid harus bisa mandiri, jangan menggantungkan diri pada jamaahnya. Masjid itu milik umat sehingga hidup matinya dipikirkan umat. Masjid Al Azhar berupaya untuk itu agar tidak bergantung pada pihak luar dalam hal bantuan."

"Ada usaha riil di lapangan, seperti parkir, penitipan sandal dan sepatu, BMT, APU, Wakaf Al-Azhar. Aula Buya Hamka juga disewakan. Income-nya lumayan besar karena digunakan untuk pesta pernikahan. Ada lagi ekspo, yaitu pameran-pameran dan bazar. Itu ada unsur bisnisnya," kata Shabahussurur memaparkan kepada Republika, Rabu (19/8).

Bahkan, pengurus Masjid Al Azhar bercita-cita sangat serius mengembangkan unit usaha masjid. "Kita ingin juga membuat pemondokan, hotel, bidang perkebunan, bidang transportasi, travel haji umrah, dan lain sebagainya," jelas Shabahussurur. "Intinya, Masjid Al Azhar bisa membuat kegiatan-kegiatan ekonomi," katanya menambahkan. n ed: hafidz muftisany

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 13.08  

0 komentar:

Poskan Komentar